Langsung ke konten utama

WAJAH BARU EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF ORMAWA



Oleh : Jihan Febryan D



BEM dan BPM FMIPA UNEJ sampaikan visi misi dan program kerja kepengurusan dalam Roadshow to Ormawa (4/3) di Audtorium Fisika. Acara yang digelar dengan tema Get To Know Closer To Be Us Better menargetkan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia guna menunjang akreditasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember.  
Peserta yang datang dalam acara Roadshow to ORMAWA merupakan perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di FMIPA. Antusiasme dari mahasiswa FMIPA yang ingin melihat dan lebih mengenal BEM serta BPM sangat terlihat dari banyaknya peserta yang dating dan memenuhi ruangan. Peserta antusias untuk mengetahui lebih jelas program kerja yang akan dilaksanakan oleh BEM dan BPM. Mahasiswa yang hadir juga bias menyampaikan aspirasinya untuk FMIPA melalui angket yang dibagikan oleh BPM.
Kepengurusan BPM periode 2020 ini (yang pada periode sebelumya bernama Dewan Perwakilan Mahasiswa) memiliki konsep baru dalam beberapa program kerja yang dipaparkan, salah satunya PEMIRA (Pemilu Raya). BPM mencoba mengaplikasikan sistem demokrasi di Indonesia melalui sistem PEMIRA yang rencananya akan dilaksanakan pada akhir periode kepengurusan. Metode yang dipaparkan Komisi Legislasi merujuk pada penggunaan sistem partai untuk pengusungan calon Presiden dan Wakil Presiden BEM. Partai pengusung merupakan anggota Ormawa yang terdiri dari HMJ dan UKM. Calon Presiden dan Wakil Presiden BEM juga dapat maju secara independen apabila terlah memenuhi syarat yang telah ditepakan oleh KPUM (Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa).
Kepengurusan BEM pun tidak mau kalah. Progam kerja yang dipaparkan secara garis besar ditujukan guna menunjang akreditasi FMIPA melalui prestasi, baik bidang akademik maupun non akademik. Berdasarkan pemaparan semua departemen, peningkatan Sumber Daya Manusia menjadi fokus utama dalam program kerja BEM yang dinahkodai oleh Ryan Andersen Jaya Sentosa ini. Melalui Personal Branding, English Course, dan program kerja lainnya, BEM berusaha mengembangkan potensi mahasiswa FMIPA agar tidak hanya “jago kandang”.  
Melalui berbagai macam inovasi yang telah dikembangkan, seluruh warga FMIPA menaruh harapan besar pada BEM dan BPM selaku eksekutif dan legislatif untuk membangun ORMAWA FMIPA pada khususnya dan FMIPA sendiri pada umumnya untuk lebih baik lagi. Balqyz Lovelila salah satu perwakilan dari HIMAFI mengatakan, “Pemaparan Program Kerja dan tugas dari BEM dan BPM berdampak pada kompetensinya kita nanti kedepannya, karena bagaimanapun juga kita juga akan ikut berkontribusi. Dengan adanya roadshow atau pengenalan awal ini sangat membantu untuk kita kedepannya nanti”. Besar harapan dari semua warga FMIPA agar semua program kerja yang dipaparkan pada acara Roadshow to Ormawa kali ini benar-benar dapat terealisasi. Acara Roadshow to Ormawa selesai pukul 21.00 ditutup dengan jargon dari BEM FMIPA “Muda berkarya, tua Berjaya yayaya”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia