alfabet-alpha.com Mari Berjejaring Dan Saling Menguatkan LPMM ALPHA

Penggantian Warna Cat Dinding FMIPA

Perubahan warna gedung di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember menimbulkan banyak opini mahasiswa. Pasalnya, warna cat dinding yang sebelumnya masih terlihat baru dan masih bagus kini dicat ulang. Warna dinding yang sebelumnya yaitu warna kuning-hijau yang baru diperbarui pada akhir tahun 2014 lalu kini diganti dengan warna abu-abu. 
Menurut Kasubag Umum dan Perlengkapan FMIPA, pengecetan ulang ini dilakukan atas perintah dari kantor pusat (rektorat) Universitas Jember. Begitu juga dengan  dana yang digunakan untuk mengecet adalah dana dari Universitas, pihak fakultas hanya melaksanakannya saja. Untuk pemilihan warna sendiri, pihak fakultas diberikan beberapa pilihan warna. Sampai berita ini diturunkan, proses pengecetan masih berlangsung sampai gedung dekanat dan gedung Fisika.[]
Shofitri-Alpha






 
ALPHA- Proses pengecetan di gedung fisika dan gedung dekanat FMIPA
Doc. Silvia

KAMPUS SIAGA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR MELALUI STNK





Alpha - Mahasiswa yang keluar dari parkiran MIPA
(Doc.Nurul)

Ada yang sedikit berbeda dari wajah tempat parkir di Fakultas MIPA. Setiap mahasiswa yang akan keluar parkiran dengan menggunakan sepeda motor harus menunjukkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Tidak hanya di Fakultas MIPA, hal ini juga diberlakukan untuk semua fakultas di Universitas Jember. Hal tersebut berdasarkan surat perintah yang dikeluarkan oleh Wakil Rektor 2 Universitas Jember dan Dekan Fakultas mengenai pemberlakuan penunjukan STNK setiap akan keluar dari parkir sepeda motor. Tidak hanya mahasiswa, dosenpun juga harus menunjukkan STNKnya.
Adanya perintah dari wakil rektor tersebut dikarenakan beberapa hari lalu di daerah kampus terutama Universitas Jember telah terjadi pencurian sepeda motor di beberapa fakultas. Yakni Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan , Fakultas Pertanian, dan Fakultas Farmasi. Total sepeda motor yang hilang ada delapan buah dan korbannya semua mahasiswa. Kejadian ini sangat memprihatinkan karena hilangnya sepeda motor tersebut hanya berlangsung dua hari. Maka dari itu, untuk mencegah kejadian tersebut terulang lagi, kampus mensiagai dengan lebih memperketat penjagaan tempat parkir dengan salah satunya menunjukkan STNK yang akan dicek terlebih dahulu oleh penjaga parkir apakah sesuai dengan kendaraan yang dikendarai apa tidak.
Menurut Bapak Syafi’udin atau yang lebih akrab dipanggil Pak Syafi’ yang setiap harinya menjaga parkiran di Fakultas MIPA, pemberlakuan penunjukkan STNK setiap keluar masuk parkiran sebenarnya sudah sejak beliau bekerja tahun 2007. Tetapi karena tempat parkir yang berpindah dari lapangan MIPA ke depan laboratorium fisika sejak kurang lebih setengah tahun yang lalu, jadinya kurang begitu efektif diberlakukan. Faktor lainnya karena selama ini mahasiswa kadang jika diperingatkan untuk menunjukkan STNK tidak mau karena alasan bolak-balik, terburu – buru, atau alasan-alasan yang lain. “Karena sekarang lagi marak-maraknya kehilangan sepeda terus, jadinya ada himbauan dari Wakil Rektor 2 untuk memperketat kembali penunjukkan STNK untuk semua fakultas,” ringkas Pak Syafi’.
Selama beliau bekerja, di Fakultas MIPA pernah sekali kehilangan sepeda motor, tepatnya tahun 2016 lalu. Hilangnya sepeda tersebut pada saat si korban memarkir sepedanya di depan Laboratorium Fisika sedangakan tempat parkir sepeda motor berada di Lapangan MIPA. Pak Syafi’ ketika berjaga di pos parkir sebenarnya tidak sendiri, beliau dibantu dengan yang lain. Sistem berjaga bergantian, yaitu dari pukul 07.00-14.00 WIB dan 14.00-22.00 WIB. Selain juga ada yang membantu berjaga bergantian setiap jamnya salah satunya seperti Pak Dendi. 
 Alpha - Mahasiswa menunjukkan STNK kepada penjaga parkir FMIPA
(Doc.Nurul)

Alpha - Buku Identitas parkir
(Doc.Nurul)
          Pengendara sepeda motor harus menunjukkan STNK saat akan keluar parkiran. Jika tidak dapat menunjukkan STNK, maka mahasiswa harus menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan meninggalkan KTMnya di pos parkir dengan menuliskan identitas diri pada buku yang sudah disediakan. Jika bukan mahasiswa, harus menunjukkan Kartu Tanda Penduduk(KTP) atau tanda pengenal lainnya yang dimilki. Kartu – kartu pengenal tersebut jika ingin dikembalikan, harus mengambil STNKnya terlebih dahulu dan menunjukkan kepada petugas pos penjaga parkir. Jika tidak dapat menunjukkan kartu tanda pengenal sama sekali, maka sepedah motor tersebut tidak bisa dibawa sampai benar-benar menunjukkan STNKnya. 
Menurut beberapa tanggapan mahasiswa, adanya pemberlakuan penunjukkan STNK di FMIPA sebagian besar menerima. Tapi sebagian lagi ada yang kontra. Kontranya mereka pada kebijakan baru ini jika sering keluar masuk parkiran, harus berkali – kali menunjukkan STNK kepada penjaga parkir. Pro yang dikatakan oleh beberapa pendapat mahasiswa sendiri adanya kebijakan ini sudah baik. Initnya untuk mengantisipasi kejadian pencurian di lingkungan Universitas Jember agar tidak terjadi lagi dan motornya bisa aman. “Bagus. Itu demi mencegah pencurian motor”, tambah Evan Agus Maulana, selaku Ketua BEM Fakultas MIPA.
Terakhir, Pak Dendi memberi beberapa tips untuk mencegah motor agar tidak mudah dicuri. Pertama, kunci ganda sepeda motor. Jangan lupa penutup kunci untuk ditutup agar tidak mudah dibuka dan dinyalakan oleh maling. Kedua, bisa menggunakan gembok(red) sepeda motor agar ban sepeda terkunci rapat.[] Nurul H.- Alpha

Buletin Mipa (BUMI) LPMM ALPHA Edisi 2017

Buletin MIPA (BUMI) LPMM ALPHA Edisi 2017
Klik di Sini

“Fakir Miskin dan Anak-Anak Terlantar Dipelihara oleh Negara”


Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) didirikan salah satunya yaitu untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah salah satu cita-cita yang telah digagas oleh para pendiri bangsa (founding fathers) sebagaimana diungkapkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali, berhak untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”.
Kenyataan yang ada di Negara Indonesia saat ini ialah jumlah gelandangan, pengemis, dan anak-anak jalanan yang semakin bertambah menunjukan bahwa dalam hal ini terlihat bahwa pemerintah belum hadir untuk benar-benar mengatasi masalah tersebut. Masyarakat fakir, miskin, dan anak-anak terlantar juga memiliki hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan itu merupakan sebuah kewajiban negara terhadap warga negara. Namun, kenyataannya di Indonesia yang terjadi malah sebaliknya. Negara tidak banyak melakukan tindakan nyata guna mengentaskan mereka dari kehidupan nestapa tersebut.
Apabila dikaji ulang kata "dipelihara" pada pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 dapat memunculkan berbagai makna. Kata “dipelihara” diperoleh dari kata “pelihara” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna “jaga” atau “rawat”, sehingga jika “pelihara” mendapat imbuhan di- maka akan berarti “dijaga” atau “dirawat”. Mari kita lihat, kata “dipelihara” apabila dalam kalimat “Kambing dipelihara oleh Bambang” atau “Gedung dipelihara oleh pemiliknya”. Kalimat tersebut kata dipelihara memiliki arti agar dapat bertambah atau berkembang biak, agar awet dan keberadaannya tetap eksis. Sekarang pertanyaannya apakah dalam pasal 34 ayat 1 UUD 1545 juga memiliki maksud seperti pada kalimat tersebut? Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara agar keberadaannya tetap ada atau tetap eksis dan semakin berkembang biak. Melihat kondisi yang ada saat ini anda sendiri yang tahu jawabannya.
           Sungguh sangat menyedihkan apabila kita tengok ada berapa banyak fakir miskin dan anak-anak terlantar yang ada di Indonesia. Semakin hari semakin bertambah pula jumlahnya, apabila ada suatu riset yang meneliti hal tersebut, mungkin Indonesia akan menempati peringkat pertama di dunia. Dimanakah Negara berada saat ini ? peran Negara dalam hal ini sangat dibutuhkan namun nyatanya malah hilang entah kemana. Wahai pemimpin bangsa masih adakah nurani hati mu untuk sedikit saja memperhatikan kondisi meraka. Apa cita-cita founding fathers untuk mencapai kehidupan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sudah tak berguna lagi ? atau sekarang kau sibuk dengan cita-cita mu sendiri ?
Oleh : Tri Widagdo – Anggota Magang ALPHA
Copyright © 2013 LPMM ALPHA and Blogger Themes.