“Ada Apa dengan Bumi Akhir-Akhir Ini?”

 

Oleh : Tusiana Putri Nelumbium

    Saat ini kita telah berada di paruh keempat yang menandakan bahwa tahun 2021 akan segera berakhir kurang lebih 2 bulan lagi, selama 10 bulan kebelakang banyak sekali fenomena-fenomena yang telah terjadi dimulai dari kekerasan seksual, kecelakaan, tanah longsor, banjir, hingga kasus perubahan iklim yaitu adanya gelombang panas di Amerika pada pertengahan Juni 2021. Fenomena-fenomena adanya perubahan iklim tidak hanya kasus gelombang panas saja, akan tetapi ada juga kasus kebakaran hutan yang tak kunjung usai, banjir besar di Jerman, Belgia, dan China yang memakan puluhan hingga ratusan korban, dan punahnya hewan-hewan langka dikarenakan habitat mereka telah hancur. Kita ketahui bahwa saat ini cuaca sedang tidak mudah untuk ditebak, terkadang cuaca tidak terlalu ekstrim akan tetapi dapat berubah seketika menjadi ekstrem. Mulai dari cuaca yang terang, cerah, dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, dalam jangka waktu pendek tiba-tiba turun hujan deras beserta angin kencang. 

    Hal yang menjadi kekhawatiran terbesar saat ini adalah fenomena meningkatnya pencemaran lingkungan yang menyebabkan suhu bumi meningkat secara signifikan. Peningkatan suhu bumi dapat kita rasakan pada pertengahan tahun ini yaitu pada bulan Juli merupakan bulan terpanas sepanjang tahun 2021 ini. Dilansir dari media cnnindonesia.com (14/08/2021) bulan Juli umumnya merupakan bulan terpanas setiap tahunnya akan tetapi, bulan Juli tahun ini memiliki panas yang tertinggi sejak terakhir terjadi pada tahun 1976. Suhu rata-rata bumi mencapai 16,73oC selama abad ke-20 ini, sedangkan suhu bumi pada bulan Juli 2021 mengalami peningkatan sebesar 0,93oC dari suhu bumi rata-rata tersebut. Meningkatnya suhu bumi disebabkan oleh adanya emisi gas kaca yang menyumbangkan sebagian besar emisi gas yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan juga manusia.

    Gas-gas rumah kaca antara lain seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen dioksida (NO2), dan juga freon. Sumber emisi gas rumah kaca tersebut dilansir dari media gapki.id, pada tahun 2012 didapatkan bahwa sumber terbesar berasal dari kegiatan industri, dan sumber lainnya antara lain adalah pengalihan fungsi lahan hutan, perkantoran, transportasi, pertanian, perumahan, hingga limbah yang dibuang setiap harinya. Gas-gas emisi rumah kaca tersebut akan terkumpul di lapisan atmosfer yang menyebabkan panas dari sinar matahari tidak dapat dipantulkan. Panas matahari berupa radiasi gelombang pendek ketika memasuki bumi seharusnya sebagian akan diserap oleh bumi dan sebagian lainnya akan dipantulkan. Keberadaan emisi gas kaca di atmosfer menyebabkan panas matahari tidak dapat dipantulkan dan tertahan dalam bumi, hal tersebutlah yang semakin lama akan meningkatkan suhu bumi.

    Berdasarkan laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change saat ini tingkat pemanasan global telah mengalami peningkatan rata-rata mencapai 1,0oC dengan rentang peningkatan antara 0,8 – 1,2oC. Pemanasan global yang semakin meningkat diperkirakan dapat menyebabkan kenaikan suhu bumi mencapai 1,5oC pada tahun 2030. Suhu bumi yang semakin meningkat dan iklim cuaca yang semakin panas akan memberi dampak yang buruk bagi kehidupan manusia. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya fenomena mencairnya gunung es di Samudra Atlantik yang menyebabkan naiknya volume permukaan air laut, gelombang panas yang semakin ekstrem dimana suhu lingkungan dapat menyentuh angka di atas 40oC, curah hujan yang meningkat disertai dengan badai, kekeringan yang berkepanjangan, hingga kepunahan dari beberapa spesies di muka bumi ini.

    Melihat fenomena-fenomena tersebut, apa saat ini kita akan tutup mata melihat seluruh fenomena-fenomena alam yang telah terjadi dan tidak melakukan apapun? Ketika kita hanya menutup mata untuk menyikapi fenomena tersebut maka ibarat kita membunuh diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

    Apakah kita sudah terlambat untuk memperbaiki kondisi bumi saat ini? Menurut saya, tidak ada kata terlambat untuk berperan dalam menjaga dan merawat bumi. Langkah atau tindakan sekecil apapun yang memiliki tujuan untuk menjaga bumi ini, maka kita juga maju selangkah dalam menjaga keamanan dan kenyaman kita serta orang sekitar kita. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun ini merupakan tamparan bagi kita agar kita semua sadar betapa besar peran bumi untuk kita. Bumi tidak membutuhkan kita, akan tetapi justru kita yang membutuhkan bumi ini.

    Tindakan-tindakan yang dapat kita lakukan untuk mengurangi emisi gas kaca antara lain adalah menghemat energi seperti mematikan AC dan lampu ketika tidak dibutuhkan, menggunakan bahan bakar transportasi yang lebih ramah lingkungan seperti biofuel, biogasoline, dan biodiesel. Pemerintah Indonesia juga turut serta mengambil tindakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), mempercepat persiapan dan perencanaan kendaraan listrik yang bebas emisi gas karbon, hingga peraturan-peraturan baru dalam membuat suatu bangunan yang lebih hemat energi.

    Pastinya kita tidak ingin mengalami fenomena-fenomena cuaca ekstrem yang dapat terjadi akibat pemanasan global yang terus meningkat.  Mari kita menjaga lingkungan dan menjaga kebersihan sebagai bentuk perlindungan untuk diri kita sendiri kedepannya. Lakukanlah tindakan sekecil mungkin dalam menjaga bumi ini, dimana dari tindakan kecil tersebut dapat memberikan dampak besar bagi kita semua.

#Salam pemuda Indonesia berperan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca

Komentar

Postingan Populer