Langsung ke konten utama

PEMILIHAN UMUM KETUA DAN WAKIL KETUA BEM FMIPA PERIODE 2019

Oleh: Vina Soraya

Jember 19 Desember 2018. Telah dilaksanakan kegiatan pemilihan ketua dan wakil ketua BEM  FMIPA periode 2019 di Gazebo matematika Fakultas MIPA Universitas Jember. Terdapat dua pasangan calon ketua dan calon wakil ketua BEM FMIPA yang mencalonkan diri. Kedua calon tersebut yaitu dengan nomor urut satu Nadya Rismana dan Ach Zulvi Nurin Naufal, nomor urut dua Irham Afidatul dan Dimas Sony Santoso. Acara pemilihan ketua dan wakil ketua BEM FMIPA periode 2019 diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM). Sebelum diadakan pemilihan ketua dan wakil ketua BEM FMIPA periode 2019 ini terdapat acara debat calon ketua dan calon wakil ketua BEM FMIPA periode 2019 yang dilaksanakan pada Senin 17 Desember 2018. Acara debat calon ketua dan calon wakil ketua BEM FMIPA periode 2019 ini dihadiri oleh seluruh warga FMIPA. Melalui acara tersebut seluruh warga FMIPA dapat bertanya langsung kepada calon ketua dan calon wakil ketua BEM FMIPA periode 2019. Sayangnya, acara tersebut tidak begitu disambut hangat oleh warga FMIPA sendiri. Hal ini ditunjukan dengan sepinya warga FMIPA yang datang ke acara debat tersebut.
            Andik selaku ketua KPUM tahun 2018 menuturkan “Memang antusias warga FMIPA dalam acara pemilu tahun ini sangat kurang, pada saat acara debat calon ketua dan calon wakil ketua BEM FMIPA periode 2019 sedikit sekali warga FMIPA yang hadir. Sehingga saat acara pemilihan pagi ini masih banyak warga FMIPA yang kurang mengetahui personal calon ketua dan wakil ketua yang akan dipilih”
            Kurangnya antusias warga FMIPA dalam acara pemilihan ketua dan wakil ketua BEM FMIPA periode 2019 dikarenakan beberapa faktor diantaranya jadwal pemilihan bertepatan dengan Ujian Akhir Semester (UAS) semester gasal, kurangnya publikasi dari pihak KPUM dan renggang waktu kampanye yang singkat. Kampanye dilakukan hanya dua hari saja pada hari Jumat – Sabtu 14, 15 Desember 2018.
            Taqrub salah satu mahasiswa FMIPA menjelaskan “Perbedaan pemilihan tahun 2018 dan 2017 memang terlihat jelas, dimana pemilihan tahun 2017 terlihat semangatnya. Seharusnya sebagai mahasiswa FMIPA harus sadar pentingnya pemilu ini. Sebagai warga FMIPA seharusnya mengingatkan warga FMIPA lainnya untuk menggunakan hak suara dalam pemilihan ketua dan calon ketua BEM FMIPA periode 2019 ini”
            Jumlah seluruh mahasiswa aktif FMIPA yang memiliki hak suara yaitu 1082 orang. Namun hanya 621 mahasiswa FMIPA yang menggunakan hak suaranya dalam pemilihan ketua dan wakil ketua BEM FMIPA periode 2019 ini. Berdasarkan hasil pemungutan suara diperoleh hasil pasangan calon satu memperoleh 156 suara, pasangan calon dua memperoleh 440 suara dan terdapat 25 suara yang tidak sah.

Komentar

  1. Good job, langsung ada artikel yang hanya berselang beberapa menit setelah kegiatan usai.

    BalasHapus
  2. Keren, up to date :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia