Langsung ke konten utama

Aksi Demonstrasi di Depan Layar Monitor

Demonstrasi dan berbagai gerakan penopang aktivitas demokrasi lainnya kini tak lagi harus dilakukan di tengah terinya matahari dan di atas panasnya aspal. Di dalam ruangan kotak 1 x 1 meterpun aksi demostrasi kini tetap dapat dilakukan. Tak perlu berpanas-panas ria, bila kita memang peduli dengan berbagai pergolakan negeri ini kita juga dapat turut bersumbangsih hanya dengan meng-klik tombol mouse. Perkembangan teknologi yang begitu pesat juga menawarkan kemudahan di dalam berdemokrasi. Kita sudah dimanja dengan berbagai fasilitas mewah saat ini, jauh berbeda dengan keadaan sebelumnya, namun semuanya kembali dipertanyakan pada diri sendiri. Akankah kita ingin turut berperan akif atau hanya bersikap apatis dan rela menjadi korban selamanya, hingga kita terinjak oleh derap perselingkuhan birokrasi mungkin.
Semua kemudahan itu ditawarkan dalam sebuah dunia baru. Dunia yang mana kita tak lagi terkekang oleh berbagai aturan yang biasanya ada di dunia ini. Begitu banyak norma diidahkan di sana, entah itu sekedar norma kesopanan atupun berkaitan dengan aturan-aturan lain yang lebih kompleks. Kontan saja dunia ini menjadi sebuah daya tarik baru bagi berbagai kalangan, remaja khususnya. Dalam dunia ini kita bebas berekspresi, bebas menjadi orang lain, dan bebas menumpahkan semua yang ada di otak kita, semua hal suci dan pantas dibagi atau bahkan hal yang terkutuk bebas kita tumpahkan di sini dan semuanya kembali pada diri kita sendiri.
Dunia yang bersanding erat dengan dunia nyata ini seringkali kita sebut sebagai dunia maya, cyberspace. Kini dunia itu seakan telah menjadi kebutuhan pokok dalam rutinitas hidup kita. Berbagai bentuk tanda tanya tentunya akan tertuju pada kita bila tak turut terjebak menjadi korban peradaban itu. Milis, jejaring sosial macam friendster, facebook, twitter, blog, web, you tube, enksiklopedia dan banyak lagi misalnya, sebuah ruang yang tanpa batas, ruang yang menawarkan segala hal macam, layaknya pasar yang menjual berbagai barang. Sebuah ruang yang terkoneksi lewat sebuah jaringan internet yang luas dan terhubung ke seluruh dunia. Ruang yang bisa membuat kita menciptakan dunia diri kita sendiri atau juga bisa menjadi seorang yang pasif, yang hanya menerima berbagai informasi dan menelannya mentah-mentah.
Begitu banyak ditawarkan kebebasan berekpresi di pasar-pasar itu. Berbagai bentuk gerakan sosial akhirnya turut meramaikan dunia tersebut, sebut saja semisal penggalangan dukungan terhadap Prita Mulyasari hingga berdampak pada penggalangan “Koin Peduli Prita” yang digagas para blogger nasional, ada juga penggalangan dukungan terhadap Bibit dan Chandara (KPK) hingga muncul gerakan 1 juta orang mendukung pembebasan Bibit dan Chandra. Gerakan yang dirintis oleh para blogger ini sangat masif sehingga 1 juta orang mendukung gerakan ini, bayangkan apabila 1 juta orang tersebut berdemo dan turun ke jalan.
Dalam salah satu surat kabar internasional, gerakan tersebut disamakan dengan gerakan mahasiswa pada tahun 98, dimana saat itu para mahasiswa menuntut mundurnya Soeharto (rezim Orba). Gerakan sosial ternyata tak lagi harus bersentuhan langsung dengan realitas nyata yang terjadi, dengan ruang virtual pun ternyata bisa dan masif untuk dilakukan.
Pola interaksi komunikasi yang dilakukan dalam realitas nyata sekarang ini tak cukup dan sangat terbatas sehingga orang lebih memilih melakukan interaksi komunikasi dalam dunia maya, dimana tak ada kekuasaan yang membatasinya. Lihat saja situs atau web sekarang seperti tentukan.com dimana orang dapat membuat suatu petisi, dukungan dan polling terbuka untuk umum seperti penolakan UU RPM Konten, UU ITE dll. Gerakan semacam ini tak hanya sebatas dukungan saja tapi ada aksi kelanjutan hingga dukungan atau petisi tersebut lolos dan terwujud.
Berbagi kebebasan yang ditawarkan disana tentunya akan mempermudah akses kita untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai bentuk gerakan sosial. Kita yang kini sudah tak boleh lagi menjadi buta akan teknologi tentunya sudah lama berkecimpung di dunia tersebut. Entah sadar atau tidak sadar mungkin kita juga telah turut berperan aktif adalam gerakan sosial digital.
Kita sudah begitu dimanjakan oleh berbagai kemudahan untuk turut berperan aktif. Merupakan suatu kebodohan yang begitu keterlaluan atau mungkin suatu sikap acuh yang benar-benar akut bila kita masih saja berkata tidak untuk berbagai kegiatan sosial dan demokrasi di sana. Kita sudah tak usah turut beradu fisik untuk menjadi bagian dari demokrasi, tak usah pula berkorban banyak dari segi finansial, bukankah dunia ini merupakan tawaran yang sangat menarik. Tinggal kita saja yang harus sadar akan pentingnya kontribusi kita dalam kehidupan bernegara. Bukan hanya update status atau kiriman-kiriman tak jelas yang hanya akan menambah sesaknya dunia tersebut. Aktif dalam kegiatan bernegara itu perlu. Bukankah kita tak mau menjadi anjing buta di siang bolong dan nantinya hanya mati konyol? Sudah saatnya kita membuka mata di tengah kemudahan ini. [Hendra Setiawan]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia