Dibalik Fenomena "Pocong Kampus"

Saat itu roda motor berputar mengelilingi kampus Universitas Jember, berjalan menikmati indahnya suasana malam yang masih setengah mateng, jam 19.00 WIB merupakan waktu yang paling tepat bagi kami untuk mencari jelma’an tulang rusuk yang sudah hampir 21 tahun menghilang. Entah sudah kemana aja? aku dan temanku ( sebut saja ancrit ) mencari sang patahan tulang rusuk kami itu.

“ Nyari cewek yuk ! “ si acrit mengajakku dengan wajah bernafsu dan muka pengen, langsung aja kami jalan-jalan disekitar kampus tercinta kami, UNEJ gitu ! tapi sayang 14x24 sayang ajakannya itu tidak membuat aku bergairah sama sekali, maklum lah ! walau hari-hari kulewati hanya sendiri, lagu ello yang berjudul masih ada kadang membuat aku merindukan sentuhan seorang wanita. Secara gitu loh, udah 1.432 menit cewekku mutusin aku, aku juga heran ko’ dia bisa setega itu. Padahal aku tu tuampan, cuakep and guanteng. Tapi sory ! bukan maksud hati melebaikan diri, sudah terbukti bahwa omku, tante, adek, kakek, nenek, bapak apalagi ibuku menyepakatinya dengan kata-kata yang sama, Cuma temenku yang syirik aja yang bilang aku jelek. Tapi aku yakin ini sudah memenuhi kuota pembuktian sebagai nominator cowok cakep Indonesia.

“Suit-suit !” ya gitu dah kebiasaan cowok kalo’ melihat cewek-cewek kinclong. Ga’ peduli idung mancung, pesek sampek ga’berbentuk, asalkan bikin greget pasti yang namanya mulut monyong bersiul.
Memang, kejadian seperti ini merupakan sebuah euphoria sesaat dan sering kita jumpai dalam pilem-pilem, tapi asal loe tau, cowok tu emang seperti itu, huahaha.
Suasana malam yang pekat senyap memang selalu memberikan hal-hal yang selalu berbeda. Tidak hanya manusia dan orang-orang yang senang dengan kegemerlapan malam, ternyata dunia hantu Indonesia juga ikut memberikan variasi baru. Tidak hanya kuntilanak, wewe gombel dan genderuwo yang makin cool, pocong ternyata juga makin keren. Tempat-tempat tongkrongan mereka seperti pohon, gunung, keris, jimat dan tempat-tempat angker lainnya sudah lebih nyaman untuk dimanfaatkan dan diberdayakan oleh manusia. Contohnya aja waktu aku ama si ancrit jalan-jalan di sekeliling kampus kemarin, banyak tempat-tempat gelap yang ada po’on-po’on angkernya sudah menjadi area kencan yang romantis. Padahal kata mahasiswa yang sudah mengklaim dirinya tua, jalan-jalan gelap dikampus UNEJ dulu ga’ da yang berani melewati loh. Tapi maklumlah, seiring berjalannya waktu semua pasti berubah. Mungkin dulu manusia takut sama setan, tapi sepertinya sekarang setan sudah takut pada manusia. Mungkin saja mereka beranggapan bahwa kita adalah teman atau lebih setan mereka, bercermin dari segala perilaku kita, dan sudah merupakan pemandangan lumrah dalam keremangan malam. Suatu hal yang selayaknya disensor untuk umum.

“ Ancrit, ada pocong !” aku berteriak disela-sela kunikmati suasana malam di kampus UNEJ tercinta. Temankupun terkejut dan mulai bertanya-tanya kepadaku;
“ Serius loe ?”
“Jangan main-main ah !”
“Mana ? mana pocongnya ?”
Akupun menjawab dengan spontan, “ itu, itu disana ! di atas prasasti unej, di double way itu loh. Makanya liat pake mata donk !”.

Kami berdua terkejut melihatnya, tapi sebuah keanehan hakiki membelenggu jiwaku dan ancrit dikala itu, pocong-pocong itu nampak begitu jelas dilihat dan tidak seperti spesies mereka pada umumnya. Loncatan-loncatan seram indikator berdirinya bulu kuduk tidak mereka lakukan. Mereka hanya terpaku berdiri diatas sebuah prasasti. Bahkan diantara 3 pocong yang kami lihat ada salah satu yang memegang buku bak mereka sedang dinobatkan sebagai lulusan akademi hantu terbaik.

“Aneh ! sungguh amat aneh !”. Selain penampakan mereka yang begitu jelas dipandang mata, siang hari yang terang kini tidak menjadi penghalang. Hak prerogatif hantu yang hanya keluar dimalam hari mereka langgar. Keesokan harinya aku melihat mereka bertiga tetap berdiri ditempat yang sama. Sungguh gebrakan yang luar biasa dari pocong masa kini. Bahkan aku masih berfikir mungkin tiga pocong itu sekarang masih ada dikediaman baru mereka itu.


Ikatan Hantu Indonesia Keren yang terhimpun dalam “ IHIK ” memang sungguh kreatif, tidak jarang kuntilanak yang dimutasi menjadi seorang penyanyi latar, eh sory ! sehantu latar maksudnya, begitupun dengan pocong, banyak juga pocong-pocong yang tidak hanya hobi loncat-loncat, pocong yang ada di pilem syetannya kok beneran aja udah bisa salto ama goyang pinggul. Keren banget kan ?

Selain hantu, hiruk pikuk dunia perdukunan juga sudah jarang terjadi konflik. Mereka mulai menyadari tentang pentingnya perdamaian in the world mistic of Indonesian. Paranormal yang selalu mendiskriminasi jin-jin dan syetan mulai berkurang, seakan sudah mulai tercipta keharmonisan antara syetan yang sudah terkenal dengan yang baru meniti karir. Bukti otentiknya sudah nampak. Tiga pocong kini sudah berani berdiri diatas prasasti kebanggaan UNEJ.

Entah sampai kapan 3 pocong itu akan berdiri disitu, tapi yang jelas mari kita ajukan bersama kepada ketua ikatan hantu Indonesia agar mereka segera di mutasi ke tempat lain dan bisa digantikan dengan properti kebanggaan Universitas Jember.
Harapan penulis, mudah-mudahan ketika tulisan ini terbit dan dibaca tali pocong sudah dilepas dari patung kebanggaan kita.[Didik Pribadi]

About the author

Admin
Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

2 komentar:

  1. Anonim7:12 AM

    mana lanjutannya kawan?

    BalasHapus
  2. Ada dibuletin edisi februari, belum di share, ditunggu yah

    BalasHapus

Copyright © 2013 LPMM ALPHA and Blogger Themes.