Langsung ke konten utama

Cerpen: LOVE STATEMENT


 Oleh: David Linda Lidapranata

Angin berhembus masuk melalui jendela kelas yang sedikit terbuka sehingga mengibaskan rambut panjang jane. Tengkuk indah milik jane tersingkap, karena hembusan angin tersebut. Aku yang sedari tadi memerhatikanya dari lorong mendadak malu, karena merasa aneh bahwa diriku berterimakasih kepada angin yang baru saja lewat.

Aku sudah menyukai jane sejak SMP. Aku tahu ini terdengar bodoh, karena aku tidak pernah menyatakan perasaanku kepadanya. Bagaimanapun… itu bukanlah hal yang mudah untuk aku lakukan.

Jane merupakan gadis yang cantik dan terbaik dalam akademi di angkatanya. Angkatanya? Kalian heran? Ya. Aku menyukai wanita yang merupakan kakak tingkatku.

Aku pertama kali mengenalnya saat masa-masa ospek di SMP. Saat itu, Jane menjadi salah satu anggota OSIS, sekaligus kakak tingkat yang bertanggung jawab atas kegiatan ospek. Perlu aku akui, Jane sudah cantik bahkan sejak saat itu. Bukan karena aku menyukainya, tapi dia memang primadona. Selalu!

Jane tidak hanya cantik, keunggulanya dalam akademik juga tidak dapat diremehkan. Pada tahun terakhirnya semasa SMP, Jane memenangkan kejuaran ipa di salah satu perlombaan provinsi. Bahkan saat jane lulus sekalipun, dia diterima untuk masuk ke SMAN 8 Jakarta, SMA terbaik di Jakarta.

Aku jadi teringat satu hal. Jane adalah alasanku belajar mati-matian pada tahun terakhriku saat SMP. Aku tidak sehebat dirinya dalam hal akademis. Tidak akan pernah! Aku menghabiskan waktuku belajar agar bisa sekali lagi melihat Jane dalam keseharianku, sekalipun itu hanya di sekolah.

“prok” suara pundakku yang ditepuk oleh doni.

“Hei mau sampai kapan kau melamun dan berdiri disana?Kau tahu…? Kalau begini terus, kau bisa disebut penguntit oleh orang-orang.”

“A…a…ayolah, hentikan itu… kau sudah tahu aku tidak seperti itu kan. Justru… dirimulah yang membuat aku jadi seperti penguntit.”

“Kau sendirilah yang aneh bung! kau sudah menyukainya selama dua tahun dan tidak melakukan apa-apa selain menguntitnya seperti tadi.”

“PERTAMA, itu bukan dua melainkan LIMA. KEDUA, aku TIDAK menguntit. Lagipula, kau benar-benar ingin menjelekanku tepat di depan kelasnya?”

“O..o…oke. oke. Tenang. Sebenarnya, perutku sudah menjerit-jerit karena kelaparan dan geli melihat kelakuanmu. Hahahaha.”

“Iya… iya… ayo langsung ke kantin. Hari ini, kau yang bayar! Kau sudah merusak mood ku bro…” balasku kepada doni sambil meninggalkanya.

“Hei…! A..a…apa kau bilang? Tunggu aku!”

***

        Aku memesan semangkuk bakso dengan tambahan bakso telur yang cukup besar secara “gratis”, sedangkan doni memilih nasi goreng kesukaanya. Entah sejak kapan dia mulai menyukai nasi goreng, yang jelas… dibandingkan denganku dia lebih berani menunjukan perasaanya, walau hanya kepada sepiring nasi goreng.

           Kami duduk di dekat jendela yang terbuka. Aku jamin kalian pasti tidak ingin menyantap makan siang dengan berada di antara kerumunan otot yang baru diperas selama jam olahraga. Udara disini setidaknya tidak separah itu karena kami memiliki ventilasi tepat disebalah kami, jendela yang terbuka.

“Hei.. ambilkan sambal itu untukku!” Pinta doni setelah tiba dikursi yang berada di seberang ku.

“iya… iya… bawel” balasku ketus sambil menuangkan beberapa sendok sebelum menyerahkanya.

“Billy, aku masih tidak paham, kenapa kau bisa menahan perasaan itu sampai lima tahun. Jujur saja, kau tidak pernah mengatakan itu kepadaku sebelumnya. Seandainya aku tahu… aku tidak akan hanya menyebutmu penguntit hahahaha.”

“Hei… kau mau aku memesan bakso telur lagi? Lagipula kenapa kau masih terus membicarakan hal itu? Biarkan aku setidaknya menikmati ‘bakso telur pertamaku’.”

“Kau mau memerasku setelah membuatku pulang dengan berjalan kaki untuk hari ini? Kejam! Tapi, aku serius. Kau mau berapa lama lagi memendam perasaanmu? Apa kau lupa bahwa dia tidak di angkatan yang sama dengan kita? Tahun depan, Jane De Ark sudah bukan lagi murid SMAN 8 Jakarta. Belum lagi, aku dengar Jane sudah lolos SNMPTN di Universitas Indonesia. Sedangkan kau? Billy Brooky! Seorang pejaka yang gagal dengan perasaannya dan tentu saja rankingnya. HAHAHAHA!”

“Hentikan itu bodoh! Kau memperburuk hariku hanya dengan mengatakan kebenaran.” Balasku sambil menendang ‘harta karun’ Doni.

“Ouch… se… se… sekarang a.. a… aku tidak dapat pulang hanya dengan jalan kaki. Kalau begini, aku anggap kita impas dan tidak ada ‘bakso telur kedua’.” Sentak doni sambil memegangi selangkanganya dan meringkuk di tempat duduknya.

“Kau berlebihan! Aku tidak menendangmu sekeras itu. Lagi pula, kau menebeng motorku setiap saat. Darimana pula ocehan ‘jalan kaki’ itu berasal?” aku menanggapai reaksi berlebihan Doni dengan nada bicara yang dinaikan.

“Terlebih lagi, kau tidak perlu memberitahuku semua fakta tersebut. Tanpa kau memberitahu pun, aku sudah tahu. Bahkan tanpa kau perintahkan, sebenarnya… aku akan menyatakan perasaanku kepadanya besok.” Tambahku dengan suara yang lebih pelan. Tentu saja! Membayangkan diriku mengatakan sesuatu seperti itu kepada sahabatmu sendiri saja sudah membuatku malu.

“A… a… APA? Kau sungguhan? Apa kau sedang demam? Perlu aku antar ke UKS?” Doni yang sedang “kesakitan” mendadak terbangun penuh semangat.

“Pelankan suaramu! Kita telah menarik terlalu banyak perhatian” Tegurku sambil mengamati lingkungan kantin yang sedang tertuju karena teriakan bodoh doni.

“Baik. Baik!” jawab doni setelah melemparkan gestur meminta maaf pada seisi kantin.

“Jadi… apa kau sudah punya rencana bagaimana acara pernyataan ini berlangsung?” sambung doni yang masih penasaran dengan pernyataanku sebelumnya.

“Sejujurnya… aku sendiri masih tidak tahu apa yang harus ku katakan. Memberanikan diriku sendiri saja sudah sulit, apalagi harus memikirkan keseluruhanya? Astaga… kau membuatku semakin tidak percaya diri.”

“Tunggu sebentar bung! Kau tidak perlu khawatir! Kau punya dokter percintaan di sisimu.” Doni mengatakannya dengan penuh percaya diri sambil menepuk-nepukan dadanya.

“Menjijikan!” Jawabku dengan muka masam.

“Hei… Kau meragukan kemampuan seseorang yang mengabdikan dirinya untuk menikmati RomCom (Romance Comedy)?

“kalau yang kau maksud adalah seorang ‘otaku’, aku setuju. Akan tetapi, karena aku tidak punya pengalaman dan pengetahuan, aku akan mendengarkanmu untuk kali ini. ‘Sensei’!”

“Baiklah. Aku punya ide. Bagaimana kalau, kau ajak dia bertemu di taman belakang saat pulang sekolah? Lingkungan disana cukup sepi. Sinar matahari yang nyaris terbenam akan menambahkan emosi selama acara berlangsung. Aku akan menjaga akses ke sana agar kau dapat menikmat panggungmu. Akan tetapi, kau harus terlebih dulu mengundangnya untuk datang kesana.”

“o” mulutku yang terbuka seraya mendengarkan penjelasanya mengejutkan dan tak terbayang bahwa itu keluar dari mulut doni.

“Aku tak menduga, bahwa kau telah memikirkan sejauh itu. Baiklah, aku akan memberanikan diri mengundangnya. Menurutmu, aku lebih baik mengundangnya melalui WA atau secara langsung? Aku sudah tahu sih. Pastinya lebih baik secara langsung kan?”

“Ho… Ho… Ho… lihat ini, Billy kecilku sudah dewasa. Tepat sekali, kau seharusnya mengundangnya secara langsung. Akan tetapi, aku punya solusi lain, karena itu dirimu. Bagaimana kalau kau tinggalkan surat untuknya? Dengan demikian kau tidak terlihat terlalu cupu.”

“Ah… benar juga! Baiklah ‘si cupu’ ini akan melakukan seperti apa yang dikatakan oleh ‘sensei’.”

“Bagus… bagus… sebaikanya, kau mengirimkan surat undangan tersebut sesegera mungkin. Kau bisa menggunakan alibi untuk memanggil kak Roy di kelas jane sambil meletakan surat tersebut di meja atau tas miliknya. Sampaikan saja bahwa aku membutuhkan bantuan kak Roy dan akan menemuinya sepulang sekolah.”

“Sekali lagi, aku mengakui bahwa kau membuatku tercengang. Aku tidak pernah menduga bahwa kau memikirkan itu semua untukku. Terima kasih man! Sebaiknya, kita segera menghabiskan makanan ini, waktu istirahat akan segera berakhir dan aku akan mengirimkan surat undangan tersebut sebelum istirahat ini berakhir. Seperti yang kau tahu, aku tidak memiliki banyak keberanian apabila adrenalin ini hilang.” Kalimat terakhirku, aku ucapkan dengan nada yang mulai putus asa ditengah usaha memberanikan diri.

    Kami menghabiskan makanan kami tak lama setelahanya. Aku dan doni berpisah dikantin. Doni akan sedikit meregangkan tubuhnya dengan bermain bola dilapangan, sedangkan aku bergegas menuju kelas. Aku menyambar kertas dari tengah buku tulisku. Aku tidak memiliki banyak pengetahuan bagaimana harus menulis surat undangan tersebut.  Aku seharusnya menanyakan saran doni terlebih dahulu sebelum meninggalkanya.

 

“Hai.. aku Billy. engkau sepertinya belum mengenalku. Ada yang ingin kukatakan kepadamu. Besok sore, sepulang sekolah, aku harap kau bisa datang ke taman di belakang sekolah.”

Tertanda

            Billy

 

           Aku pikir untuk sekadar surat undangan hal ini sudah cukup. Agh… aku tidak paham lagi. Aku akan katakan saja secara langsung. Aku mengurungkan niatku untuk mengirimkan surat yang telah aku tulis dengan keberanianku yang tersisa. Selebihnya, aku hanya menghabiskan sisa hari sekolahku seperti yang biasa kulakukan.

“Kicir…. Kicir… ini lagunya… lagu lama…” lagu daerah betawi diputar melalui pelantang yang berada disetiap kelas.

            Lagu daerah di sore hari merupakan kebahagiaan bagiku. Meskipun aku tidak senang dengan semua lagu yang diputarkan, aku masih bersyukur karena hari sekolah telah berakhir.  Akan tetapi, bel di hari ini terasa sedikit berbeda. Aku menanti jane turun dari tangga lantai tiga. Kelas anak-anak tahun ke tiga berada di lantai tiga. Tangga tempat aku menantinya lewat merupakan satu-satunya akses untuk naik dan turun.

           Jantungku berdegup cepat. Napasku mulai tidak teratur. Keringat sebesar biji jagung mulai mengalir melalui pelipisku. Tidak ingin penampilanku menjadi rusak. Aku mengeluarkan saputangan dan mengelap keringatku. Seraya aku mengatur napas dan menenangkan diri, aku melihat Jane turun seorang diri.

“Hai..” aku menyapanya sambil melambaikan tangan.

“Kamu memanggil ku?” Jane menatapku heran setelah menoleh ke sekitarnya yang tidak ada siapa-siapa.

"Iya. Perkenalkan aku Billy. Sepertinya ini pertamakalinya kita saling berbicara ya? Anu.. A.. A… me- Aku harap kau bisa datang ke taman belakang sekolah besok sore diwaktu yang sama! Maafkan aku. Aku tidak bisa berlama-lama. Sampai jumpa lagi!” aku mengucapkan dengan teburu-buru sebelum meninggalkanya dan berlari pulang.

***

“Anak- anak turunlah… makan malam sudah siap!” mamihku memanggil dengan suaranya yang menggema sampai lantai dua.

“Iya Mom kami turun!” aku dan adikku serempak menjawab panggilan mamihku.

   Kami sudah duduk di ruang makan tidak lama setelahnya. Makan malam hari ini  terlihat lebih menggoda dari biasanya. Ebi furai dengan warna elegan dan sayur capcay yang mengkilat membangkitkan nafsu makanku setelah hari yang melelahkan.

“Sayang… kau juga sebaiknya segera kesini atau kami akan mulai makan tanpamu!” mamihku sekali lagi memperingatkan papihku yang masih bersantai di ruang keluarga.

           Papih sepertinya sedang menyaksikan berita di ruang keluarga. Baginya, hal itu sudah menjadi rutinitas, menyalakan tv dan membaringkan tubuh di sofa seraya menantikan makan malam siap. Aku harap, aku juga dapat menikmati waktu-waktu seperti itu saat berkeluarga kelak.

“Sayang… contohkan anak-anakmu hal yang benar! Kau sebaiknya mematikan TV saat tidak digunakan.” Mamih menggerutu ketika mendapati suara TV di belakang Papih masih terdengar.

“Tidak apa, aku sengaja menyalakan dan memperbesar suara-nya karena ada berita yang tidak ingin aku lewatkan. Aku pikir hal itu juga bagus untuk kita dengarkan bersama.”

“Hisss… sudahlah! Kali ini aku maafkan. Billy kamu yang pimpin doa makan kali ini ya.”

“Baik Mom.” Jawab ku sambil menyambungnya dengan doa makan.

“Selamat makan!” kami serempak mengucapkan kalimat yang sudah menjadi kebiasaan keluarga kami.

“Polisi mengamankan TKP pembunuhan seorang siswi SMA pada hari Rabu, sore ini.” Suara Tv kembali terdegar setelah kami semua mulai menyantap hidangan makan malam.

“Itu dia. Aku ingin kalian juga mendengarkanya. Aku dengar korbanya adalah siswi SMA. Kita tidak tahu dunia seperti apa yang kita tempati hari ini. Kejahatan tidak pernah terus tersembunyi di dalam kegelapan. Sesekali, dia akan muncul dan menelan terang yang dapat ditelannya. Billy, kau juga harus berhati-hati. Sepertinya, korban pembunuhan itu merupakan salah satu murid dari sekolahmu.” Papih mulai mengoceh setelah menghabiskan sendok pertama di mulutnya.

“Papih ber-“ canda kan? Tidak mungkin dari sekolahku bukan?  Itu yang ingin ku katakan, sebelum bunyi telepon berdering kencang memotong kalimatku.

“Biar aku yang angkat, kalian lanjutkan makan malamnya.” Mamihku menanggapi bunyi telepon sambil meninggalkan kursinya.

“Billy! Ini untuk mu. Doni menelepon.” Mamihku memanggilku sambil menyodorkan gagang telepon rumah ke arahku.

“Iya mah. Permisi.” Aku menjawab sambil meninggalkan meja makan.

“Jangan terlalu lama! Segeralah kembali untuk menghabiskan makan malammu.” Mamih membisikan kalimat itu dekat telingaku sambil memberikan gagang teleponnya dan kembali kemeja makan.

“Baik Mom. Hallo Don ada apa malam-malam menelepon? Aku harap ini sesuatu yang penting, karena aku harus segera kembali ke meja makan.” Aku menjawab mamih sekaligus memulai percakapanku dengan doni di telepon.

“Billy… Billy… apa kau disana? Maaf Bill… Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Aku minta maaf karena harus menyampaikanya. Kau sudah dengar beritanya? Jane, Billy, Jane De Ark, siswi SMA yang menjadi korban pembunuhan di berita itu adalah Jane.” Doni mengucapkan semuanya dengan bergetar dan penuh keraguan.

Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Tubuhku lemas. Aku menjatuhkan gagang telepon dari gengamanku. Aku terjatuh. Aku tidak tahu perasaan apa yang kurasakan saat ini. aku tidak dapat mengutarakanya. Tidak!

~END~

Komentar

  1. idih2, keren sekali memang (:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anonim5:41 AM

      Wahh iya kak keren, terimakasih kak. Salam persma!

      Hapus
  2. Anonim8:07 AM

    berasa baca looking for alaska cuma versi lokal dan plot twist yang normal dari sebuah kisah unrequited love. Ditunggu karya selanjutnya!

    BalasHapus
  3. Anonim1:11 AM

    dudtsz ceritamu keren banged kok! Sampai aku tidak dapat mengutarakanya!

    BalasHapus
  4. Anonim11:25 AM

    Heyyy kak caritamu bagus ! Keren poll kasian sm Billy huhuhu. Semangat buat cerita yang lain lagi kak\^∆^/

    BalasHapus
  5. Anonim10:17 AM

    CERITA NYA BAGUS BANGET, GAMPANG DI PAHAMI JUGA GA BERBELIT BELIT, SEMANGAT BERKARYA!!!!

    BalasHapus
  6. Anonim6:06 AM

    Keren:3
    Billy refleks sadboi cuy [emot batu]

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

Salah Satu Ikon Jember, Tari Petik Kopi

Oleh : Tri Widagdo Tari petik kopi, tentu nama tari ini sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Tari yang satu ini berasal dari kota yang terkenal akan karnaval fashionnya. Ya, kota Jember, kota yang baru - baru ini juga dinobatkan sebagai kota karnaval oleh Menteri pariwisata. Dari namanya sendiri tari ini sudah menunuju k kan suatu identitas tersendiri,   yaitu tarian ini berusaha menggambarkan kondisi masyarakat Jember yang mayoritas komoditasnya pertanian dan perkebunan kopi.   Gerakan-gerakan yang ada dalam tarian ini menggambarkan suka cita masyarakat saat musim panen tiba dan selama proses memanen kopi. T arian yang tergolong masih muda umurnya ini, yaitu diciptakan pada tahun 2013 , digagas oleh U niversitas J ember (UNEJ) yang kala itu mengamati kehidupan masyarakat Jember dimana sebagian besar komoditasnya adalah perkebunan kopi. UNEJ saat itu ingin memunculkan suatu kesenian yang   mencerm

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia