Langsung ke konten utama

Wisata pantai yang lebih eksotis daripada Kuta

Sebelum menjadi salah satu wana wisata pantai, tempat yang dilindungi ini terletak kurang lebih 37 Km ke arah selatan kota jember. Hutan yang berada dalam wilayah Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wuluhan KPH jember ini, secara administrative masih termasuk dalam wilayah kec. Wuluhan. Letak hutan lindung ini berdekatan langsung dengan lokasi wisata pantai Watu Ulo. Para pengunjung Wisata Watu Ulo ternyata juga tertarik untuk menikmati pesona hutan lindung ini. Karena selain hutan lindung, di lokasi ini juga terdapat Pantai Pasir Putih dan Pantai Malikan. Atas dasar itulah pada tahun 2000 pemerintah kota jember secara resmi menjadikan hutan lindung ini sebagai tempat wisata dengan 2 obyek wisata utama yaitu pantai pasir putih dan pantai malikan sehingga tempat ini akhirnya dikenal dengan sebutan Papuma (Pasir Putih Malikan).

Awalnya Papuma dikelola Dinas Pendapatan Daerah Wuluhan Jember, satu lokasi dengan Wisata Pantai Watu Ulo. Sehingga cukup dengan satu tiket, penggunjung dapat menikmati wisata watu ulo sekaligus wisata Papuma. Namun pada tahun 2002 Perhutani kota jember berinisiatif untuk mengelola sendiri Pantai Papuma ini, karena sebenarnya pantai ini masuk dalam wilayah hutan lindung yang dikelola oleh Dinas Perhutani. Pembangunan pertama di pantai Papuma ini adalah Balai Rung (cafe), karena pada saat itu masih belum ada transportasi darat yang mudah untuk mengangkut bahan bangunan maka transportasi dilakukan melalui laut. Saat ini telah dilakukan pembangunan kelenteng sebagai obyek wisata religi, selanjutnya juga akan dibangun fasilitas – fasilitas yang lebih lengkap untuk kenyamanan pengunjung dan sebagai bentuk pengembangan wahana wisata ini, seperti outbond, wisata bahari, dan taman permainan anak.

Secara umum Wahana Wisata Pantai Papuma ini memberikan 2 obyek wisata yang utama yaitu Pantai Pasir Putih dan Pantai Malikan. Namun, ada juga obyek wisata lain yang dapat dinikmati oleh pengunjung, seperti Gua Lowo (menurut mitos masyarakat sekitar, gua ini adalah tempat bersemayam salah satu putri penguasa laut selatan “Dewi Sri Wulan” dan tempat bertapa “Kyai Mataram”, oleh karena itu setiap satu tahun sekali diadakan acara Larung Saji, semacam ritual untuk keselamatan para pengunjung dan masyarakat sekitar), gunung pagar dan pemandangan alam yang sangat mempesona, perpaduan hutan, laut dan gugusan pulau dewa & nusa barong dari jalan lingkar atas.

“Pemandangan alam seperti ini tidak bisa didapatkan di pantai wisata manapun, saya berani mengatakan bahwa wana wisata pantai papuma ini mempunyai pemandangan alam yang lebih memukau dibandingkan pantai kuta-Bali”, Ujar Pak Wafi yang menjabat sebagai koordinator atau kepala wana wisata pantai papuma. Eksotika pantai kuta hanya bertitik berat pada keindahan pantainya, tidak terdapat keindahan pemandangan alam laut yang mempesona. Dengan potensi alam Papuma ini, beliau juga optimis bahwa suatu saat wana wisata pantai papuma ini akan menjadi salah satu ikon wisata nasional dan dikenal di kancah internasional, semoga pemerintah kota Jember akan memberikan perhatian lebih kepada pengembangan wana wisata yang ada di kota jember, khususnya untuk pengembangan wana wisata pantai papuma ini.
[rizqon Ahmad, Kimia 2009, anak magang ALPHA]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

Salah Satu Ikon Jember, Tari Petik Kopi

Oleh : Tri Widagdo Tari petik kopi, tentu nama tari ini sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Tari yang satu ini berasal dari kota yang terkenal akan karnaval fashionnya. Ya, kota Jember, kota yang baru - baru ini juga dinobatkan sebagai kota karnaval oleh Menteri pariwisata. Dari namanya sendiri tari ini sudah menunuju k kan suatu identitas tersendiri,   yaitu tarian ini berusaha menggambarkan kondisi masyarakat Jember yang mayoritas komoditasnya pertanian dan perkebunan kopi.   Gerakan-gerakan yang ada dalam tarian ini menggambarkan suka cita masyarakat saat musim panen tiba dan selama proses memanen kopi. T arian yang tergolong masih muda umurnya ini, yaitu diciptakan pada tahun 2013 , digagas oleh U niversitas J ember (UNEJ) yang kala itu mengamati kehidupan masyarakat Jember dimana sebagian besar komoditasnya adalah perkebunan kopi. UNEJ saat itu ingin memunculkan suatu kesenian yang   mencerm

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia