alfabet-alpha.com Mari Berjejaring Dan Saling Menguatkan LPMM ALPHA

Menatap Jendela Pendidikan Zaman Now


Oleh : Fikri Abdi Putra

Pendidikan merupakan salah satu hal fundamental dalam kehidupan sehari-hari.  Pendidikan merupakan akar perubahan suatu bangsa. Pendidikan dapat melihat bagaimana masa depan suatu bangsa. Pendidikan zaman dahulu dengan pendidikan zaman sekarang berbeda. Pendidikan mengubah pandangan atau pemikiran generasi mendatang. Pendidikan zaman sekarang atau lebih dikenal dengan pendidikan zaman now menurutku mengalami kemunduran. Kemunduran ini mungkin disebabkan oleh perkembangan zaman atau mereka dewasa terlalu dini. Gadget tumbuh subur seperti layaknya jamur menjamur terus menerus atau mungkin mudahnya orang tua memanjakan anak dengan menuruti semua keinginan anaknya. Keinginan tersebut mungkin belum saatnya memiliki gadget, namun orang tua dengan dalih kasihan mengabulkannya. Peristiwa tersebut seperti pisau. Pisau merupakan alat yang bagus untuk memotong, namun jika diberikan kepada anak yang belum saatnya maka pisau menjadi sesuatu yang membahayakan. Peristiwa tersebut sama dengan telepon seluler atau Handphone merupakan sebuah alat komunikasi untuk mempererat hubungan, namun jika diberikan kepada anak yang belum saatnya maka Handphone  tersebut bisa membahayakan. Handphone dimana semua akses internet bisa masuk tanpa disaring atau difilter. Hal tersebut menjadi tantangan bagi zaman now. Pendidikan karakter itu merupakan suatu hal yang fundamental dimiliki oleh semua insan.
Pendidikan Indonesia zaman dahulu ketika kita nakal mungkin akan dicubit oleh guru misal ketika ada anak laki-laki yang nakal dicubit dibagian dada hingga membiru. Anak itu diam dan gak berani melawan mungkin hanya bilang kepada orangtuanya. Reaksi orang tua melihat dada yang biru tersebut cuman tanya kenapa?. Reaksi orangtua cuman bilang syukurrr....!!! atau kapokkk.....!.Kalau kamu gak nakal gak mungkin seperti itu. Jika hukumannya lebih berat mungkin dipukul rotan hingga memar dan lagi-lagi jawaban orangtua tetap sama. Hukuman yang didapat mungkin cuman menulis satu buku atau 100 lembar “Saya tidak akan mengulangi kesalahan lagi”. Kita lihat atau telisik pendidikan zaman now jika suatu murid mengalami kesalahan maka yang langsung di vonis gurunya yang salah tanpa melihat dari sisi yang lain. Esok hari mendatangi gurunya dan melaporkan ke polisi. Miriss sekali !!!.
Pendidikan yang seharusnya menjadi cermin peradaban menjadi sebuah cermin buruk tanda kerusakan bangsa. Zaman now pendidikan bukan malah maju malah mengalami kemunduran dari sisi moral serta etika. Berita kemarin bobroknya pendidikan dibuktikan dengan kematian seorang guru. Murid yang jelas salah cuman dijewer tapi balasannya menanduk. Apakah tokoh bangsa Indonesia dulu menciptakan pendidikan untuk berbuat kriminal?. Pendidikan zaman dahulu cuman menjadi historia yang dilupakan. Etika dihilangkan moral diperdagangkan. Nasib bangsa mau kemana?. Kewibawaan bangsa diperoleh dari etika, nilai serta moral sebuah generasi penerus. Generasi penerus saja seperti itu, mau ditaruh mana muka Indonesia. Pendidikan yang seharusnya menjadi mercusuar malah menjadi goa hitam pekat tanpa cahaya. Zaman now dengan kebebasannya sudah melampaui batas. Anak-anak muda seks bebas, narkoba, dan perilaku menyimpang lainnya. Parahnya zaman now muncul istilah LGBT atau kaum pelangi. Pendidikan seperti apa yang mereka dapat?. Pendidikan karakter nasionalis dan agama harus digencarkan dan ditekankan. Agama merupakan fundamentalis membentuk kepribadian suatu jiwa. Pendidikan agamanya hanya sebagai pelengkap sebuah kurikulum maka jangan salahkan  moral, etika, serta nilai juga bernilai nol. Perubahan pendidikan perlu ditingkatkan dengan perkembangan internet yang semakin gencar- gencarnya. Internet tak peduli yang positif maupun negatif. Anak-anak kita tidak punya sebuah filter (penyaring) hal tersebut. Mereka terhanyutkan oleh arus tak tahu arah, pendidikan tidak membahas hal tersebut.
Pendidikan bukan hanya soal membaca sehingga membuat menjadi pintar. Banyak orang pintar disana tidak punya moral dan etika. Pendidikan moral harus dan wajib diberikan sejak dini yang saat ini mulai terkikis oleh pengaruh teknologi. Pendidikan moral mahasiswa juga tetap diberikan karena dengan mahasiswa sebagai agent of change bisa membuat gebrakan. Dosen menganggap mahasiswa sudah tahu etika dan moral. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Mahasiswa sekarang otaknya terkoneksi perkembangan teknologi. Mahasiswa dulu mendapatkan pendidikan etika serta moral yang cukup sebab orang tua dulu mengajarkannya serta sekolah mengedepankan tata krama. Orang tua zaman now mereka sibuk dengan gadget dan main sosial media. Mereka seakan tidak tahu serta membiarkan anaknya larut dengan ganasnya perkembangan teknologi. 
Orang tua zaman now memanjakan anaknya secara berlebihan, masih TK sudah dibekali gadget dengan dalih kasihan. Mereka tidak mengontrol kegiatan anaknya. Dalih kasihan orangtuanya membuat lubang pemerosotan pendidikan moral dan etika karena pengaruh teknologi. Teknologi membuat semua mudah dengan mengetik ataupun berbicara langsung menemukan kata ataupun hal tersebut. Anak-anak tersebut tidak tahu itu baik ataupun buruk.
Pendidikan bukan hanya sebatas di Sekolah. Pendidikan yang hakiki terdapat bagaimana orangtua itu di rumah dan mengajarkan apa?
Pendidikan zaman now harus beriringan antara orang tua dan guru karena mereka terjebak di arus teknologi. Mereka saling koneksi dan survive, maka pendidikan kehidupan mereka sukse. Mereka tidak saling koneksi dan survive, maka mereka harus menanggung kegagalan pendidikan kehidupan terlebih orang tua. Pendidikan merupakan hal sakral dalam kehidupan. Logikanya pendidikan di rumah lebih ditekankan dengan akhlak dan tutur kata orang tua daripada di sekolah. Orang tua hanya mendidikan anak hingga 2-4 anak, sedangkan guru mendidikan puluhan mungkin ratusan anak. Peran orang tua tersebut membentuk karakter kepribadian anak. Pendidikan zaman now sungguh miris karena banyak generasi zaman now tidak mengenal pahlawan mereka. Apakah generasi zaman now tahu Pangeran Diponegoro, Cut Nya Dien, Kapitan Pattimura, Ki Hajar Dewantara?. Itu merupakan sebagian kecil daripada mereka.Mereka hanya mengenal sedikit. Bagi generasi zaman now yang muslim. Apakah mereka mengetahui Umar bin Khattab, Ikrimah bin Abu Jahal, Khalid bin Walid, ataupun Muhammad Sallahu Alaiii Wassalam?. Mereka tidak tahu itu ataupun tahu hanya sedikit. Mereka zaman now mungkin tidak tahu Perang Khandaq, Badar atau peristiwa fenomenal nyata tentang Penaklukan Konstatinopel. Itu hanya sebagian kecil dari sejarah. Lalu pertanyaannya pendidikan mereka terutama sejarah sudah sampai mana?. Saya pernah menemukan di sosial media soal ujian tentang sinetron di televisi atau nyanyian. Hal tersebut membuat miris atau  soal tentang cinta-cinta  untuk anak SD. Pendidikan zaman now perlu peningkatan khusus disektor sejarah, agama, moral, etika maupun nilai perjuangan dulu. Pendidikan zaman now yang perlu dibenahi adalah moralnya dan pergantian kurikulum.

Pendidikan laksana cahaya yang menuntun sebuah kapal mengarungi samudera luas. Pendidikan bukan hanya sebuah kegiatan, namun lebih dari itu. Pendidikan merupakan media untuk merubah sebuah keterpurukan dan agama serta moral adalah senjatanya.
Perubahan suatu bangsa bukan dimulai dengan kecanggihan teknologinya, namun perubahan suatu bangsa ditentukan oleh karakter pendidikan bangsa tersebut.

Perkembangan Pendidikan di Indonesia Kualitas atau Kuantitas?

Oleh :Muhammad Yudistira Taslim

Dewasa ini, pendidikan menjadi salah satu isu yang hangat diperbincangkan, baik dari segi kebijakan, mutu, pelayanan, hingga pemerataan pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Berdasarkan pengertian diatas, pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia. Hak untuk memperoleh pendidikan ini, telah diatur dan dijamin oleh negara melalui Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Dimana dalam Pasal 28 C Ayat (1) menyatakan bahwa, Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak memperoleh pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”
Selain itu, dalam Pasal 31 ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar, sedangkan pemerintah wajib membiayainya. Pasal 31 ayat (3) dan (4) menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban dan tanggungjawab untuk mengusahakan penyelenggaraan pengajaran nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memprioritaskan anggaran sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Sejak diberlakukannya program wajib belajar sembilan tahun, pendidikan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat, baik dari segi tingkat partisipasi peserta didik, kurikulum, hingga ketersediaan sarana dan prasarana yang memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar.  Muhadjir (2017) mengungkapkan angka partisipasi untuk sekolah dasar sudah lebih dari 100%, tingkat putus sekolah sudah turun juga menjadi 0,26%, dan tingkat melek huruf di kalangan muda telah mencapai hampir 100%. Namun, peningkatan yang telah dicapai tersebut hanyalah sebatas kuantitas, sedangkan untuk kualitas atau mutu pendidikan di Indonesia dapat dikatakan masih rendah.    Professor Andrew Rosser (2017) dari Universitas Melbourne  dalam acara bernama Lowy Institute di NGV, memaparkan bahwa selama   melakukan penelitian mengenai pembangunan di Indonesia, kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya dibandingkan dengan negara-negara di kawasan yang sama, tidaklah menunjukkan perbaikan. Ia merujuk pada sebuah pengukuran kinerja pendidikan internasional, atau PISA, dengan melihat kualitas pendidikan di bidang sains, matematika, dan membaca.
Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini masih banyak penyelenggara pendidikan yang hanya terfokus pada kuantitas untuk mengejar target jumlah siswa, tanpa menyadari bahwa yang menjadi permasalahan dalam dunia pendidikan kita saat ini adalah terkait dengan kualitas atau mutu pendidikannya. Suatu pendidikan dapat dikatakan berkualitas jika output yang dihasilkan telah memenuhi beberapa kriteria, yang diantaranya yaitu menurunnya tingkat pengangguran, menurunnya tingkat kesenjangan sosial, serta  yang tidak kalah penting adalah meningkatnya partisipasi pelajar dalam kegiatan ilmiah, seperti publikasi jurnal ilmiah, penelitian ilmiah, serta meningkatnya nilai moral dan sikap toleransi  para pelajar. Namun, kualitas pendidikan kita masih cukup jauh untuk dapat memenuhi kriteria di atas, disebabkan beberapa permasalahan klasik yang sudah  sejak lama terjadi. Sebagai contoh, tingkat partisipasi pelajar dalam kegiatan ilmiah di Indonesia masih terbilang rendah, hal ini disebabkan oleh rendahnya minat baca para pelajar yang nantinya akan berimbas pada rendahnya pemahaman terhadap materi pelajaran serta keampuan literasi pelajar. Yang kedua adalah rendahnya kualitas pengajar. Ketika kita membicarakan mengenai kualitas pendidikan, maka yang sangat berpengaruh dan berperan penting adalah kualitas tenaga pendidik, tinggi rendahnya kualitas tenaga pendidik ditentukan oleh seberapa banyak pengalaman dan inovasi yang dimiliki oleh pengajar untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam proses pebelajaran secara efektif dan kreatif. Namun ironisnya, kesejahteraan tenaga pendidik khususnya guru honorer sangat rendah, mereka hanya mendapat gaji dibawah upah minimum, sehingga hal inilah yang dapat menyebabkan mereka tidak dapat memenuhi kualitas pengajaran secara optimal sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, disamping itu rasio antara guru dengan murid juga masih cukup tinggi khususnya di wilayah pulau jawa. Yang ketiga masih adanya pemikiran bahwa pendidikan hanyalah sebatas formalitas dan untuk memenuhi gengsi semata. Nah, mindset seperti inilah yang harus kita benahi, karena fungsi adanya pendidikan itu sendiri adalah merubah pola pikir primitif menjadi sebuah cara berpikir yang logis,sistematis, berkepribadian serta dapat dipertanggungjawabkan.   
Hal lain yang membuat kita miris adalah semakin menurunnya nilai moral dan sikap toleransi yang dimiliki oleh peserta didik. Pengaruh globalisasi dan semakin canggihnya teknologi seakan mempermudah akses terhadap berbagai macam informasi termasuk informasi yang bermuatan negatif seperti konten pornografi, konten kekerasan, hingga konten beruatan radikal. Hal tersebutlah yang kemudian mempengaruhi perilaku pelajar saat ini menjadi lebih apatis, berprilaku bebas tanpa adanya kontrol, suka melawan dan tidak menghormati guru yang seharusnya digugu dan ditiru. Masih hangat di ingatan kita, bahwa beberapa saat yang lalu ada sebuah peristiwa dimana seorang murid dengan tega menganiaya gurunya hingga tewas. Disaat yang sama, viral sebuah video yang memperlihatkan seorang siswa berani menantang dan meneriaki gurunya yang tengah menyampaikan pelajaran, hingga tawuran antar pelajar dan dan penggunaan obat-obatan terlarang. Disamping itu, sikap toleran pelajar juga cenderung menurun. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya kasus bulliying yang terjadi di lingkungan sekolah maupun kampus, tingginya tingkat diskrimnasi terhadap pelajar berkebutuhan khusus dilingkungan sekoah normal, banyak siswa dan masyarakat yang masih menganggap anak berkebutuhan sebagai beban sosial, dan menganggapnya sebelah mata, sehingga dapat dikatakan bahwa saat ini pendidikan inklusi hanya sebatas retorika belaka.
Sebagai bagian dari masyarakat, seharusnya kita mengupayakan bagaimana supaya pendidikan kita tidak hanya mengalami peningkatan dari segi kuantitasnya saja, akan tetapi juga meningkat dari segi kualitasnya. Hal yang dapat kita lakukan yang paling mendasar adalah dengan mengubah pola pikir kita bahwa pendidikan tidak berkedudukan sebagai pemuas gengsi atau formalitas belaka, akan tetapi sebagai sesuatu hal berharga yang perlu diperjuangkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Peningkatan kesejahteraan dan kualifikasi tenaga pendidik khususnya guru honorer. Penanaman karakter dan nilai moral sejak dini di kalangan pelajar, yang tentunya tidak hanya sebatas teori di kelas akan tetapi juga diamalkan dan dipraktikkan di  lingkungan sekoah dalam bentuk tindakan nyata, sehingga diharapkan para pelajar dapat menjadi pribadi yang berakhlakul karimah, menghormati guru dan sesama, serta memiiki sikap toleran dan tidak mudah terpengaruh oleh dampak negatif gobaisasi. Memberlakukan metode pembelajaran inovatif berbasis perpustakaan yang dikemas secara kreatif sehingga diharapkan tingkat minat baca dan kemampuan literasi pelajar dapat tumbuh dan berkembang. Dengan demikian kualitas pendidikan di Indonesia diharapkan dapat meningkat, sehingga program NAWACITA presiden beserta SDG’s 2030 khususnya dibidang pendidikandapat tercapai

Krisis Moral Calon Penerus Bangsa


Oleh : Joko Supriyanto 

Anak adalah anugerah terindah dari Tuhan YME kepada setiap orang tua. Anak merupakan bakal dari berlian yang apabila diolah dengan proses yang baik dan benar akan menghasilkan berlian yang berkilau dan bernilai tinggi. Ketika seorang anak terlahir di dunia, mereka seketika langsungharus memikul beberapa atau bahkan  banyak harapan dari orang tua dan bahkan bangsa ini untuk menjadi anak yang berbudi pekerti luhur yang mampu meneruskan cita-cita orang tua dan pendiri bangsa ini.
Anak terlahir seperti selembar kertas putih yang masih bersih belum terdapat setitik goresanpun di atasnya. Kertas tersebut akan menjadi apa kedepannya tergantung pada apa yang bakal digoreskan di atasnya. Untuk itu apabila kita menginginkan seorang anak menjadi generasi penerus bangsa yang berbudi pekerti luhur maka harus kita goreskan tulisan-tulisan indah pada diri mereka dengan pendidikan yang baik.
Dahulu Indonesia dikenal sebagai negara yang ramah, berpenduduk penuh etika dan sopan santun. Masyarakat masih menjunjung tinggi tata krama dalam pergaulan sebagaimana anak bersikap kepada orang yang lebih tua maupun hubungan antar teman. Namun seiring laju perkembangan zaman dan perubahan cepat dalam teknologi informasi telah merubah sebagian besar masyarakat dunia terutama anak. Sebagaimana telah diketahui dengan adanya kemajuan informasi di satu sisi anak merasa diuntungkan dengan adanya media yang membahas seputar masalah dan kebutuhan mereka. Dengan adanya hal tersebut, media telah menyumbang peran besar dalam pembentukan budaya dan gaya hidup yang akan mempengaruhi moral para calon penerus bangsa. Namun sebagian besar media ini membawa dampak negatif khususnya bagi anak remaja yang notabenenya lebih banyak menggunakan. Berbagai masalah yang muncul tak terkendali, generasi muda terpelajar baik pelajar maupun mahasiswa harapan bangsa tawuran antara sesama bagaikan lawan yang abadi. Selain itu banyak anak-anak yang belum cukup umur berani untuk melakukan sex bebas. Mereka melakukan hal tersebut tanpa malu dan tanpa takut akan akibat negatif yang akan mereka terima dikemudian hari. Contoh yang paling sederhana dari merosotnya moral anak bangsa adalah mereka yang baru menginjak pendidikan sekolah dasar (SD) sudah berani menghisap rokok. Dahulu rokok hanya boleh dihisap oleh orang-orang dewasa, namun sekarang hal tersebut sudah berubah seratus delapan puluh derajat dimana anak-anak yang belum cukup umurpun sudah terbiasa menghisap rokok. Apabila hal tersebut terus dibiarkan, tidak dapat dipungkiri mereka para calon penerus bangsa akan semakin terpuruk moralnya dengan seiring semakin majuanya teknologi informasi yang akan memberikan dampak negatif pada kehidupan anak muda apabila kemajuan teknologi tidak dapat dimanfaatkan dengan baik untuk hal-hal positif. Dari beberapa contoh tersebut muncul beberapa pertanyaan yang menarik bagi saya, yaitu apa sih penyebab dari semakin menurunnya moral para calon penerus bangsa ini? Lalu bagaimana caranya untuk mengurangi atau mengatasi krisis moral yang melanda para calon penerus bangsa ini?
Melihat fenomena yang terjadi pada kalangan anak muda saat ini, menurut saya krisis moral yang melanda calon penerus bangsa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah kurangnya pendidikan karakter dan moral yang diberikan oleh orang tua maupun lembaga pendidikan di negeri ini. Di zaman yang moderen ini, orang tua cenderung memilih pendidikan yang berkiblat ke negara barat dimana kultur pendidikan barat yang lebih mementingkan kecerdasan otak tanpa diiringi kecerdasan moral. Orang tua zaman sekarang lebih bangga melihat anaknya menempuh pendidikan di sekolah yang belabel internasional daripada sekolah yang berlabel keagamaan seperti pondok pesantren. Padahal kalau kita lihat lebih jauh ke belakang, pendidikan yang berlabel keagamaan mampu menghasilkan anak-anak bangsa yang cerdas serta memiliki moral yang baik. Hal lain yang menyebabkan krisis moral pada pemuda harapan bangsa adalah semakin maju dan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak dapat dimanfaatkan dengan bijak akan membawa dampak negatif pada moral anak bangsa. Selain dua hal tersebut masih banyak faktor lain yang menyebabkan krisis moral, seperti faktor keluarga. Keluarga merupakan agen sosial pertama dan utama yang mengenalkan nilai-nilai sosial dan kebudayaan pada anak. Dengan demikian orang tua mempunyai peranan penting dalam mendidik anak, jika orang tua benar dan sungguh-sungguh dengan ikhlas maka akan menghasilkan anak yang sopan dan patuh. Namun, melihat perkembangan zaman sekarang banyak orang tua yang lebih mengedepankan kepentingan pekerjaan daripada kepentingan anak, sehingga banyak remaja yang kurang perhatian dan merasa bebas mengatur jalan hidupnya sendiri. Pengaruh lingkungan sekolah juga menjadi salah satu faktor penyebab krisis moral,  hal itu disebakan oleh kurangnya perhatian dari pihak guru dan sekolah, lemahnya peraturan sekolah dan terlalu bebasnya pergaulan mereka di sekolah. Selain lingkungan sekolah dan keluarga, lingkungan pergaulan juga menjadi faktor krisis moral remaja. Seseorang yang bergaul dengan teman-teman yang berperilaku buruk, maka lama kelamaan dia juga akan terseret ke dalamnya.
Krisis moral yang melanda remaja Indonesia telah terbukti oleh penelitian Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN) M Masri Muadz bahwa 63% remaja usia SMP SMA di 33 propinsi di Indonesia telah mengalami krisis moral. Ini sangat memalukan bagi masyarakat Indonesia yang terkenal kental dengan adat ketimuran. Sangat ironis memang, karena krisis moral ini telah meluas ke individu remaja masing-masing yang seharusnya menjadi penerus bangsa Indonesia ini. Jika para remaja terus mengalami krisis moral, maka akan membawa  dampak negatif terhadap dirinya sendiri, seperti: masa depan yang tidak jelas, dijauhi teman-teman, kemiskinan mental, ketidakharmonisan dalam keluarga, dan lain-lain. Untuk itu pencegahan harus segera dilakukan untuk mengurangi krisis moral pada anak bangsa. Lalu hal apa saja yang  dapat dilakukan untuk mengatsi permasalahan krsisis moral yang ,melanda anak bangsa.
Menurut pemikiran saya hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan di atas yang pertama yaitu dari keluarga. Orang tua harus memberikan perhatian lebih pada anak dengan mengajarkan pentingnya moral seperti bersikap sopan santun pada orang yang lebih tua. Selain itu mengajarkan anak untuk mengarhagai orang lain dengan tidak memaksakan kehendak pribadi. Mengajarkan nilai-nilai agama pada anak termasuk salah satu hal yang efektif untuk membentuk moral baik anak. Apabila keimanan dan ketaqwaan mereka bagus, moral baik dapat dipastikan akan melekat pada diri mereka. Setelah keluarga, lingkungan belajar seperti sekolah juga dapat melakukan hal-hal yang dapat  mencegah krisis moral anak bangsa. Pendidikan selayaknya tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu sains dan sosial melainkan juga harus mengajarkan pendidikan karakter untuk membentuk anak bangsa yang bermoral baik. Pemerintah selaku pemangku kebijakan di negeri ini seharusnya mengeluarkan kebijakan pada sistem pendidikan untuk memasukkan kurikulum tentang pendidikan karakter pada kurikulum pendidikan indonesia. Apabila semua pihak mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah mampu bersinergi dalam pembentukan karakter anak bangsa, maka dapat diyakini krisis moral yang melanda para calon penerus bangsa ini akan dapat ditanggulangi dan anak-anak bangsa yang cerdas serta bermoral baik akan tumbuh dengan sendirinya  seiring berjalannya waktu. Semoga krisis moral yang melanda anak bangsa ini segera dapat teratasi dan cita-cita serta harapan para pendiri bangsa ini untuk melihat bangsa ini maju dan bermoral baik dapat terwujud.   

Pena Cekrek - Cekrek

Oleh : Rosiqoh Nur’aini

Ikatlah ilmu dengan tulisan. Begitulah perkataan orang bijak. Ilmu bagaikan buruan dan menulis adalah pengikatnya, maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Pena sebagai alat untuk menulis, seiring perkembangan jaman mulai tergantikan perannya. Jika dulu, ruang kuliah diiringi oleh suara dari lembaran kertas yang beradu dengan pena. Sekarang, suara tersebut semakin jarang terdengar. Ruang kuliah masa kini lebih didominasi dengan suara “cekrek-cekrek” ataupun irama tuts keyboard laptop dan smartphone yang beradu dengan jari.
Materi kuliah yang tersorot melalui proyektor atau tertulis di papan tulis akan membutuhkan waktu lebih lama jika ditulis menggunakan pena. Simpan saja di smartphone dan buka nanti saat akan ujian. Begitu mungkin way of thinking dari mahasiswa zaman now. Serba instan, kata yang tepat untuk disematkan kepada generasi milenial. Tak usah pakai cara yang ribet kalau ada yang simpel. Sayang kalau teknologi tidak dipakai kan?
Kemajuan teknologi memudahkan manusia dalam berbagai lini kehidupan. Memang, sejatinya teknologi lahir dan berkembang untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Salah satunya di bidang pendidikan. Teknologi menjadi salah satu faktor pendukung dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Pendidik dimudahkan untuk menyampaikan materi. Proses belajar mengajar menjadi lebih efisien dan efektif.
Mayoritas pernyataan tentang kemudahan yang diberikan teknologi dalam bidang pendidikan, tetap harus kita kaji kembali. Sistem mana yang perlu pengaplikasian teknologi dan mana yang lebih bijak untuk mempertahankan cara manual sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan proyektor, kuliah online, materi berbentuk file, buku panduan berbasis e-book, dan hal lain dalam proses belajar mengajar yang berbasis teknologi.
Materi yang tidak tercetak memang lebih ekonomis dan praktis untuk dibawa. Tinggal sorotkan lewat proyektor, beri sedikit penjelasan, dan akhiri dengan tugas. Mahasiswa yang kalut karena tampilan slide yang banyak tak memungkinkan untuk ditulis, akhirnya berinisiatif untuk memfoto slide demi slide yang terpampang. Praktis, hanya dengan membawa smartphone atau laptop, kertas dan pena tak diperlukan lagi.
Dalam kasus yang lain, laptop menjadi barang yang sangat penting. Sebuah kuliah  diawali dengan sedikit penjelasan kemudian dihabiskan dengan tugas yang mengharuskan untuk dikerjakan menggunakan laptop. Mengetik, meresume materi, membuat presentasi, membrowsing materi, dan lain sebagainya. Benda persegi panjang tersebut merupakan perpaduan dari pena dan kertas dalam bentuk yang lebih modern.
Menulis telah menjadi mengetik dalam bentuknya yang lebih sederhana dan maju. Sejatinya sama saja, perbedaan hanya terletak pada media yang digunakan. Namun, apakah dalam bentuknya yang sekarang, mengetik lebih efisien dan efektif dari menulis?  
Para peneliti di Universitas Princeton dan Universitas California di Los Angeles menemukan, ketimbang mereka yang mengetik, orang-orang yang menulis tangan mampu menangkap pelajaran lebih baik, menyimpan informasi lebih lama, dan lebih mudah memahami ide-ide baru. “Menulis tangan membuat fungsi otak yang berkaitan dengan kemampuan belajar menjadi lebih tajam ketimbang saat mengetik.” Kata psikolog pendidikan Kenneth Kiewra di University of Nebraska di Lincoln, yang mempelajari perbedaan dalam menulis dan pengaturan informasi.
Selain itu, psikolog kognitif Michael Friedman di Harvard University juga mengatakan bahwa “Menulis tangan adalah proses yang cukup dinamis. Anda memproses ulang apa yang anda dengar dalam pikiran anda”. Lebih lanjut, para peneliti di Washington University di St Louis dalam jurnal Educational Psychology menemukan, mahasiswa yang mencatat dengan tulisan tangan dapat mengingat pelajaran kuliah lebih lama ketimbang mahasiswa yang mencatat menggunakan keyboard. Menurut para peneliti, menulis dengan tangan membuat otak lebih terorganisir dalam merekam memori, sehingga ingatan tentang materi yang ditulis menjadi lebih lama.
Dalam tiga percobaan selama 2014, psikolog Pam A. Mueller dari Princeton dan Daniel Oppenheimer dari UCLA pernah menguji 67 siswa saat menulis materi baik melalui keyboard atau pena. Lalu, para siswa diuji tentang materi tersebut seminggu kemudian setelah diberikan kesempatan untuk meninjau catatan mereka. Hasilnya, siswa yang menulis tangan menggunakan kata-kata yang lebih sedikit pada catatan mereka, tetapi cenderung berpikir lebih intens tentang materi yang mereka tulis, dan lebih mencernanya dengan teliti, kata peneliti Psychological Science. Sehingga dari hal tersebut, Dr. Oppenheimer menyatakan bahwa “Menulis tangan membantu anda belajar”.
Beberapa penelitian di atas menunjukkan bahwa menulis memiliki kadar keefisienan dan keefektifan yang lebih tinggi untuk membantu siswa dalam belajar dibanding dengan mengetik. Mengetik kurang memberikan ingatan pada materi dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu, juga kurang dalam melatih berpikir secara kritis dan teliti. Materi hasil ketikan yang tersimpan dalam smartphone maupun laptop juga dapat hilang dalam sekali sentuhan “klik” kalau tak berhati-hati.
Sekai lagi, segala kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi harus dikaji dan digunakan secara bijak. Teknologi hanya memudahkan kita, bukan menjadikan ketergantungan. Ada beberapa hal yang memang harus kita kerjakan secara manual, dan ada beberapa yang dapat diaplikasikan dengan teknologi. Manual, meski memakan waktu yang lebih lama dan tenaga yang lebih besar, namun itulah yang dinamakan proses. Sejatinya, kata instan yang lekat dengan generasi milenial adalah sebuah ironi. Karena tak ada yang benar-benar instan dalam hidup, mie instan saja perlu proses untuk memasak. Maka, dalam mencari ilmu, sebenarnya proses tersebut yang harusnya kita nikmati. Seperti filosofi makan, bukan saat kenyanglah kita merasakan nikmat, tapi saat proses makan itulah kita merasakan nikmat yang sebenarnya.

Copyright © 2013 LPMM ALPHA and Blogger Themes.