Langsung ke konten utama

Kepengurusan Baru, Harapan Baru Masyarakat MIPA


Senin (22/01) pelantikan pengurus ORMAWA (Organisasi Mahasiswa MIPA) dilaksanakan di Auditorium fisika Fakultas MIPA Universitas Jember. Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus BEM, DPM, HMJ dan UKM di area fakultas MIPA. Dekan dan wakil dekan fakultas MIPA juga turut hadir untuk sekaligus melantik dan memberikan arahan bagi kepengurusan selanjutnya. Pelantikan diawali dengan sambutan ketua panitia dan bapak Rusli Hidayat M.Sc selaku wakil dekan III Fakultas MIPA. Kepengurusan tahun ini merupakan kepengurusan pertama yang disahkan pada bulan Januari, karena biasanya dimulai padaa bulan April. “Regenerasi kepengurusan perlu diperhatikan bagi setiap ORMAWA di lingkungan MIPA” begitu salah satu arahan wakil dekan III. “Pengurus baru diharapkan mampu membagi waktu antara proporsi kuliah dan organisasi sehingga dapat menyelesaikan masa studi dengan baik” tambahan beliau pada kesempatan tersebut. Bapak Rusli juga menjelaskan akan diadakannya UKM baru, yakni UKM penalaran yang nantinya dapat mewadahi Mahasiswa MIPA dalam mengembangkan sikap kritis dan objektif.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan keputusan oleh kasubag Akademik sebagai tanda habisnya masa jabatan kepengurusan lama, dan digantikan oleh kepengurusan baru selanjutnya. Acara inti kali ini merupakan pelantikan pengurus BEM, DPM, HMJ dan UKM yang dipandu langsung oleh dekan Fakultas MIPA Drs. Sujito, Ph.D.Selain ucapan selamatdan semnagata yang diberikan, sambutan yang mengiringi acara pelantikan menjadi arahan sekaligus kabar baik yang perlu diperhatikan bagi masyarakat MIPA, terlebih pengurus ORMAWA. “pengurus baru merupakan orang pilihan, sehingga diharapkan mampu menunjukkan kinerja yang baik dan mengajak pada hal-hal yang baik dan positif sehingga mampu membawa nama baik fakultas MIPA, nama baik sendiri, terlebih keluarga” ucap beliau sebagai arahan bagi para pengurus ORMAWA. Bapak dekan juga menghimbau untuk mencermati dan memikirkan dengan matang kegiatan yang akan menjadi program kerja setiap ORMAWA sebelum didiskusikan dengan pihak dekanat. Setiap ORMAWA juga diarahkan untuk lebih sering berkonsultasi dengan pembina masing-masing. “diharapkan kepada pengurus mampu memotivasi anggotanya untuk lebih aktif lagi” tambah bapak dekan pada kesempatan tersebut. Kabar lainnya yang dsampaikan pihak dekanat melalui sambutan bapak dekan antara lain himbauan kepada masyarakat MIPA terlebih penghuni gedung ORMAWA supaya tidak gaduh ketika adzan sedang berkumandang. Hal lainnya adalah perubahan jam kuliah yang  berubah disesuaikan dengan jadwal sholat dzuhur dan ashar. Pertimbangannya didasarkan pada mayoritas masyarakat MIPA yang beragama islam, sehingga diusahakan untuk tidak mengganggu kegiatan ibadah. Bapak dekan juga membakar semangat mahasiswa MIPA supaya mampu beperan aktif dalam kegiatan ON MIPA dan pengajuan PKM yang merupakan ajang menunjukkan bakat dan potensi mahasiswa. Acara dilanjutkan dengan pembacaan ikrar pengurus yang dipimpin langsung oleh ketua BEM FMIPA tahun 2018. Ikrar yang berjalan dengan khidmat diharapkan mampu menjadi awal baik untuk tonggak kepengurusan selanjutnya. Acara pelantikan ditutup dengan do’a dan foto bersama oleh masing-masing ORMAWA.
Reporter ; Inny 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia