Langsung ke konten utama

Bunuh Korupsi atau Mati !!!

Saya merasa sangat bangga ketika Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Gema junjungan yang tak pernah surut seakan menghipnotis seluruh pendengar. Bergetar hati saya mengenang kebesaran bangsa ini. Barangkali tak hanya saya, segenap penjuru negeri yang menghayati lagu ini pastinya akan turut hormat dan bangga pada Negara ini.
Namun, saya begitu sedih ketika semua itu hanya tinggal kenangan. Tak ada lagi euforia kumandang kejayaan bangsa ini. Makin runtuh hati saya saat harus menelan pahitnya kenyataan, bahwa sebagian besar kejayaan yang kita raih ternyata terbungkus dalam pernik korupsi terselubung. Saya merasa begitu sedih dan semakin bodoh karena tak tahu telah berapa lama hidup dalam dunia kebohongan yang tersitematis ini. Hancur sudah bangsa kebangganku karena berbagai masalah pelik yang terus melilit, dan tentu saja biang keroknya tak lain adalah korupsi.
Banyak persoalan yang membelit bangsa Indonesia ini terjadi akibat ketiadaan transparansi dan akuntabilitas di sektor publik, masyarakat maupun swasta. Terjadinya tarik menarik kepentingan antar individu atau kelompok serta praktek kesewenang-wenangan kekuasaan telah menimbulkan biaya sosial dan ekonomi yang sangat tinggi. Kondisi tersebut membebani kehidupan masyarakat secara tidak proporsional, menghambat tumbuhnya iklim berusaha yang sehat, dan merusak lingkungan dalam arti seluas-luasnya.

Karena itu, harus diupayakan untuk menumbuhkan tata kehidupan masyarakat yang transparan dan akuntabel sebagai bagian dari langkah-langkah penyelenggaraan Good Governance. Dalam hubungan ini sangat penting menciptakan iklim nasional yang kondusif, dan merangsang tumbuh dan berkembangnya masyarakat yang bermoral dan beretika menuju terbangunnya bangsa Indonesia yang jujur, bersih, adil dan transparan.

Disamping upaya-upaya penataan sistem pemerintahan dan penegakkan supremasi hukum, upaya yang juga harus dilakukan secara simultan dan berkesinambungan adalah memberikan kesadaran kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa praktek-praktek ketidakjujuran, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan pada akhirnya hanya akan meluluhlantahkan seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, lumpuhnya perekonomian, timbulnya krisis kepercayaan, lemahnya daya saing bangsa Indonesia pada kancah internasional serta kembali akan melahirkan generasi-generasi baru yang permisif dengan praktek-praktek korupsi dan bentuk ketidakjujuran lainnya.
Agar masyarakat menyadari akan kerugian yang ditimbulkan oleh praktek-praktek korupsi tersebut serta menumbuhkan semangat penolakan terhadap bentuk penyalahgunaan kekuasaan, maka seluruh komponen masyarakat; ormas, mahasiswa, LSM maupun swasta dan Pemerintah harus melakukan upaya yang sungguh-sungguh serta berkesambungan untuk senantiasa menghidupkan semangat ‘anti korupsi’.

Momentum Hari Anti Korupsi sedunia (HAS) yang secara simbolik selalu diperingati pada 9 Desember hendaknya sekaligus menjadi suatu momentum kebangkitan pemberantasan Korusi secara besar-besaran. Moment 9 Desember seharusnya bukan hanya selalu diperingati ataupun mungkin dilakukan dalam upacara kenegaraan yang meriah. Sebenarnya bukanlah itu hakikat sebenarnya HAS, namun pecapaian segala sistem dan carut marut penyelenggaraan Negara yang bersifat akuntabel dan dengan transparansi tinggi, itulah hakikat yang sebenarnya dari penegakan korupsi yang selalu menjadi cita-cita bangsa.

Namun yang patut kita garis bawahi, tindakan pemberantasan korupsi bukan perkara mudah, begitu banyak taktik dan intrik terselubung. Sudah tentu fenomena tersebut seakan berada di balik layar dan tak mudah tersentuh karena sifatnya yang sembunyi-sembunyi. . Pelaku korupsi tidak akan mau memberikan informasi secara terbuka kepada publik, sedangkan korban seringkali tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi korban tindakan korupsi. Karena itulah, peran aktif kita sebagai elemen bangsa ataupun sebagai individu secara pribadi sangat diperlukan di sini. Entah hanya sekedar turut mengawasi ataupun melaporkan segala bentuk korupsi tentunya akan sangat dihargai.

Semangat anti korupsi dan cinta Indonesia, itulah yang akan menjadi ujung tombak perbaikan bangsa ini. Begitu banyak aspek pemerintahan hancur karena korupsi, begitu banyak pula rakyar harus mati kelaparan dan sakit tak terawat karena haknya termakan korupsi. Sudah cukup kesedihan bangsa ini, teramat pedih kenyataan menjadi salah satu Negara terkorup di dunia. Dalam Hari Anti Korupsi ini mari kita awali semuanya, kita cukupkan dosa para koruptor dan sudahi penderitaan bangsa.
SELAMAT HARI ANTI KORUPSI DAN SELAMAT MEMBERANTAS KORUPSI !!![Hendra Setiawan]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia