Langsung ke konten utama

KEHIDUPAN MAHASISWA DI BELAKANG LAYAR

Mahasiswa!!! Seseorang yang bisa dikatakan intelek ternyata punya kisah tersendiri yang menarik untuk diperdebatkan. Kegiatan rutin kuliah, belum lagi tugas dari dosen (entah itu presentasi, laporan, ataupun lainnya) seakan sudah menjadi pengetahuan umum. Dari kondisi tersebut, mahasiswa dituntut untuk bisa mengatur waktu agar mereka bisa survive di dunia kuliahnya. Begitu sering dijumpai mahasiswa yang sakit bahkan ada yang sampai diopname akibat jadwal kuliah yang terlalu padat dari pagi hingga sore bahkan hingga malam hari. Tidak jarang pula mahasiswa yang stress gara-gara kuliahnya hingga akhirnya mengundurkan diri.

Di lingkungan FMIPA sendiri peristiwa ini begitu fenomenal. Hampir setiap tahun ada mahasiswa yang mengundurkan diri akibat masalah tersebut terutama pada semester awal. Hal ini dikarenakan mahasiswa yang belum bisa beradaptasi dengan suasana baru di dunia kampus. Mereka menganggap bahwa dirinya tidak mampu lagi untuk melanjutkan kuliah hingga akhirnya menyerah tanpa syarat.

Kehidupan mahasiswa yang berasal dari luar kota (mahasiswa rantau) lebih parah lagi. Mereka tidak hanya dihadapkan pada masalah tersebut, tetapi juga mencakup masalah keuangan. Dengan keadaan “dopis” (dompet tipis), mereka harus memutar otak mengerjakan PR tentang bagaimana cara me-manage uang mereka masing-masing. Sebuah lagu berjudul mahasiswa rantau yang dinyanyikan oleh Pemuda Harapan Bangsa cukup bisa mewakili kehidupan sehari-hari mereka. “mahasiswa rantau makan tak teratur. Senin makan, selasa puasa. Rabu ngutang, eh kamis dibayar. Jumat lapar lagi”, begitulah kira-kira sebagian liriknya.

Namun, tidak semua dari mahasiswa rantau yang mengalami nasib serupa. Mereka yang notabenenya berasal dari keluarga tajir tidak pernah merasakan hal tersebut. Dengan fasilitas yang disediakan oleh keluarga, mereka tak perlu lagi capek-capek mengurus keuangannya. Namun dengan fasilitas itu pula, kadang mereka cenderung lupa akan kuliahnya karena terbuai dengan kehidupannya yang jauh dari pengawasan orang tua. Apalagi jika berada dalam lingkungan yang tak ”sehat”, bisa-bisa nggak pernah mikirin yang namanya kuliah lagi. Presensi sering nitip ke temen, kalau datang ke kampus sering tidak mandi, di kelas ngobrol yang tidak perlu, jago nyontek tugas atau laporan dan lain-lain.

Jika ditelusuri tentang semua penyebab masalah tersebut, hampir tidak memiliki titik temu. Semuanya memiliki andil mulai dari diri sendiri, temen se-kampus, temen cangkrukan, keluarga maupun masyarakat.
Dari semua masalah tersebut diatas perlu diulas kembali masalah tujuan mahasiswa itu sendiri. Apakah hanya sekedar mencari teman baru, ijazah atau mencari ilmu hingga bisa bekerja sesuai yang diharapkan. Jika hal ini sudah dilakukakan perlu adanya kesadaran dari diri mahasiswa itu sendiri demi mewujudkan cita-cita tersebut secara riil di kehidupannya kelak. Jika mahasiswa sudah berhasil meraih cita-citanya, baik keluarga, temen bahkan masyarakat sekalipun, akan turut bangga dengan semua itu.[Eko, matematika 2009, anak magang ALPHA]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia