Cerpen: Hidrokarbon


HIDROKARBON

Oleh: Cahyaningtyas Tetta Riandy

Senyawa hidrokarbon, sesuai namanya hanya terdiri dari unsur hidrogen dan karbon. Atom hidrogen dengan nomor atom 1 akan berikatan dengan atom karbon yang memiliki nomor atom 6 membentuk suatu senyawa yang dinamakan hidrokarbon. Hal ini selalu terngiang-ngiang di kepala Yasmine saat awal masuk kuliah jurusan Kimia. Apalagi mata kuliah favoritnya adalah Kimia Organik yang banyak membahas tentang senyawa hidrokarbon. 

Yasmine saat ini sudah memasuki semester dua dan berhadapan dengan Mata Kuliah Kimia Organik yang langsung menjadi favoritnya. Baginya, Kimia Organik lebih sederhana dibandingkan dengan cabang kimia yang lainnya seperti Kimia Anorganik yang mempelajari terlalu banyak unsur ataupun Kimia Fisik yang berisi banyak perhitungan. Kimia Organik menurut Yasmine hanya berputar-putar di unsur C, H, O, dan beberapa unsur lain serta mekanisme reaksi saja. Hal ini yang menjadi salah satu alasan dia menyukai Kimia Organik.

Sekarang Yasmine tengah duduk di dalam kelasnya sembari memperhatikan dosen Kimia Organiknya yang sedang menjelaskan mengenai Hidrokarbon jenuh. Yasmine sendiri tengah sibuk mencatat penjelasan dosen dengan sebuah buku berjudul “Organic Chemistry” karya Janice Gorzynski Smith yang terbuka di mejanya. Hidrokarbon jenuh atau yang biasanya disebut alkana hanya memiliki ikatan tunggal dalam rantainya. Senyawa hidrokarbon yang paling sederhana yaitu metana yang hanya terdiri dari satu atom C yang mengikat empat atom H.

Ketika fokus mencatat, tangan kanan Yasmine tiba-tiba saja bergeser sedikit ke kiri karena dorongan seseorang. Yasmine terdiam sejenak menatap buku catatannya yang kini terdapat garis hitam panjang dan membuat catatannya jadi berantakan. Fokus Yasmine kemudian teralihkan oleh sebuah suara.

“Serius banget sih nyatetnya? Serius sama aku kapan?”

Dana, nama pemuda itu. Yasmine dan Dana bisa dibilang cukup dekat karena mereka pernah satu kelompok saat ospek fakultas dan jurusannya yang berlangsung selama seminggu. Berbanding terbalik dengan Yasmine yang sibuk memperhatikan dosen dan membuat catatan, Dana dari tadi hanya menguap lebar. Wajar saja, dia hanya tidur selama 2 jam hari ini karena begadang mengerjakan tugas dari dosen yang dikumpulkan pagi tadi. Padahal sudah lewat seminggu tugas itu diberikan dan Dana baru mulai mengerjakan H-1 jam. Selain karena begadang, Dana memang sudah bosan dengan kelasnya saat ini. Ia sudah berusaha memahami sekaligus mencatat penjelasan dosen. Tapi endingnya tetap saja tidak paham, sehingga ia selalu malas memperhatikan. Akibat kemalasannya, Dana selalu mengganggu Yasmine yang sedang fokus seperti sekarang.

Yasmine mendelik mendengar ucapan Dana yang baru saja ia lontarkan. Atensinya kini beralih ke arah pemuda yang duduk di sebelah kanannya. Yasmine menatap orang itu datar. Sedangkan orang yang ditatap malah tersenyum menyebalkan menatap Yasmine.

“Kok diem aja, hm?”

Tak lama Yasmine kembali memalingkan wajahnya dan fokus ke catatan yang telah ia tinggalkan beberapa menit yang lalu, mengabaikan tatapan bingung pemuda itu. Beruntung saja dosennya tidak terlalu banyak memberikan catatan dan Yasmine sudah cukup paham apa yang dosennya jelaskan. Dana hanya mengernyit bingung menatap Yasmine, biasanya Yasmine hanya tersenyum manis setelah Dana melakukan hal serupa seperti tadi. Dana lalu memutar otaknya, berpikir apakah ia telah melakukan kesalahan. Sedetik kemudian dia menyadari bahwa terdapat coretan besar di buku si gadis yang merupakan ulahnya.

“Aduhh Yasmine maaf ya, gak sengaja aku,” serunya sedikit panik. 

Dana tahu bahwa Yasmine adalah orang yang ambis sekaligus perfeksionis. Niatnya hanya sedikit mengganggu Yasmine, namun ia tidak menyadari bahwa dirinya sudah kebablasan. Coretan akibat ulahnya itu tentu saja dapat berakibat fatal.

“Nih buat gantinya kamu coret aja catatanku gapapa,” ucap Dana kemudian.

Yasmine kembali memberhentikan menulis catatannya dan menoleh ke arah buku tulis kosong yang disodorkan Dana. Yasmine kembali menatap Dana datar.

“Punyamu masih kosong, jadi percuma aja,” seru Yasmine yang langsung dibalas senyum tak bersalah dari Dana.

“Hehehe kan emang gak pernah nyatet.”

“Iya.”

Dana kembali panik mendengar jawaban singkat Yasmine. Ia kembali memikirkan suatu hal agar Yasmine tidak marah lagi. Karena jika Yasmine marah akan berakibat buruk bagi keberlangsungan hidupnya. Terlalu lebay tapi memang itu kenyataannya.

“Nanti habis kelas ke Gramedia deh, katanya kamu ada buku yang mau dibeli kan? Aku beliin deh sebagai permintaan maaf ya???” ucap Dana penuh harap.

“Hm.”

“Yahh kok cuma hm doang.”

Yasmine tidak peduli dan tetap fokus menulis, sedangkan Dana tidak henti-hentinya membujuk Yasmine hingga membuat orang yang duduk di depan mereka merasa terganggu.

“Apa sih dari tadi berisik banget?!” seru orang itu agak kesal.

Atensi Dana dan Yasmine kompak teralihkan dan keduanya pun menoleh melihat orang itu. Mala yang juga cukup dekat dengan keduanya. 

“Temen kamu nih Mal.”

“Loh kok gitu sih Yas? Aku kan temen kamu juga,” seru Dana dramatis.

Yasmine hanya mengangkat bahunya tak peduli, sedangkan Mala di sana merotasikan matanya. 

“Gak bosen-bosennya ya ngisengin Yasmine terus?” seru Mala kepada Dana.

“Lah kenapa biarin dong? Yasmine aja gak marah, ya gak Yas?”

Yasmine mengabaikannya dengan berpura-pura membaca buku.

“Mampus,” ucap Mala yang kemudian tertawa.

Dana yang tak terima karena tawa Mala yang terdengar seperti ejekan, kini beralih mengganggu Mala dengan sedikit menarik rambut Mala dan selanjutnya tertawa. Mala yang kesal balas membalas mengganggu Dana dengan menginjak kaki panjang Dana yang ada di sebelah kursinya. Mereka saling membalas satu sama lain dengan berbagai hal yang kemudian saling menertawakan satu sama lain. Perkelahian kecil mereka terus berlanjut sampai kelas berakhir dan semuanya dapat dilihat dengan jelas oleh Yasmine yang tanpa sadar sudah berhenti mencatat beberapa menit yang lalu.

Kelas kimia Organik barusan merupakan kelas terakhir pada hari itu. Sekarang masih pukul 13.40 dan Yasmine tidak ada kegiatan apapun setelah ini. Rencananya tadi Dana mengajaknya untuk ke Gramedia sebagai permintaan maaf telah mencoret catatannya. Pada akhirnya Yasmine hanya iya-iya saja daripada terus mendengarkan ucapan maaf dari Dana.

Yasmine, Dana, dan beberapa teman mereka masih berada di dalam kelas entah karena terlalu mager keluar atau masih ada urusan. Yasmine sendiri masih mengerjakan latihan soal yang diberikan beberapa saat lalu oleh dosen mereka. Berbeda dengan Dana yang masih disana karena menunggu Yasmine. Sebelum ke Gramedia, mereka berdua berencana untuk makan dulu di kantin. Yasmine sudah menyuruhnya untuk duluan tapi Dana menolak dan akhirnya Dana menunggu Yasmine hingga selesai.

Beberapa menit kemudian mereka berdua pun beranjak setelah Yasmine selesai mengerjakan dan menuju kantin fakultas mereka. Selama perjalanan, Dana masih mengganggu Yasmine dengan melontarkan pick-up line yang membuat Yasmine sedikit cringe. Namun, kali ini Yasmine hanya tersenyum saja yang membuat Dana malah semakin banyak mengucapkan pick-up linenya. Di tengah-tengah gombalan yang diterima Yasmine, ponsel Dana tiba-tiba berbunyi. Tercetak nama ‘Adel’ di sana. Yasmine jelas mengenal nama itu karena Adel juga salah satu anggota kelompok mereka saat ospek dulu, tetapi berada di kelas yang berbeda dengan Yasmine dan Dana semester ini.

“Halo?” ucap Dana yang baru saja mengangkat telepon dari Adel.

“Halo Dan? Kamu ada di mana ya sekarang?” balas Adel di seberang telepon.

“Otw ke kantin FMIPA nih sama Yasmine, kenapa Del?” jawab Dana yang sedikit melirik ke Yasmine.

Yasmine yang mendengar namanya tersebut pun menoleh sebentar lalu kembali menoleh ke depan yang sudah terlihat kantin fakultas di sana.

“Boleh minta tolong gak Dan?”

“Minta tolong apa?”

“Pinjem laptop dong huhu, hari ini ada presentasi aku lupa bawa laptop sama flashdisk.”

“Oh yaudah bentar ya, kamu dimana Del?”

“Di RK 1 Dan.”

“Okee otw, tunggu ya”.

Setelah mendapat jawaban dari Adel, Dana mematikan panggilan telepon itu dan menghentikan langkahnya, padahal jarak ke kantin fakultas hanya tinggal beberapa langkah. Yasmine disampingnya juga ikut berhenti. Percakapan di telepon antara Dana dan Adel baru saja berakhir dan Yasmine paham garis besar percakapan mereka. Adel meminta tolong kepada Dana untuk mengantarkan sesuatu dan Dana menyetujuinya. 

“Kamu ke kantin duluan gak apa-apa kan Yas? Aku mau nganterin laptop bentar ke Adel, dia mau presentasi gak bawa laptop sama flashdisk,” ucap Dana yang membuat Yasmine sedikit bingung.

“Adel gak bawa laptop sama flashdisk? Terus materi presentasinya gimana? Oh di hp ya?” tanya Yasmine.

“Materinya ada di laptop aku kok, ya udah aku ke Adel dulu ya Yas”.

Dana sudah pergi sebelum Yasmine mengangguk. Yasmine pun hanya menatap punggung Dana yang mulai menjauh. Sampai Dana tak terlihat pun Yasmine masih terdiam dan belum beranjak dari sana. Hingga sebuah suara menyadarkan dirinya.

“Loh Yasmine?”

Yasmine langsung menoleh dan mendapati kehadiran Ninda yang merupakan teman sekelasnya disana.

“Eh Ninda.”

“Mau ke kantin ya? Ayuk bareng,” ajak Ninda yang langsung disetujui Yasmine.

Mereka pun berjalan memasuki kantin dan langsung duduk ke tempat yang kosong lalu memesan makanan.

“Ninda tumben tadi gak ikut kelas Kimor?” tanya Yasmine membuka percakapan.

“Iya nih Min, lagi males hehe,” ucap Ninda sedikit tertawa.

Yasmine yang mendengarnya juga ikut tertawa sambil sedikit menggelengkan kepalanya.

“Kamu sendiri Min? Tumben sendirian? Biasanya kemana-mana sama Dana?”

“Dana masih ada urusan, sebentar lagi juga ke sini kok,”

“Oh gitu,” ucap Ninda sambil mengangguk-angguk.

“Btw kalian berdua tuh kayak senyawa hidrokarbon ya?”

Yasmine menoleh, alisnya mengkerut, merasa kebingungan dengan ucapan Ninda barusan.

“Maksudnya?”

“Barengan terus, seakan gak boleh ada orang lain yang boleh ganggu. Kayak hidrokarbon yang cuma terdiri dari hidrogen dan karbon, gak ada atom lain. Ibaratnya Dana itu atom C, sedangkan kamu itu atom H.”

Yasmine terdiam mendengar penjelasan Ninda. Jika dipikir-pikir memang benar kalau dirinya dan Dana mirip senyawa hidrokarbon, tapi apa yang dikatakan Ninda tidak sepenuhnya benar.

“Tapi karbon gak cuma mengikat satu hidrogen,” lirih Yasmine tanpa disadari.

“Hah? Gimana Yas? Aku gak denger.”

Tepat setelah itu sosok Dana terlihat berjalan ke arah mereka berdua dan langsung mengambil duduk di sebelah Yasmine dan berhadapan dengan Ninda.

“Wah dari mana nih kok tadi gak ikut kelas? Laporin ke dosen enak nih biar nilainya dikurangi karena titip absen doang.”

“Hih apaan sih? Situ juga sering titip absen ke aku ya kalau lupa.”

“Haha iya maaf deh,” ucap Dana.

“Soto ayam satu kalau mau di maafin,” balas Ninda.

“Tuh, ambil aja dari sana,” ucap Dana sedikit tertawa sambil menunjuk mangkuk berisi soto ayam yang berada di meja sebelah mereka.

“Ih ngawur banget,” seru Ninda yang kemudian ikut tertawa.

Keduanya pun membicarakan berbagai hal random lalu kembali tertawa tidak jelas dan menyisakan Yasmine yang duduk sebagai penonton disana. Yasmine hanya tersenyum tipis menatap keduanya.

‘Kamu termasuk salah satu hidrogen yang diikat Dana, Nin,’ batin Yasmine kemudian.

Yasmine akan selalu ingat dan tidak akan pernah melupakan fakta bahwa atom C memiliki 4 elektron tak berpasangan yang ia gunakan untuk berikatan dengan empat atom lain. Dalam senyawa hidrokarbon paling sederhana yaitu metana yang memiliki rumus molekul CH4, satu atom C akan mengikat empat atom H. Sama seperti Dana yang diibaratkan sebagai C, dari sudut pandang Yasmine, ia berikatan dengan empat orang yaitu Yasmine, Mala, Adel, dan Ninda.


Komentar

Postingan Populer