Home » » Sampah Berceceran, Lingkungan pun Tercemar

Sampah Berceceran, Lingkungan pun Tercemar

Written By LPMM ALPHA on Minggu, 30 Mei 2021 | Mei 30, 2021

 

Oleh: Risa Anggraini



 

sumber:cnnindonesia.com

 

Dewasa ini, jumlah penduduk Indonesia telah meningkat dari 238,5 juta pada tahun 2010 menjadi 270,6 juta pada 2019. Kondisi ini menyebabkan Indonesia menduduki posisi keempat negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia dan posisi pertama di Asia Tenggara. Jumlah penduduk Indonesia akan semakin besar dan diproyeksikan mencapai 296,4 juta jiwa pada tahun 2030.

Kondisi penduduk yang begitu banyak tersebut selalu beriringan dengan tingginya pencemaran lingkungan yang dapat ditimbulkan. Hal tersebut terjadi karena semakin banyaknya konsumsi masyarakat dan kebutuhan rumah tangga yang mengakibatkan semakin meningkatnya limbah rumah tangga atau sampah yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Tingginya sampah dari hari ke hari semakin meningkat dan beragam, sehingga tidak jarang sampah menjadi masalah yang krusial karena dapat menimbulkan pencemaran lingkungan akibat dari pengelolaan yang belum baik.

Pencemaran lingkungan dapat diartikan sebagai suatu perubahan lingkungan yang merugikan, dimana sebagian besar kerusakan tersebut diakibatkan oleh tindakan manusia karena adanya perubahan penggunaan materi dan energi, maupun perkembangan zaman yang mulai menggunakan bahan-bahan kimia. Tindakan manusia yang merugikan ligkungan tersebut dapat berdampak langsung maupun tidak langsung, seperti adanya krisis air maupun tidak maksimalnya hasil pertanian dan peternakan. Pencemaran lingkungan yang paling krusial yakni krisis sampah, dimana menjadi suatu permasalahan yang ada pada hampir seluruh wilayah Indonesia.

Masalah lingkungan hidup yang terjadi sebenarnya sudah lama terjadi bahkan tanpa campur tangan manusia. Namun, kerusakan dan pencemaran lingkungan tersebut semakin dipercepat akibat adnaya aktifitas manusia dan sifat manusia yang begitu serakah. Dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh ulah manusia ini sudah dapat dilihat secara nyata, seperti terjadinya tanah longsor, banjir, dan kekeringan air.

Permasalahan utama yang terjadi yakni krisis sampah, karena mulai berdampak luas mulai dari pencemaran darat hingga pencemaran air. Namun, permasalan krisis sampah tersebut seringkali diabaikan oleh sebagian besar manusia. Padahal jika dilihat lebih jauh, akibat pembuangan sampah tanpa diolah dengan baik terlebih dahulu dapat menyebabkan kerusakan alam. Jika dilihat bahwa Indonesia memproduksi sampah dengan jumlah tinggi yakni 65 juta ton setiap tahunnya dan diprediksi akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Krisis sampah yang terjadi ini dihasilkan dari sampah anorganik sebanyak 60% dan sampah plastik yang mencapai 15% dari total timbunan sampah, terutama di daerah perkotaan.

Sampah di Indonesia menjadi permasalahan utama karena menjadi akar dari permasalahan lain, seperti masalah ekonomi, sosial, dan budaya. Hampir di seluruh perkotaan yang ada di Indonesia mengalami masalah dalam pengelolaan sampah. Hal tersebut terjadi karena, pengolahan tempat pembuangan akhir yang kurang memadai akibat sempitnya lahan perkotaan. Kondisi TPA yang kurang memadai tersebut yang menimbulkan banyak masyarakat memilih membuang sampah di aliran sungai, selokan, bahkan laut. Kondisi ledakan penduduk yang telah disebutkan diatas juga menjadi sebab utama adanya krisis sampah, karena pencemaran lingkungan seringkali tampak jelas di masyarakat seperti adanya timbunan sampah di pasar dan pendangkalan sungai yang penuh kotoran, tidak lain sampah yang paling banyak dihasilkan dari timbunan masker akibat pandemi covid-19 yang belum kunjung reda. Padahal, sampah sendiri merupakan bahan hasil olahan manusia yang seharusnya dibuang karena tidak memiliki nilai ekonomi, sehingga pengolahan sampah yang benar perlu dilakukan agar tidak memberi dampak negatif apalagi krisis sampah yang tinggi.

Peran aktif mahasiswa dapat dilakukan untuk mengatasi krisis sampah yang terjadi adalah dengan mengurangi atau meminimalisir penggunaan barang atau material, seperti menciptakan barang yang tidak habis sekali pakai atau menggunakan totebag ketika berbelanja agar dapat mengurangi sampah plastik. Selain itu, juga dapat mendaur ulang barang yang tidak berguna lagi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Hal tersebut juga dapat diterapkan pada lingkungan kampus dan masyrakat, seperti membangun bank sampah dan masih banyak lagi.

 


0 komentar:

Posting Komentar