Haruskah Bocah itu Bermain di Jalanan

Begitu gontai kaki kecil itu melangkah, tangan kecil yang kurus mengayun di samping perut yang keroncongan. Megahnya lampu-lampu kota memaksa baju lusuh itu tersorot oleh mata. Hiruk-pikuk acuh di atas gedung-gedung mewah itu membuat pemandangan kota semakin kontras. Tak ada lagi yang samar di sana, memaksa mata kita untuk menyaksikan jurang kesenjangan siosial yang semakin menganga lebar. Entah akan sampai kapan jurang itu akan terus membesar, sampai mata kita tak mampu melihat ke seberang mungkin.
Ironis memang, bila kita berusaha untuk sedikit menengok realita di sekitar kita. Dunia yang begitu akrab dengan kita, sesak akan harumnya parfum-parfum mewah nan mahal, berkilau dengan berlian, namun terselimuti oleh berbagai penderitaan saudara-saudara di luar sana. Kita yang selalu dimanjakan oleh dinginnya AC mungkin tak pernah merasakan panasnya jalanan di kota ini. Buaian bangku kuliah yang megah dan kisah cinta yang melankolis, memaksa kita untuk terus terlelap tanpa pernah mencoba membuka mata hati untuk sedikit tergugah melihat anak-anak itu “bergentayangan” di jalanan yang keras.
Pengemis-pengemis kecil dan anak-anak jalanan pasti sudah begitu akrab dengan mata kita. Bertampang lusuh dan membuat iba menjadi modal penting untuk turut menghiasi jalanan kota ini. Tak usah jauh-jauh, di lingkungan kampus yang menurut sebagian orang tampak sebagai lingkungan mewah, juga diselingi oleh hilir mudik mereka. Bahrul, begitu sapaan akrabnya, bocah laki-laki yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar ini juga harus merasakan pahitnya jalanan. Bukan sebagai pengemis memang, namun tetap saja dia harus menjajakan rasa iba di jalanan ini.
“Yeh tak asakola, mon la entar nare’ amal mas. Mon engko’ asakola yeh tak olle pessse. Se penteng olle pesse kade’, nah mon la tade’ amal buruh asakola ( Ya gak sekolah kalo sudah narik amal mas. Kalo saya sekolah ya gak dapat uang. Yang penting dapat uang dulu, nah kalo uda gak ada amal, baru sekolah)”, ujar bocah kurus itu.
Dia yang harusnya hanya berfikir untuk bersekolah dan bermain, harus menjadi penarik amal keliling di jalanan Jember karena tuntutan hidup yang berat. Meski penghasilan yang diraupnya terhitung begitu kecil, sekitar Rp.15.000,- per hari, namun uang sejumlah itu sudah cukup membantu untuk memenuhi keinginan-keinginan kecilnya. Hanya saja, ada hal yang terlupakan di sana. Mereka yang seharusnya masih asyik bersenda gurau dengan teman sebayanya, masih asyik mengenyam bangku pendidikan, dan masih asyik terbuai kasih sayang, ternyata harus melepaskan semua itu dan menukarnya dengan uang yang tak seberapa.
Hal seperti ini sebenarnya tidak lahir semata-mata hanya dari pola pikir anak sekecil Bahrul, tentunya hal ini tak luput dari peran serta orang-orang terdekat mereka.Yang lebih parah lagi adalah budaya mengemis dan meminta-minta, seakan sengaja dibudayakan untuk kemudian dieksploitasi. Bila anak-anak kecil itu turun ke jalan hanya untuk sekedar mengisi perut, tentu saja kondisi ini tak akan berlangsung berlarut-larut dan menahun. Namun, berbeda dengan kenyataan yang sering kita lihat saat ini. Sering kali kita begitu akrab berjumpa dengan wajah anak-anak itu, begitu lama pula wajah-wajah itu terus menghiasi jalanan kita. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa mereka terkoordinasi secara rapi serta berlangsung kontinyu. Perasaan iba secara massal, kondisi sosiologis masyarakat Indonesia, dimanfaatkan oleh orang-orang yang memang memiliki kultur eksploitatif anak untuk menggunakannya.
Kita sering tak sadar bila ternyata perasaan iba kita selama ini ternyata turut mendukung membengkaknya angka anak jalanan lainnya. Tak salah memang, sebagai makhluk sosial yang normal pastinya kita akan merasa iba melihat ketimpangan itu. Namun, alangkah baiknya bila rasa kepedulian itu kita implementasikan dalam bentuk lainnya. Bukan dengan memberikan sedekah bagi mereka, karena tentunya bantuan itu hanya akan mereka rasakan dalam sekejap.
Kebiasaan memberi uang kepada pengemis anak juga merupakan investasi kebodohan dan kemalasan, yang bila telah terpupuk maka akan mengakar dalam pola pikir mereka selanjutnya untuk mendapatkan uang secara mudah dan malas berusaha. Selain itu, mungkin masih layak bila uang itu mereka gunakan untuk kepentingan hidup, namun terkadang uang itu digunakan untuk berfoya-foya karena mereka merasa sangat mudah untuk mendapatkan uang, suatu perilaku yang tak selayaknya dibudayakan. Bukan hanya itu saja, tak jarang uang yang mereka dapatkan harus direlakan untuk para preman, pengekploitasi anak, dan para pelaku kriminalisasi anak lainnya.
Bila kita memang ingin menyalurkan kepedulian, langkah yang dapat ditempuh adalah penanganan jangka panjang yang akan mengubah pola pikir mereka. Sebab, bila diberdayakan dengan baik, pastinya anak-anak itu dapat berkontribusi banyak bagi Negara ini. Salah satu bentuk pemberdayaan itu semisal dengan memberikan beasiswa dan akses pendidikan yang dikombinasikan dengan rumah singgah. Akses pendidikan itu tidak harus formal, tetapi bisa melalui homeschool. Untuk para pengemis bukan anak-anak, selain dikombinasikan dengan rumah singgah juga bisa diberikan pelatihan keterampilan yang bisa digunakan untuk bekal hidup mandiri di dalam masyarakat, sehingga tidak lagi mengandalkan orang lain dengan cara mengemis
Tentunya peran serta pemerintah juga sangat diharapkan untuk merealisasikan kepedulian tersebut. Bila kita berkaca dari Undang-undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1 : Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara. Peraturan ini benar adanya, mengingat pengemis adalah putera-puteri Indonesia yang dilahirkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hanya saja mereka (pengemis) tidak beruntung dilahirkan ke dunia ini. Pemerintah wajib memelihara dan melindungi mereka sebagai manusia yang berhak hidup dan berkehidupan yang layak sebagai warga negara di negerinya sendiri. Namun, peraturan yang sempurna sekalipun hanya akan terpajang berdebu tanpa tindakan nyata dan kesadaran dari berbagai elemen bangsa ini. Mari kita tangani kondisi yang memprihatinkan ini secara manusiawi. [Hendra Setiawan]

About the author

Admin
Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar:

Copyright © 2013 LPMM ALPHA and Blogger Themes.