Langsung ke konten utama

Dapat Laporan, Dekan Bubarkan Panitia Ospek

Dapat Laporan, Dekan Bubarkan Panitia Ospek


ALPHA - Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember membubarkan panitia Aktualisasi Visi dan Misi Orientasi Mahasiswa MIPA (Aksioma) 2016. Panitia ospek tingkat fakultas yang telah terbentuk sesuai term of refference (TOR) yang disetujui Pembantu Dekan III tersebut nyaris dibubarkan jelang hari pertama acara, 03/09 lalu. Hal ini dilakukan karena dekan mendapat teguran rektor dengan alasan bahwa penyelenggaraan orientasi mahasiswa Fakultas MIPA dianggap telah melanggar aturan dalam Surat Keputusan (SK) rektor dan Direktoral Ormawa.
Teguran yang disampaikan oleh rektor kepada dekan tersebut sebagai tindak lanjut pengaduan wali mahasiswa melaui surat pengaduan Universitas Jember kepada  rektor. Orang tua atau wali mahasiswa tersebut menganggap panita Aksioma telah melakukan perpeloncoan terhadap anaknya.
Setelah dikonfirmasi kepada ketua panitia Aksioma, Taqrub, 2015, masalah ini hanyalah akibat salah pemahaman informasi mahasiswa terhadap dress code yang diberikan panitia. Panitia memang tidak menjelaskan secara gamblang mengenai foto diri dengan menggunakan make up seram kepada calon peserta ospek. “Sebenarnya ya kesalahan aku juga, panitia tidak menjelaskan secara eksplisit, kata make up seram yang dimaksud itu seperti apa. Kalau mengacu pada tahun lalu ‘kan hanya lipstick hitam, tapi mahasiswanya sendiri totalitas, ya kesalahan hanya pada itu, salah persepsi,” terang Taqrub.

Berkaitan dengan hal tersebut ospek akan dilaksanakan selama sepuluh minggu dalam satu semester gasal. Acara ospek tingkat fakultas dan jurusan akan menjadi satu rangkaian dalam kegiatan P2MABA yang dipanitiai oleh staf fakultas dan perwakilan dari mahasiswa. Rangkaian ini untuk mengantisipasi kejadian serupa pada ospek jurusan karena panitia ospek yang disusun oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) juga dibubarkan.[]
 Moh Ihsan Fadli

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

Salah Satu Ikon Jember, Tari Petik Kopi

Oleh : Tri Widagdo Tari petik kopi, tentu nama tari ini sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Tari yang satu ini berasal dari kota yang terkenal akan karnaval fashionnya. Ya, kota Jember, kota yang baru - baru ini juga dinobatkan sebagai kota karnaval oleh Menteri pariwisata. Dari namanya sendiri tari ini sudah menunuju k kan suatu identitas tersendiri,   yaitu tarian ini berusaha menggambarkan kondisi masyarakat Jember yang mayoritas komoditasnya pertanian dan perkebunan kopi.   Gerakan-gerakan yang ada dalam tarian ini menggambarkan suka cita masyarakat saat musim panen tiba dan selama proses memanen kopi. T arian yang tergolong masih muda umurnya ini, yaitu diciptakan pada tahun 2013 , digagas oleh U niversitas J ember (UNEJ) yang kala itu mengamati kehidupan masyarakat Jember dimana sebagian besar komoditasnya adalah perkebunan kopi. UNEJ saat itu ingin memunculkan suatu kesenian yang   mencerm

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia