Kebijakan Sistim Online perlu dipertanyakan?

Saat ini dunia sudah memasuki era persaingan global, mau tidak mau kita dipaksa untuk mengikuti perkembangan jaman. Diantaranya kita sudah mulai dipaksa dengan berbagai sistem global dan kapital sebut saja komputerisasi. Berbagai aktifitas rutin yang selayaknya dijalankan di dunia nyata, kini mulai beralih ke dunia maya. Begitu pun dunia pendidikan yang mulai merangkak maju memasuki era tersebut. Berbagai kebijakan mulai diterapkan pada sistem yang berbasis online. Contoh kebijakan yang sedang booming saat ini adalah penerapan sistem online pada pendaftaran SNMPTN. Disini kita dimungkinkan untuk dapat mengakses berbagai keperluan dan kelengkapan pendaftaran SNMPTN dengan lebih nyaman dan efisien mulai dari mengisi formulir pendaftaran sampai dengan mencetak kartu tanda peserta ujian.

Pendaftaran mulai dibuka tanggal 2-31 Mei 2010. Suasana di tiap-tiap perguruan tinggi negeri pun tahun ini tampak lebih sepi. Semua ini dikarenakan pihak universitas tidak lagi membuka pelayanan pendaftaran seperti biasanya, melainkan hanya menyediakan media informasi mengenai cara melakukan pendaftaran dengan cara online.

Penggunaan sistem ini bertujuan memudahkan para mahasiswa baru, sebab para pendaftar SNMPTN nantinya tidak butuh antrian yang panjang, melelahkan dan berpanas-panasan untuk pembelian formulir. Mereka bisa membuka pendaftaran dimanapun melalui fasilitas internet. Efektiftas, efisiensi, dan jauh lebih cepat merupakan alasan yang dikemukakan oleh Menteri Pendidikan M.Nuh. Biaya operasional yang harus dikeluarkan juga bisa lebih ditekan.

Meskipun demikian, permasalahannya adalah harus dipikirkan calon peserta di daerah terisolasi yang sulit mendapatkan akses internet. Dimana mereka membutuhkan jarak puluhan kilo untuk bisa menggunakannya, ditambah lagi mereka masih belum mahir dalam penggunaan internet. Seperti daerah Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Daerah inilah yang rawan terkendala teknologi dalam penerapan sistem online. Oleh karena itu, panitia pelaksana SMPTN perlu memberikan memberikan perhatian khusus untuk wilayah-wilayah tersebut. Penerapan teknologi dan sistem baru harus membutuhkan sosialisasi ekstra keras tentunya, terutama bagi kalangan terpencil yang mayoritas masyarakatnya belum melek teknologi. Karena jika tidak penggunaan sistem ini justru akan sangat merepotkan bagi mereka.

Menurut data dari tempat pendaftaran SNMPTN 2010, biasanya peserta SNMPTN sekitar 30.000 pendaftar, namun pada tahun ini memasuki minggu ketiga peserta yang mendaftar baru sekitar 11.000. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kurangnya sosialisasi pada peserta ujian, yang tidak tahu waktu dan cara pendaftaran.

Toni salah satu pendaftar SNMPTN 2010 mengungkapkan, ”Pendaftaran SNMPTN kali ini sangat merepotkan, penggunaan sistem online bikin saya minder mas, karena saya datang dari desa dan belum pernah menggunakan internet sebelumnya, hanya sebatas tau dari tivi, saya harus tanya kesana-sini dan bolak-balik kewarnet untuk bisa mendaftar, apalagi jaringannya seringkali macet karena terlalu banyak yang mengakses”. Toni sendiri masih beruntung karena masih mau bertanya, tidak sedikit dari calon pendaftar yang sama-sama dari desa dan belum menguasai penggunaan internet.

Calon peserta SNMPTN berasal dari beragam latar belakang pendidikan,kultur sosial dan budaya. Baik itu anak kota atau desa, kalangan atas atau menengah ke bawah, serta golongan yang gaptek (gagap teknologi) ataupun hytek (sudah mengenal teknologi) semuanya berbondong untuk mendaftar SNMPTN. Karena jalur ini merupakan jalur satu-satunya untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri yang pada umumnya diidam-idamkan oleh calon mahasiswa baru. Biaya terjangkau, fasilitas lebih menunjang serta beasiswa yang mudah didapat sejatinya adalah hal mereka harapkan ketika diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Pendaftaran SNMPTN ini tentunya memiliki kontribusi yang besar bagi impian mereka. Hal ini merupakan langkah awal untuk meraih mimpi yang selama ini mereka tunggu-tunggu.

Seyogyanya kita memberikan kemudahan-kemudahan bagi mereka yang akan mendaftar, bukan tambah mempersulit dengan mengenalkan sistem baru yang tidak semuanya menguasainya. Karena bagaimanapun pemahaman dan penguasaan teknologi dunia informasi merupakan hal yang harus dimiliki oleh calon peserta SNMPTN ketika menggunakan sistem baru ini. Di tengah infrastruktur yang masih terbatas dan tidak merata, baik infrastruktur internet maupun komputer yang akan dipakai untuk registrasi online. Sosialisasi sistem online tentunya merupakan pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan oleh pihak panitia SNMPTN.

Kebijakan tetaplah sebuah kebijakan, yang masih perlu dikaji baik atau buruknya. Apakah kebijakan tersebut benar-benar memberikan kenyamanan bagi calon mahasiswa baru dan dapat membawa kita menuju efiesiensi, efektivitas seperti yang selama ini diharapkan atau malah tambah merepotkan pendaftar karena kurangnya kesiapan dan sosialisasi dalam penerapan sistem ini. Serta malah memunculkan masalah baru seperti kesenjangan sosial yang semakin terbuka antara anak desa yang buta teknologi dengan si kota yang memang sudah terbiasa dunia informasi dan kerapkali mengikuti perkembangan jaman.[Avan]

About the author

Admin
Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar:

Copyright © 2013 LPMM ALPHA and Blogger Themes.