Langsung ke konten utama

Entah kita masih mahasiswa atau sekedar robot

Sudah cukup lama rasanya saya menjadi seorang mahasiswa. Sebuah kata yang cukup memberatkan dan membebani bila berkaca dari sudut pandang masyarakat. Kita akan selalu dinilai sebagai seorang civitas akademika yang penuh dengan ide “mentereng”. Namun apa yang terjadi sebenarnya? Mahasiswa kini hanya sibuk berkutat dengan beragam kegiatan akademis dan cenderung bersikap apatis akan kondisi lingkungan sosianya. Rendahnya kemampuan mengkaji  beragam permasalahan dan kurangnya kemampuan untuk mengsinkronkan ilmu yang didapat dengan pengaplikasiaanya di masyarakat menjadi sebuah momok tersendiri.
Pragmatisme mahasiswa kini berada pada titik nadir. Kampus menjadi Pulau Elba yang asing, yang fungsinya sebatas melaksanakan knowlegde transfer tanpa social value. Karenanya, insan pendidikan tinggi terjebak dalam pandangan sempit. Kuliah dimaknai tak lebih dari balapan lari. Mereka berlomba untuk menjadi nomor satu secara akademik kemudian bekerja di tempat nyaman dan terjamin. Hal bertendensi egosentris ini telah menjadikan pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi pincang, setelah mahasiswa hanya menderas pendidikan dan penelitian tanpa dibarengi pengabdian.
            Begitu banyak kita hanya terkungkung dalam ranah pengertian yang sempit tentang pendidikan. Cukup dengan bangku pendidikan dan buku teks kita akan mendapat ilmu lalu “disulap” menjadi seorang mahasiswa, padahal ilmu tak harus dari dunia formal. Sebuah pikiran praktis yang harus dibuang jauh-jauh karena posisi kita yang sangat strategis. Peran strategis tersebut dirumuskan dalam tri dharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian pada masyarakat. Sebagai suatu konsesus nasional, tri dharma menjadi modal penggerak sekaligus cita-cita perguruan tinggi, apapun itu bentuk perguruan tinggi tersebut.
Mirisnya, kini mereka hanya tercetak sebagai sebuah robot yang patuh dan tunduk dalam sebuah kungkungan sistem. Tak pernah terbesit untuk peduli dan berusaha berbagi  dengan saudara-saudara mereka di luar sana.  Begitu jarang mereka berbicara tentang dunia yang tak penting untuknya, hanya tentang bagaimana melahap buku akademis dan terus terkungkung dengan persepsi dalam pendidkan yang berkualitas. Kita berbicara tentang akreditasi yang baik, A, B, C, D, E, dan seterusnya dengan sistem birokratik kolonial yang apik. Cukup itu saja.
            Padahal begitu indah tertuang dalam beragam buku dan pengertian serta jurnal ilmiah bahwa mahasiswa adalah seorang civitas akademika yang berlandaskan tri dharma perguruan tinggi, tercetak dalam huruf besar nan tebal. Namun begitu berkebalikan dengan kenyataan yang ada. Begitu jarang mereka yang mampu memposisikan diri menjadi mahasiswa yang berprestasi akademik baik, sekaligus dapan menjadi agent social of change dan agen pengontrol (agent social of control) terhadap masyarakat serta kebijakan publik. Kita hanya mampu menghafal banyak buku dalam waktu singkat tanpa mampu memperhatikan bagaimana esensi pendidikan yang dijalani. Sebuah kenyataan yang miris mengingat negeri kita lambat laun akan diwariskan di atas pundak ini.
            Tak hanya mahasiswa study oriented yang sedang bermasalah dan mengalami krisis “jati diri mahasiswa”. Entah disadari atau tidak, kini begitu banyak mahasiswa yang telah mandul dengan ide kreatif, konstruktif. Kini mereka telah kering dengan jiwa kepemimpinan, dan hanya pintar menjilat untuk memuaskan nafsu mereka sendiri. Mereka berani menjual nama mahasiswa hanya demi jumlah nominal yang secuil kemudian mengkotak-kotakan pergerakan mahasiswa itu sendiri (antara Negeri dengan Swasta),
Reformasi tidak lagi menjadi semangat yang membakar jiwa-jiwa revolusioner, kini, reformasi hanya menjadi jargon untuk mendapatkan kursi, kekuasan, dan jabatan. Reformasi telah beralih fungsi menjadi ideologi pragmatis (pragmatic ideology) dari sebuah kepentingan. Ini bukan kesalahan siapa-siapa, tapi ini adalah kesalahan mereka yang tidak mempunyai karakter, nasionalisme mereka tumpul dan wawasan kebangsaan mereka dangkal, mereka tidak siap untuk memimpin bangsa ini karena mereka tidak mempunyai formula untuk menyelesaikan segala bentuk permasalahan bangsa, oleh karena itu mereka mudah untuk diombang-ambing dan dikelabui dengan sogokan nominal yang secuil.
Yang harus kita lakukan sekarang adalah, melakukan gerakan “pemurnian” mahasiswa dan mengembalikan mahasiswa kepada fungsinya, yaitu sebagai agent of change, tentu saja dengan landasan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tentunya dengan pertimbangan yang logis, etis dan estetis.Berharap kita akan berubah dan bukannya menjadi seseorang yang pragmatis, parsial dan simplistic.
Hanya satu kata yang dibutuhkan. Bergerak, bergerak, dan terus bergerak saat ini juga sebab kita adalah mahasiswa! Namun tentunya bukan karena kita ingin mendapatkan gelar pahlawan. Jauh-jauh hari kita mesti sadar kalau mahasiswa bukanlah superman yang bisa melakukan segala hal. Hanya agar sinergi masyarakat kampus dan rakyat dapat terbangun kembali seperti diharapkan selama ini, dan kepincangan pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat ditegakkan kembali.[Hendra Setiawan]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia