Langsung ke konten utama

Dekan Baru Dilantik, Pembantu Dekan Mengundurkan Diri


Dekan Baru Dilantik, Pembantu Dekan Mengundurkan Diri

Oleh : Zainul Anwar & Ika Wahyuni

Kamis, 14/01/2016, dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember resmi dilantik oleh Rektor, Drs. Mohammad Hasan, M.Sc., Ph.D. di gedung Rektorat Universitas Jember. Pelantikan ini langsung mendapat respon dari pihak dekanat FMIPA. Pembantu Dekan (PD) FMIPA meminta pemberhentian tugas dengan mengirimkan surat pengunduran diri secara personal. Padahal masa jabatan Pembantu Dekan seharusnya berakhir pada bulan Maret mendatang. Pembantu Dekan III FMIPA, Nurul Priyantari, S.Si., M.Si. menunjukkan surat pernyataan pengunduran dirinya dengan mengirimkan gambar via forum whatsapp Organisasi Mahasiswa (ormawa) pukul 10.04 WIB tadi pagi (14/01/2016). Dalam surat tersebut, Pembantu Dekan I, Drs. Siswanto, M.Si., Pembantu Dekan II, Drh. Wuriyanti Handayani, M.Si., dan Pembantu Dekan III Nurul Priyantari, S.Si., M.Si. menyatakan mengundurkan diri. Segala sesuatu yang terkait dengan tugas-tugas pembantu dekan dilimpahkan kepada dekan FMIPA yang baru dilantik. Surat tersebut telah ditandatangani di atas materai oleh yang bersangkutan.
           Siswanto selaku PD I membenarkan kabar pengunduran diri Pembantu Dekan yang berkaitan dengan pelantikan dekan tersebut. Siswanto sebagai anggota senat memaparkan bahwa fungsi senat sudah tidak dihargai lagi. Ia merasa kecewa atas keputusan pelantikan dekan FMIPA, sehingga tidak ada alasan untuk melanjutkan tugasnya. Beliau juga menyatakan bahwa demokrasi di FMIPA  sudah mati. “Dulu kita sangat menghargai demokrasi, selisih satu suarapun tetep akan dilantik”, jelas Siswanto. Surat Keputusan (SK) Pembantu Dekan satu paket untuk Pembantu dekan I, II dan III, sehingga memang permohonan pengunduran diri dibuat atas nama tiga Pembantu Dekan.
Ilustrasi: Ihsan.alpha
Aksi pejabat dekanat ini menimbulkan keresahan bagi mahasiswa. Deni, mahasiswa Matematika 2012 mengatakan bahwa pengunduran PD  bisa menghambat acara yang telah diprogramkan oleh beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Terus piye proposal acara UKM, gak bisa dapet tanda tangan iki,” terang Gap (sapaan akrab Deni, red). Tak hanya berimbas kepada ormawa, bagi mahasiswa tingkat akhir juga memperoleh buah pahitnya. Kesulitan memperoleh tanda tangan pihak dekanat menjadi masalah utama. Seperti yang diungkapkan Alhabsy, mahasiswa Biologi angkatan 2012 mengungkapkan “pengunduran ketiga PD tentu akan menganggu akademis mahasiswa FMIPA,   salah satunya dalam proses adiministrasi pengurusan proses wisuda”. Hal serupa juga diungkapkan oleh Fahrizal, mahasiswa Biologi angkatan 2011 “secara pribadi sangat mengganggu, yang seharusnya tepat waktu bisa jadi molor gara-gara permasalahan ini”. Fahrizal menambahkan “Isu ini sangat mengganggu bagi saya, namun tidak bisa menyalahkan ketiga PD tersebut, harus tau juga latar belakang masalah tersebut. Karena sebagai mahasiswa mengharap permasalahan ini segera diselesaikan dengan tidak memutar balikkan fakta,” tambah mahasiswa yang akan sidang skripsi besok (Jumat, 15/01/2016).
Bukan hanya mendapat perhatian dari mahasiswa, pengunduran diri ini pun menuai komentar dari Ketua Jurusan (Kajur) Matematika, Kosala Dwija Purnomo, M.Si. Ia mengungkapkan, “Kalau masalah pengunduran diri itu memang haknya tapi harusnya dipertimbangkan konsekuensinya, apalagi masa jabatan kurang 2 bulan lagi aja kok buat gonjang-ganjing. Nanti urusan mahasiswa bisa terbengkalai dan harusnya itu diajukan ke rektor”. Pihak Jurusan Matematika tidak terlalu mempermasalahkan siapa saja yang terpilih sebagai dekan dan mementingkan berjalannya kegiatan akademis di jurusan. “Kalau jurusan ya profesional, siapapun yang diangkat kita tetap menjalankan tugas akademis. Tidak boleh menelantarkan mahasiswa supaya Tri Dharma tetap jalan,” tegas kajur Matematika.
Setelah diklarifikasi kepada Drs. Siswanto, M.Si. mengenai administrasi pengurusan wisuda, PD I mengungkapkan bahwa mahasiswa yang mengurus administrasi pada pihak dekanat masih bisa menemui ketiga PD selama SK pengunduran diri dari rektor belum turun namun ketiga PD ini tidak bisa ditemui di ruangan dekanat. “ Kami (PD, red) bukan mau meninggalkan tanggung jawab ke anak-anak kami, sebelum ada keputusan rektor, kami masih melayani sebagai PD,” jelas PD sekaligus dosen Mikrobiologi tersebut. Setiap Pembantu Dekan dapat ditemui di ruangannya masing-masing ketika mahasiswa hendak mengurus hal-hal yang berhubungan dengan Pembantu Dekan.
Bersamaan dengan pengunduran ketiga tokoh dekanat, Drs. Rudju Winarsa, M.Kes. sebagai  kepala laboratorium (Kalab) telah mengundurkan diri dari jabatannya`sebagai bentuk protes terhadap keputusan pelantikan dekan. Tak beda jauh dengan Rudju Winarsa, pernyataan mundur juga dilakukan oleh Kepala Prodi S2 Biologi (Dr. Hidayat Teguh Wiyono, M.Pd.) . “Saya mundur bukan karena pilihan dekan, tapi karena saya tidak bisa dipimpin oleh dekan hasil KKN. Tokoh anti korupsi kok menerima hasil KKN,” jelasnya. Kedua dosen ini menyatakan secara tegas dan telah membuat surat pengunduran diri yang ditujukan kepada rektor dan dekan.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia