Langsung ke konten utama

Mahasiswa Berjatah PNS

Di zaman sulit dan susah seperti sekarang ini, sebagai bangsa yang cerdas kita dituntut untuk selalu peka dan paham terhadap situasi ekonomi yang ada saat ini. Kepekaan tersebut tidak hanya dapat diwujudkan dalam bentuk usaha mencari sumber keuangan yang baru, tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk usaha mempertahankan sumber keuangan yang sudah ada. Misalnya dalam hal menyikapi tunjangan bagi pegawai negeri sipil. Sudah merupakan kebenaran umum bahwa setiap anggota keluarganya, termasuk si anak diberi tunjangan keuangan atau yang lebih dikenal dengan sebutan uang makan. Namun setelah si anak berumur 18 tahun keatas tunjangan keuangan tersebut akan diberhentikan.

Nah, bagi para mahasiswa yang notabene umurnya 18 tahun lebih (jarang sekali berumur dibawah itu) dan orang tuanya bekerja sebagai PNS, dihentikannya tunjangan atas diriya sudah tentu merupakan masalah. Masalah dimana sumber keuangan berkurang plus biaya kuliah yang tidak bisa dikatakan murah. Adanya anggapan umum yang mengkategorikan PNS dalam kelas ekonomi menengah keatas agaknya perlu ditinjau kembali.

Anggapan tersebut tentu saja beralasan mengingat kejayaan kaum PNS yang berada dibawah bendera Partai Golkar pada masa pemerintahan presiden Soeharto saat itu. Namun di masa pemerintahan SBY lalu, justru posisi PNS-lah yang paling terjepit. Di saat orang-orang miskin mulai dimanja dengan adanya bantuan langsung tunai (BLT), kaum menengah dari kalangan PNS harus gigit jari dan menderita sakit tenggorokan menelan dampak dari adanya kenaikan BBM.

Beda lagi dengan kalangan pedagang, pengusaha, petani dan para penyedia jasa transportasi yang kala itu langsung kompak angkat harga, menyesuaikan dengan kenaikan BBM dan menambah kering tenggorokan bapak ibu PNS kita. Walaupun ada kenaikan gaji, Mr. Pecut (koran Jawa Pos) bilang jangan senang dulu, toh harga barang-barang pokok juga siap ikut naik bergelantungan dibawahnya.

Lalu bagaimana menyikapinya? Seperti sudah disinggung diatas tadi, kita tidak harus bekerja mencari tambahan sumber keuangan tambahan, pertahankanlah yang sudah ada. Seperti para mahasiswa cerdas yang mempertahankan tunjangan PNS atas dirinya. Lho kok bisa? Padahal anak PNS umur 18 tahun sudah tidak mendapatkan jatah dari tunjangan PNS orang tua mereka.

Dalam kasus perkuliahan sendiri, bahkan mahasiswa yang orang tuanya PNS umumnya sulit mendapatkan beasiswa ekonomi, karena kalangan mereka masih dianggap kalangan mampu. Padahal arti kata mampu itu sendiri hanya berlaku dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, termasuk menyekolahkan, bukan menguliahkan. Kalaupun PNS bisa menguliahkan anak-anak mereka, mungkin hanya sebatas pada perguruan tinggi yang biayanya murah saja.

Namun tidak perlu khawatir, setiap masalah pasti ada solusinya. Pemerintah saat ini mempunyai kebijakan bahwa PNS yang putra atau putrinya sedang aktif menjalankan kegiatan perkuliahan atau bahasa singkatnya sedang berkuliah, maka tunjangan atas mahasiswa yang orang tuanya PNS akan tetap diberikan. Dengan syarat mengajukan surat keterangan aktif berkuliah sebagai mahasiswa dari fakultas yang bersangkutan.
Mahasiswa tinggal datang ke bagian kemahasiswaan fakultasnya untuk mengurus surat aktif berkuliah atas dirinya. Di fakultas MIPA hal tersebut ditangani oleh Pak Nanang. Kita hanya tinggal mengisi biodata dirinya antara lain nama lengkap, NIM, semester yang ditempuh dan tahun akademiknya, disertai biodata orang tua (PNS) yaitu nama, NIP/NRP, pangkat, jabatan, dan instansi dimana orang tua kita bekerja.
Surat keterangan yang sudah diurus dapat diambil esok harinya bila tidak ada halangan tertentu, atau paling tepat bisa diambil dua hari sesudahnya setelah pengajuan. Mudah kan! jadi buat kalian para mahasiswa berjatah PNS, apa susahnya membuat surat keterangan aktif berkuliah. Hitung-hitung membantu meringankan beban orang tua. Surat keterangan diperbarui dengan mengajukannya kembali tiap tahunnya supaya tunjangan tidak diputus.

Selain untuk memperoleh kembali tunjangan kita, surat tersebut biasanya juga dibutuhkan dalam syarat pengajuan beasiswa. Jadi buat apa susah-susah cari kerja sampingan hanya untuk membantu orang tua, yang ada bisa-bisa kuliah menjadi korban. Beliau (orang tua kita) juga berharap anak-anaknya bisa konsentrasi berkuliah tanpa harus susah-susah bekerja.

Dengan membuat surat keterangan berkuliah dan meraih IP serta prestasi yang gemilang saja sudah cukup untuk membahagiakan orang tua kita. Jangan sia-siakan pengorbanan bapak PNS kita, rela jatah makan dan uang jajannya berkurang. Juga pengorbanan ibu kita yang rela kesana kemari mencari utang untuk biaya kuliah kita.
[Jaka Hendari, Kimia 2009.Anak magang ALPHA]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

ANDROMEDA XIX Berlangsung Meriah

ALPHA-Mahasiswa berjoget bersama.(Foto: Maknun Alpha) ANDROMEDA XIX Berlangsung Meriah        ALPHA  - ANDROMEDA XIX  atau  Diesnatalis Himpunan Mahasiswa Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (HIMAFI ) ke-19 berlangsung meriah pada Sabtu (21/05) kemarin. Acara yang mengusung tema APOLLO ( Annual Party With Traditional Style ) itu diadakan di lapangan Fakultas MIPA dari pagi sampai malam. Pagi harinya diadakan jalan santai ( colour run) yang diikuti oleh semua warga fisika baik dosen maupun mahasiswa. Sedangkan pada malamnya merupakan puncak perayaan acara tersebut . Pembukaan puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh dosen Jurusan Fisika, Artoto Arkundato. Dengan me nampilkan beberapa lagu beat dan mengundang DJ sebagai guest star , Andromeda berhasil memukau tamu undangan yang sedang menikmati malam minggunya. Tak hanya guest star , malam puncak tersebut juga melibatkan peran aktif mahasiswa dari angkatan 2012 hingga 2015. Mer