Langsung ke konten utama

Pos Satpam

Universitas Jember mempunyai pos satpam yang sudah berdiri yang terdapat di masing-masing fakultas, di dekat perpustakaan, serta di pos-pos yang menyebar merata di seluruh kampus UNEJ dengan kantor pusat satpam di Gedung Rektorat. Pos-pos satpam ini dibangun semata-mata hanya untuk menjaga kondisi sekitar selalu dalam kondisi aman. Akan tetapi, tidak semua pos ,menjalankan fungsinya dengan baik.

Ada sebagian pos satpam yang berubah fungsi menjadi sebuah bangunan yang tak dihiraukan lagi, termasuk pos satpam yang berada di sebelah barat Gedung Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pos satpam ini sudah tidak digunakan lagi. Menurut Pak Syamsuri, salah satu penjaga pos satpam 3, masalah pos satpam yang tidak digunakan lagi itu sebenarnya wewenang dari fakultas sendiri.


Selain pos satpam yang berada di fakultas, juga terdapat pos satpam umum termasuk pos satpam 3. Pos satpam 3 ini terletak di sebelah selatan agroteknopark, yang dulunya dijadikan sebagai laboratorium pertanian. Pos satpam 3 ini juga berada di bawah wewenang satpam pusat yang bertempatkan di kantor rektorat Universitas Jember. Pak Yusi Alfianto, selaku coordinator pos satpam 3 menuturkan bahwa ada bangunan kecil pada jalan sebelah kiri double way, tepatnya disasmping kanan UKM Resimen Mahasiswa yang layaknya pos satpam lainnya. Namun, tempat itu adalah tempat berkumpulnya para darmawanita untuk rapat.

Inilah realita tentang masalah pos satpam yang berada di Universita Jember ini. Masih ada pos satpam yang tidak digunakan lagi dan itu hanya menjadi sebuah bangunan kosong tak berpenghuni yang tidak digunakan. Alangkah baiknya jika bangunan itu digunakan sebagai pos satpam lagi atau dipindahfungsikan menjadi bangunan yang lebih bermanfaat. Agar tidak sia-sia pembangunan gedung yang tentu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dan tidak hanya sebagai ‘pelengkap’ kampus. [Laily, Anik]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia