Langsung ke konten utama

9 Situs Jurnal Ilmiah Online yang Direkomendasikan oleh Kemendikbud

 

Oleh : Aisha Chitta N.

sumber:grid.id

 

ALPHA - Jurnal merupakan hal yang penting bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti. Jurnal dibutuhkan sebagai sumber referensi dalam penulisan karya ilmiah seperti skripsi maupun tesis yang dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir, termasuk bagi para peneliti. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berbagi tips serta rekomendasi dalam pencarian jurnal ilmiah agar didapatkan sumber jurnal ilmiah yang kredibel dan terpercaya. Adapun tips pencarian jurnal ilmiah dan 9 rekomendasi situs jurnal ilmiah online dirangkum dari laman Instagram Ditjen Dikti, Rabu (31/3/2021).

Tips mencari jurnal ilmiah

1. Mengecek domain situs jurnal

Mengecek domain situs jurnal sangat berguna agar memastikan situs tersebut memang kredibel. Situs yang bersangkutan adalah situs dengan domain khusus untuk penelitian dan akses pendidikan, misalnya .ac, .edu, .gov dan .org.

2. Memilih situs berdasarkan bidang keilmuan

Banyak situs jurnal dengan akses gratis juga memiliki bidang sesuai keilmuan, misalnya Pubmed untuk bidang ilmu Kedokteran, adapula Biomed Central (BMC) dalam bidang ilmu Science, Technology and Medicine.

3. Mengetahui kredibilitas portal dan pengindeks jurnal

Saat pencarian jurnal juga harus diketahui kualitas dari jurnal yang digunakan. Cara untuk mengetahui kualitas dari jurnal yaitu dengan memeriksa kualitas jurnal melalui protal pengindeks. Pengecekan kualitas jurnal nasional dapat melalui Sinta (Science and Technology Index) di laman https://sinta.ristekbrin.go.id/journals

Pada laman  portal tersebut kalian akan dapat melihat daftar jurnal nasional terakreditasi peringkat Sinta 1 hingga Sinta 6,sedangkan pada jurnal ilmiah internasional, juga dapat dicek pada ScimagoJR di laman https://www.scimagojr.com/journalrank.php .

Portal tersebut berisi informasi pemeringkatan jurnal mulai jurnal Q1 (Quartile 1) hingga jurnal Q4 (Quartile 4).

9 rekomendasi situs jurnal ilmiah online

Selain memahami cara mencari dan mengecek kredibilitas jurnal ilmiah, kamu juga dapat mencoba cari referensi sumber primer dari  beberapa laman portal berikut ini:

1. Garuda (Garba Rujukan Digital) Link: https://garuda.ristekbrin.go.id/

2. Perpusnas (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia) Link: https://e-resources.perpusnas.go.id/

3. Indonesia OneSearch Link: https://e-resources.perpusnas.go.id/

4. ISJD (Indonesian Scientific Journal Database) LIPI Link: http://isjd.pdii.lipi.go.id/

5. Moraref Kementerian Agama Link: https://moraref.kemenag.go.id Baca juga: BUMN Bank Mandiri Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan SMA, D3, S1-S2

6. DOAJ (Directory of Open Access Journals) Link: https://doaj.org/

7. Microsoft Academics Link: https://academic.microsoft.com/

8. Google Scholar Link: https://scholar.google.com/

9. Dimension Link: https://app.dimensions.ai/discover/publication 

 

 

 

 

Penulis :Aisha Chitta N.

Sumber:Kemendikbud RI 

             Kompas.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia