Menelusuri Kehidupan Peternak Sapi di Banyuputih, Situbondo

Beternak sapi secara tradisional, merupakan salah satu keunikan yang khas dan kurang di perhatikan serta mulai dilupakan oleh banyak generasi muda saat ini. Seperti yang ada di desa Banyuputih, kabupaten Situbondo. Setiap hari terlihat disana mulai dari yang muda sampai orang tua, dengan sepeda tuanya yang khas tukang “ngarit” hilir mudik mencari rumput untuk ternak mereka.

Beternak sapi rupanya sudah menjadi tradisi turun temurun yang diajarkan para orang tua pada anak-anak mereka, baik anak laki-laki maupun perempuan. Hal itu dilakukan oleh mereka yang kebanyakan mengaku bersuku madura dan kurang mampu. Tentu saja kondisi mereka serba pas dan merepotkan untuk memelihara makhluk bernama sapi itu. Walaupun tidak jarang orang kaya yang memelihara sapi sebagai hobi.

Kebanyakan kondisi rumah para peternak sapi tradisional disana sangat memprihatinkan. Rumah “gedek” tua yang kecil dengan kandang sapi reot dibelakangnya. Ditambah lagi pemandangan tak sedap berupa halaman yang dijadikan tempat parkir sapi plus kotorannya yang berserakan. Ketika ditanyakan soal kondisi tersebut. Seorang peternak berpengalaman, Halili (75) mengatakan dengan bahasa madura “ La biasa, tembeng badha halaman ta’ eangguy. Nggi gabay manggar sape bei” (itu sudah biasa, daripada ada halaman yang tidak di pakai, lebih baik digunakan untuk menaruh sapi saja).

Kondisi lebih mengenaskan lagi tampak pada rumah warga yang berjubel dan penuh sesak tanpa halaman namun masih memaksakan untuk memelihara sapi. Letak kandang sapi yang menjadi satu dengan rumah yang sudah sumpek itu, ditambah kotoran sapi yang menggunung membuat siapa saja yang melihatnya merasa jijik dan bergidik ngeri. Tidak bisa dibayangkan bagaimana setiap hari mereka menghirup bau dan hawa tak sedap itu bahkan ketika mereka makan. Akan tetapi, selama ini tidak terdengar kabar orang yang mengalami gangguan kesehatan maupun sakit dikarenakan gaya hidup mereka itu.

Beda lagi dengan Alman (28) dan Santoso (35) yang sama-sama sopir dan tinggal di perumnas Banyuputih yang juga memelihara sapi. Alman mengaku memelihara dua ekor sapi milik orang lain sebagai tambahan penghasilan. Lain lagi Santoso yang terbilang mampu secara ekonomi memelihara seekor sapi hanya sebatas hobi. Orang yang kambingnya pernah menjuarai kontes yang diadakan dinas peternakan Situbondo ini berkata “Saya melihara sapi cuma untuk hiburan saja. Lebih bagus lagi kalau bisa menang di kontes ternak nanti.”

Beternak sapi tradisional sebenarnya sangatlah berat dan merepotkan. Seekor sapi bisa menghabiskan satu karung rumput lebih. Sapi yang digembalakan butuh makan dua kali sehari, sedangkan bila dikandangkan saat cuaca buruk, sapi butuh makan tiga kali sehari. Mengumpulkan rumput pun bukan perkara mudah dan butuh waktu lama, apalagi di musim kemarau. Sebagian dari peternak menyiasati dengan menanam rumput gajah dilahan kosong seperti dipinggir jalan dan sungai. Bila terpaksa, mereka membeli pohon jagung seharga Rp.2000/ ikat.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah kecintaan para peternak terhadap sapi-sapi mereka. Bapak Firman, seorang guru yang mengamati keadaan tersebut menanggapi “Peternak sapi disini sangat sayang pada sapi-sapi mereka. Bisa dibilang daerah ini surganya sapi.” Beliau juga menambahkan “Sapinya mau makan disediakan, mau mandi dimandikan, kandangnya pun dibersihkan setiap hari. Tidak hanya itu, ketika sapinya mau kawin pun diantarkan, kalau perlu supaya perkawinan lancar mereka susah payah memegang dan menahaninya. Kesibukan mereka pun masih berlanjut ketika sapi melahirkan, begitu seterusnya. Bahkan diantara mereka tidak segan tidur di dekat kandang sapinya saat marak pencurian sapi. Padahal perlakuan se-istimewa itu tidak mereka berikan pada anak-anak mereka.”

Hal itu tentu sangat berbeda jika melihat ternak sapi konvensional yang telah menggunakan cara modern seperti kawin suntik, makanan alternatif, serta kandang bagus dan besar yang mampu menampung puluhan hingga lebih dari seratus ekor sapi yang gemuk. Dan tentu saja lokasi peternakan jauh dari rumah pemiliknya. Sedangkan peternak tradisional masih cara lama, termasuk dalam hal kawin dan makanan masih mengandalkan sumber alam yang ada. Kandang sapinya kecil dan seadanya. Maklum, toh mereka hanya memelihara rata-rata tiga ekor sapi yang tidak gemuk itupun dengan fasilitas pas-pasan dan kerepotan tersendiri. Coba jika dibandingkan dengan peternak sapi Amerika yang disebut cowboy, yang beternak dengan cara dan penampilan yang gagah dalam aksinya menggembalakan puluhan sampai ratusan ekor sapi.

Cara beternak sapi konvensional diluar negeri dianggap tidak berperikehewanan mengingat ternak hanya dibiarkan hidup terkungkung di kandang sempit tanpa banyak bergerak, apalagi keluar kandang untuk menghirup udara bebas. Jelas saja di negeri paman Sam yang banyak menerapkan cara beternak seperti itu membuat sapi mereka stress dan mengidap penyakit sapi gila. Kalau di Banyuputih, ukuran kandang dibuat sesuai besar badan sapi. Tidak hanya itu, hampir setiap hari sapi digembalakan di alam bebas. Alhasil, sapi yang ada disana semua sehat walaupun badan mereka agak kurus.

Terlepas dari kerepotan dan kesulitan memelihara sapi secara tradisional, toh para peternak itu tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang sulit seperti yang kita bayangkan. Para peternak sapi disana melakukannya sebagai suatu bentuk kesenangan dan budaya turun temurun. Agaknya, Pemda Situbondo pun sangat memperhatikan hal tersebut. Setiap tahun sering diadakan acara-acara untuk mendorong dan mendukung perkembangan peternakan sapi disana, contohnya kontes ternak, pasar ”kemisan” (pasar hari kamis) dan kawin suntik massal.[Jaka Hendari]

About the author

Admin
Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar:

Copyright © 2013 LPMM ALPHA and Blogger Themes.