Langsung ke konten utama

POTRET HUTAN INDONESIA


Oleh : Jihan Febryan Damayanti
Hutan merupakan habitat bagi beragam jenis flora dan fauna yang berkembang di Indonesia. Selain menjadi habitat bagi flora dan fauna tentunya puluhan juta rakyat Indonesia juga bergantung pada ekosistem hutan untuk kelangsungan hidup mereka.  Hutan di Indonesia menduduki urutan ketiga hutan terluas di dunia setelah Brasil dan Republik Demokrasi Konggo. Lembaga independen pemantau hutan Indonesia menyatakan 82 juta hektare luas daerah Indonesia masih tertutupi oleh hutan. Tipe – tipe hutan di Indonesia berkisar dari hutan – hutan Dipterocarpaceae dataran rendah yang selalu hijau di Sumatera dan Kalimantan, hutan monsoon musiman dan padang savanna di Nusa Tenggara, serta hutan – hutan non-Dipterocarpaceae dataran rendah dan kawasan alpin di Irian Jaya. Selain hutan yang telah disebutkan tersebut Indonesia juga memiliki hutan mangrove yang tercatat sebagai hutan mangrove terluas di dunia. Luasnya diperkirakan 4,25 juta hektar.
Namun, saat ini keberadaan hutan mengalami ancaman kritis. Kehilangan tutupan hutan di Indonesia yakni seluas 928 ribu hektar pada tahun 2012, tahun 2014 berkurang sebesar 796,5 ribu hektar, dan tahun 2015 nerkurang sebesar 735 ribu hektar. Ancaman hilangnya hutan ini sangat dirasakan di Kalimantan. Dari sekitar 74 juta hektar luasan hutan di Kalimantan hanya tersisa 55% di tahun 2015. Artinya jika dikalkulasikan Kalimantan akan kehilangan 6 juta hektar hutan hingga 2020 dan hanya sepertiga luas hutan yang tersisa di Indonesia. Angka penurunan luasan hutan tersebut belum mencakup secara keseluruhan data kebakaran hutan dan lahan gambut di penghujung tahun.  
Kerusakan atau ancaman yang paling besar terhadap hutan alam di Indonesia adalah penebangan liar, alih fungsi hutan, kebakaran hutan, dan eksploitasi hutan secara tidak lestari baik untuk pengembangan pemukiman ataupun akibat perambahan. Penebangan liar marak terjadi diyakini telah menghancurkan sekitar 10 ribu hertar hutan setiap tahunnya. Kondisi hutan di Indonesia banyak yang dialih fungsikan dari hutan produksi terbatas menjadi hutan produksi, dari hutan lindung menjadi hutan produksi. Hal ini tentunya mengancam habitat yang berada di hutan tersebut. Terdapat pula pabrik – pabrik yang membutuhkan kayu sebagai bahan pokoknya, misalnya pabrik kertas. Kayu tersebut banyak didapatkan dengan cara mengorbankan hutan yang ada di Indonesia. Selain pabrik yang membutuhkan kayu sebagai bahan pokok, saat ini juga banyak usaha pertambangan yang dilakukan di wilayah hutan. Usaha pertambangan tersebut mengambil kandungan yang berada di bawah tanah yang otomatis akan merusak hutan. Tak jarak banyak hutan yang dialih statusnya karena kegiatan pertambangan oleh pemerintah.
Kerusakan yang diakibatkan kebakaran, penebangan liar dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Oknum ini tentunya masyarakan itu sendiri. Kebakaran hutan yang dilakukan dengan sengaja biasanya bertujuan untuk membuka lahan baru. Namun, cara ini tentunya akan merusak hutan. Dampak dari kebakaran hutan yang dilakukan dengan sengaja sangat besar, karena selain kehilangan tumbuhan yang ada di hutan tersebut tentunya juga akan kehilangan satwa – satwa. UU No. 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H) dirasa belum tegas dalam pelaksanaan dan penegakannya. Hal ini dapat dikatakan begitu karena hingga saat ini masih banyak aksi – aksi yang berdampak hilangnya hutan di Indonesia.
Kerusakan hutan yang semakin parah mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem hutan dan lingkungan sekitarnya. Contoh nyata yang terjadi adalah konflik ruang antara satwa liar dan manusia. Rusaknya hutan yang menjadi habitat satwa liar menyebabkan mereka bersaing dengan manusia untuk mendapatkan ruang mencari makan dan hidup. Kerusakan hutan ini juga akan menyebabkan semakin panasnya suhu dunia. Peristiwa ini juga disebut global warming atau pemanasan global. Tentunya hal tersebut dapat terjadi, karena hutan merupakan paru – paru dunia. Hutan terdiri dari banyak pohon dan tumbuhan hijau yang mampu menyerap karbondioksida (CO2) dan menghasilkan Oksigen(O2). Apabila hutan semakin hilang dan musnah maka semakin sedikit pula pepohonan yang ada di bumi ini dan karbondioksida (CO2) tidak dapat diubah menjadi Oksigen dengan jumlah pohon atau tumbuhan yang sedikit.
Keberadaan hutan sangat penting bagi keberlangsungan ekonomi Indonesia dan menjadi benteng terakhir untuk mitigasi bencana lingkungan dan iklim global. Upaya yang bisa dilakukan agar hutan tidak semakin habis yaitu melindungi hutan dan ekosistem gambut dengan basis hukum yang lebih kuat, sering melakukan reboisasi, menerapkan system tebang pilih, menerapkan system tebang tanam, dan mencegah terjadinya kebakaran hutan. Cara lain untuk memperbaiki paru – paru dunia ini dengan mewujudkan Indonesia bebas deforestasi pada tahun 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

ANDROMEDA XIX Berlangsung Meriah

ALPHA-Mahasiswa berjoget bersama.(Foto: Maknun Alpha) ANDROMEDA XIX Berlangsung Meriah        ALPHA  - ANDROMEDA XIX  atau  Diesnatalis Himpunan Mahasiswa Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (HIMAFI ) ke-19 berlangsung meriah pada Sabtu (21/05) kemarin. Acara yang mengusung tema APOLLO ( Annual Party With Traditional Style ) itu diadakan di lapangan Fakultas MIPA dari pagi sampai malam. Pagi harinya diadakan jalan santai ( colour run) yang diikuti oleh semua warga fisika baik dosen maupun mahasiswa. Sedangkan pada malamnya merupakan puncak perayaan acara tersebut . Pembukaan puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh dosen Jurusan Fisika, Artoto Arkundato. Dengan me nampilkan beberapa lagu beat dan mengundang DJ sebagai guest star , Andromeda berhasil memukau tamu undangan yang sedang menikmati malam minggunya. Tak hanya guest star , malam puncak tersebut juga melibatkan peran aktif mahasiswa dari angkatan 2012 hingga 2015. Mer