Lika – Liku Sardi


“Bangun tidur…tidur lagi. Bangun tidur…tidur lagi”, terdengar sepenggal lirik ciptaan Alm.Mbah Surip yang sudah tak asing lagi di telingaku. Sebuah lagu jenaka yang dapat menggelitik perut kita, namun apakah kita pernah berpikir bahwa kehidupan yang sedang kita jalani mirip dengan lagu itu, begitu pikirku. Aku yang berada dalam sebuah negara yang besar dengan kekayaan yang melimpah, namun tetap tertidur dalam kebisingan dunia, yah mungkin kurang lebih sifat ini menurun dari negaraku yang tak kunjung bangun dari krisis ini.
 Dalam jenuhnya dunia ini, aku terus berpikir mengapa bangsaku tertidur lagi. Ketika kita pernah merasa telah terbangun dari tidur panjang dan bangkit, namun mengapa akhirnya kita tertidur lagi? Sempat aku berpikir apa yang salah dari negara ini. Menurutku negeri ini sudah sangat hebat ketimbang negeri lain. Dalam segi ukuran, kita salah satu negara raksasa. Bukan hanya ukuran, kita juga memiliki banyak orang hebat yang tak kalah hebatnya dengan negeri lain. Jika di Amerika ada Superman dan Spiderman, maka kita tak usah berkecil hati, ada banyak orang hebat seperti itu di negeri ini, semisal Kala Gondang dan Wiro Sableng, namun tak lengkap pula tanpa tante Lampir. Sejenak ku tertegun akan aksi mereka di televisi, jika kita punya orang hebat seperti mereka kenapa kita harus takut pada Amerika dan sekutunya? Pesawat siluman milik Amerika yang digadang-gadang adalah pesawat tercepat di dunia masih kalah jauh dengan ilmu Kala Gondang. Rudal yang mereka elu-elukan akan menjadi mainan anak kecil dihadapan pesona sihir tante Lampir. Tapi apakah yang salah dengan negeri ini dan mengapa kita masih tertidur?
                “Salah mas!!!”, begitu suara pak Pos mengejutkanku. Serentak ku beranjak keluar menuju halaman untuk mencari tahu sumber keributan itu. Terhuyung aku ketika surat yang ku kirimkan buat pak Presiden ternyata harus dikembalikan dengan duka cita oleh pak Pos. Apa pak Presiden tak mau menerima suratku karena kumal dan lusuh? begitu pikirku. “ Oalah kok gobloknya kebangetan ya mas?” tanya Pak pos. Aku yang saat itu masih dilanda shock berkepanjangan masih tak sempat mencerna kata-kata itu. Betapa aku ini merasa sangat bodoh ketika tahu bahwa materai tak dapat digunakan untuk mengirim surat. Aku baru mengerti ketika Pak pos menerangkan dengan panjang lebar bahwa suratku tidak dapat terkirim karena yang kugunakan adalah materai, bukan perangko.
                Mana kutahu hal-hal sulit begitu, menurutku sama saja antara prangko yang diminta Pak pos dengan materai hutang piutang milik ayah yang kugunakan untuk mengirim surat. Dilihat dari segi penampilan saja sudah tak ada perbedaan mencolok antara perangko dan materai, keduanya sama ukurannya, bentuk materai juga lebih bagus karena ada pita emasnya, tapi kenapa tak bisa digunakan untuk mengirim surat. Suatu hal aneh yang mungkin akan membuatku mati pusing bila memikirkannya. Tak apalah kusimpan saja surat ini barangkali di lain waktu ayah punya uang untuk membelikan perangko untuk suratku pada Pak Presiden.
                Meski aku harus berjalan dengan gontai karena suratku tak tersampaikan, tapi aku harus tetap jungkir balik berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu dan menjadi profesor yang dapat membangun Negara ini. Terseok-seok aku berjalan menyusuri pematang sawah untuk sampai ke sekolah, sebab sepatuku ini sepertinya sudah lama kelaparan. Andai saja suratku buat Pak Presiden terkirim barangkali saja ku bisa dapat sepatu baru untuk hari ini dan aku bisa cepat-cepat pulang sekolah untuk main gundu. Tak perlu lagi aku berjalan dengan sepatu berikat karet yang sudah menjamur di Negara kami, yah sekedar menunda lapar begitu istilah kerennya.
                Akhirnya sampai ke sekolah juga sepatu butut ini. Butut bukan sembarang sepatu, aku takkan mau meskipun sepatu butut ini akan dibeli seharga 5 milyar oleh pengusaha kaya di negeri ini. Begitu panjang dan berliku-liku jalan sepatu ini untuk sampai ke kakiku. Berawal dari kakekku yang bertempur melawan Belanda dan menemukan sepatu ini di medan pertempuran, jejak langkah sepatu ini akhirnya diwariskan secara turun-temurun dalam keluargaku dan sampailah pada aku sebagai generasi terakhir. Jadi, betapa malunya aku bila harus melepaskan sepatu ini hanya karena uang, setidaknya sepatu ini dapat berguna di saat kritis sebagai makanan darurat.
                Pelajaran pertama adalah matematika yang menurutku merupakan pelajaran tersulit sepanjang sejarah umat manusia. Namun akhirnya teori yang telah lama kupegang teguh itu akhirnya terbantahkan seketika saat ada pelajaran baru bernama regenerasi dunia pendidikan. Dalam pelajaran itu dibahas bahwa sekolah merupakan variable utama untuk mendorong perkembangan dan menopang inovasi teknologi, politik, dan sosial atau apalah namanya. Dan dalam pandangan lain disebutkan pula bahwa hal tersebut adalah komerialisasi lembaga pendidikan yang menganut paham neoliberalisme.
                Begitu gerah udara dalam ruangan kelasku yang bahkan aku harus sampai melepas sebagian kancing bajuku. Seolah tak mengidahkan ku, Pak Guru tetap saja asyik mengoceh tentang ratifikasi Undang-Undang Pendidikan. Meski tak mengerti tentang apa itu komersialisasi pendidikan yang notabenenya katanya berpaham neoliberalisme, tapi sudah merupakan kewajibanku sebagai seorang siswa yang baik untuk belajar dan menerima pelajaran. Ngobrol sedikit mungkin dapat mengatasi jenuhnya hatiku begitu pikirku. Sialan, temanku mati. Teman yang duduk satu bangku denganku ternyata telah mati sambil memegang kepalanya. Bolpointnya tergeletak di meja, semuanya ada sembilan buah dan ternyata kurang satu buah.
                Tapi temanku yang mati itu ternyata baik hati dan mungkin sengaja tidak mau merepotkan aku ketika meninggal. Didekatnya tampak sebuah kertas lusuh dengan tulisan tangannya.” Teman maafkan aku harus mati duluan. Bukannya aku tak sayang engkau dan teman-teman lainnya, tapi mungkin saja sudah tiba waktuku. Tadi saja aku begitu tak mengerti apa yang diterangkan Bapak guru.  Aku yang jenius ini akhirnya shock karena tak dapat memahami sedikitpun kata-kata Bapak guru ini, tapi mungkin saja engkau yang bodoh dapat memahaminya karena kulihat engkau begitu tenang dan konsentrasi dengan pelajaran, tak seperti dirimu yang biasa. Kepalaku sakit kawan, makanya ku makan satu bolpointku yah sapa tau bisa buat kenang-kenangan di alam sana. Kawan, satu pintaku padamu…tolong kuburkan aku dengan sembilan bolpointku itu, sebab tak mungkin aku makan semuanya. Mungkin saja di alam sana aku dapat mejeng dan memamerkan bahwa dulunya aku ini siswa yang sekolah dan rajin belajar sampai punya banyak bolpoint. Terima kasih. Wassalam”, begitu bunyi suratnya.
                Sedih hatiku ketika ingat temanku yang mati itu, sebab kata orang, orang baik itu umurnya pendek. Begitu pemakaman temanku selesai, aku langsung hijrah ke kota untuk melanjutkan sekolah. Aku yang dulunya miskin ini terpaksa harus menjual sepatu moyangku untuk terus bersekolah. Sebenarnya aku ingin tetap bersekolah di sekolah kumuhku, tapi apa daya semua temanku tak dapat melanjutkan sekolah setelah kejadian itu. Ada temanku yang mati, ada yang pingsan, ada yang hilang ingatan, ada yang depresi, dan entah kenapa ada pula yang sampai gegar otak di dalam kelas. Karena itulah aku yang sekarang kaya raya ini akhirnya hijrah ke kota untuk bersekolah dan hitung-hitung bisa ketemu temanku yang telah lama masuk kota metropolitan.
                Gedungnya tinggi, tangganya bisa jalan, pohonnya dari beton, itulah gambaranku ketika melihat wajah Ibukota. Mereka seakan tak mau memberiku kesempatan bernafas barang sekejap, langsung saja aku diculik untuk bersekolah. Di sekolah maju yang katanya berstandart internasional inilah kini aku bersekolah. Gengsi katanya bila aku yang kaya raya ini harus bersekolah di pinggiran seperti dulu. Namun aku terkejut bukan kepalang ketika melihat kelasku, temanku semuanya rapi dan berpakaian seragam, jauh beda dengan sekolahku dulu.
                Tak masalah kemarin aku gugup di sekolah, tapi hari ini aku harus mempesona. Ah…aku terkejut lagi karena sekarang semua temanku berganti wajah dan seragam. Begitu juga dengan esok harinya dan esok harinya lagi sampai genap seminggu. Tiap hari kami harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru sesuai dengan titah kurikulum pendidikan yang selalu direvisi untuk perbaikan pengajaran bagi kami.
                Bukannya aku tak mau konsentrasi di dalam kelas sehingga aku dianggap anak aneh, tapi aku bingung dengan keadaan kelasku yang harus selalu berubah. Belum lagi aku hafal dengan nama teman-temanku, kami sudah harus ganti seragam lagi. Isi kepalaku yang sudah dari sana memang sedikit ini sekarang malah bertambah sedikit bahkan hampir kosong melompong. Entah kemana dia menghilang, kemarin dia ngacir ke mall, refreshing katanya, sekarang dia malah nangkring di bus kota karena ingin pulang kampung.
                Ampun Bapak, ampun Ibu, ampun Pemerintah, aku makin goblok. Aku sudah tak tahu harus kemana lagi agar bisa mengerti cara masang tali sepatu yang baik dan benar. Aku ingin tahu hasil kali empat kali empat, tapi malah di kasih tahu hasil kali pake rumus integral akar kuadrat. Isi kepalaku juga sudah tersesat karena ngelayap seharian. Sepertinya esok aku harus bertolak ke bulan, naik sapu terbang sama Mbah Surip. Namaku Sardi, harap diingat dan dicamkan baik-baik! Esok ketika aku pulang, akan kubawakan oleh-oleh dari bulan dan aku tak akan bodoh lagi. Ingat itu![Hendra Setiawan]

About the author

Admin
Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar:

Copyright © 2013 LPMM ALPHA and Blogger Themes.