ALTERA

Oleh 
Andina Ismah Almira

“SEM adalah teknik statistika multivariat generasi kedua yang sering diaplikasikan pada bidang ilmu sosial dan perilaku. Em..”, suara Altera mengaung di kamar. Dia sedang melakukan gladih bersih untuk seminar hasilnya yang akan diadakan besok. Besok adalah hari yang dia tunggu-tunggu, setelah besok berakhir, dia hanya perlu satu langkah lagi untuk meraih gelar sarjananya. Dia berbaring, menghadap langit-langit kamarnya sambil mendekap lembaran skripsinya. Tiba-tiba mamanya masuk.
“Era, tidur dulu. Kamu besok mau presentasi pakek mata panda?”.
“Hm, mata panda juga gapapa ma, kan lucu”, kata Era sambil meringis ke Mamanya.
“Hah..persis banget kayak papamu”, Mama Era menghampiri Era kemudian duduk di sebelahnya.
“Papa belum tidur?”
“Belum..dia melakukan apa yang kamu lakukan juga.”, kata Mama sambil membelai rambut putri tunggalnya. “Yasudah, jangan tidur sampai larut. Kamu butuh banyak energy besok.”
“Oke, ma..”
Setelah mengecup kening Era, Mama meninggalkan kamar. Era diam sejenak, memikirkan perkataan mamanya. “Papa melakukan hal yang sama denganku?”, tanyanya dalam hati. Papa Era bukan tipikal orang yang ramah dan senang bergaul. Beliau pendiam dan agak kaku meskipun dengan anak atau istrinya sendiri. Meskipun begitu beliau orang yang baik dan disegani. Era menguap dan merasakan matanya mulai mengantup. Dia pun tertidur dengan kamar yang masih berantakan.
Dalam tidurnya, Era bermimpi. Dia berada di pantai lepas sambil mengenakan baju hitam putih, dia sangat senang karena melihat laut. Di depannya terdapat proyektor, Era menyalakan proyektor tersebut kemudian muncul presentasi skripsi yang dia buat. Era membacanya dan dia menemukan masih banyak kesalahan. Era mulai panik dan heran mengapa dia bisa ceroboh menuliskan teori yang salah. Dia mengedit kembali isi presentasinya, namun dari kejauhan dosen pembimbing dan pengujinya menghampiri Era. Era semakinberkeringat, apabila dosen tersebut sudah tiba dan mengujinya kemudian melihat presentasi yang kacau tersebut, dia tidak akan lulus. Keempat dosen semakin mendekat dan di belakang mereka, dia juga melihat teman-temannya yang siap membantai Era dengan berbagai pertanyaan. Era terbangun karena mimpi buruknya.
Era bergegas ke dapur untuk minum. Dia menyalakan lampu dapur dan betapa terkejutnya dia ketika melihat papanya duduk sendiri di meja makan.
“Oh..Papa benar-benar bikin aku kaget.”
“Kamu terbangun, atau belum tidur?”
“Era mimpi buruk Pa”, jawab Era sambil mengambil air kemudian duduk berhadapan dengan papanya. “sepertinya Era harus ngecek lagi presentasi buat nanti”.
“Nggak usah. Lebih baik energimu untuk menjawab pertanyaan yang bertubi.”
“Yah..pertanyaan yang seperti tusukan.”
“Kalau kamu tidak hanya merangkum dan benar-benar menulis, papa nggak akan mendengar kata-kata barusan”.
“Iya Pa, maaf.”
“Sudah selesai minum? Ayo kamu masih punya tiga jam lagi untuk tidur.”
Era kembali ke kamarnya sementara papanya masih di meja makan itu. Entah apa yang beliau pikirkan, tapi kelihatannya sesuatu itu berat. Altera mengintip papanya di balik tembok. Kemudian dia memutuskan untuk tidur.
Tiga jam yang berlalu dengan cepat. Era sudah bersiap di depan cermin dengan seragam hitam putihnya –seragam resmi bagi mahasiswa seminar. Dia mengikat rambutnya, merapikan sabuk dan hem putih barunya. Era menuju meja belajar untuk memilih buku mana yang harus ia bawa dan contekan mana yang harus ia selipkan. Dua lembar coretan tergelatak di mejanya, dia tidak ingat pernah menulis coretan itu dan tulisan itu bukan pula tulisan dosen pembimbingnya. Era tau tulisan siapa itu, namun ia tidak percaya. Era keluar kamar sambil membawa tulisan itu menuju ke meja makan.
“Pa..Papa..”, Era tidak menemukan papanya. “Ma, papa dimana?”.
“Udah berangkar, Ra”.
“Sepagi ini?”
“Ada urusan mendadak, kenapa?”
“Ma, semalem aku liat papa sendirian diem disini”
“Akhir-akhir ini papamu terlihat murung, mama juga nggak tau kenapa Ra”
“Mama nggak bertengkar kan?”
“Udahlah, mungkin emang dia lagi banyak pikiran. Kamu siap-siap sana, ini hari perangmu”
“iya ma, Era hampir nggak bisa tidur semalem. Tapi sekarang sepertinya Era hanya punya tiga musuh”, Era tersenyum sambil melihat dua lembar coretan penuh angka yang berkaitan dengan skripsinya. Mamanya agak heran melihat ekspresi Era, namun beliau menahan rasa penasarannya agar tidak menggangu mood Era yang terlihat begitu baik.
“Nanti Seli sama siapa lagi yang ke rumah, mama udah siapin kuenya buat seminarmu nanti. Tapi ini lumayan berat Ra”
“Em, nanti Era minta tolong ke Firman deh Ma, buat nemenin Seli ambil kuenya”
“Yauda, ati-ati di jalan ya”
“Doain Era ya Ma”, ucap Era kemudian mencium tangan mamanya.
“Kamu punya malakai penjaga disana, pasti semua lancar”, balas mamanya sambil tersenyum.
Era melangkah dengan ringan, dia belum seminar tapi dia merasa ketakutannya berkurang 50%. Dua lembar coretan di atas mejanya, membuat hari ini menjadi tidak menakutkan. Mamanya benar, Era punya malaikat penjaga di ruang seminar nanti, apalagi yang harus dia khawatirkan. Era menyalakan motornya dan melaju ke kampus.
Sesampainya di kampus, Era mengutus Seli dan Firman untuk mengambil kue. Dua orang itu selama ini yang menjadi sahabat dekatnya. Sementara Era sendiri mempersiapkan ruangan dan memastikan dosen pembing dan dosen penguji datang tepat waktu. Seperti biasanya seminar yang dijadwalkan jam 8 molor karena dosen yang tidak tepat waktu. Ruangan seminar sudah ramai oleh mahasiswa namun baru satu dosen pembimbing yang datang. Benar-benar keadaan ini membuat mood Era yang baik menurun drastis. Teman-temannya mencoba menyemangati Era.
“Semangat Ra..”, ucap Gimo salah satu temannya. Gimo tentu bukan nama asli, dia dipanggil seperti itu karena badannya yang gemuk –yah julukan yang aneh.
“Makasih Gimo, makasih juga udah dateng ya”.
Dua orang dosen sudah datang, itu artinya tinggal seorang lagi. Salah satu dari dosen tersebut menyampaikan pada Era untuk segera memulai seminar, karena Pak Jun –dosen yang belum datang- agak telat. Era mengiyakan pesan dosennya. Era memulai seminarnya, Gio sang moderator mulai menyapa audience. “Kenapa telat datang, padahal tadi papa berangkat duluan”, Era bertanya-tanya dalam hati.
“Ra, giliranmu..semangat!”, alarm dari Gio membuyarkan lamunan Era. Dia mulai membuka presentasinya.
“Saya sangat berterimakasih pada Bapak Ibu dosen yang terhormat, yang sudah menyempatkan waktu, pikiran, dan tenaga beliau untuk seminar skripsi saya. Dan juga teman-teman semua yang saya sayangi, semoga apa yang saya sajikan dapat diterima dengan baik nanti dan bermanfaat bagi teman-teman semua.”, Era diam sejenak, kemudian melanjutkan. “SEM adalah teknik analisis multivariat generasi kedua yang dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan dalam bidang sosial –maksud saya, dalam bidang ilmu sosial dan perilaku. Analisis ini dikemukan pertama kali oleh Joreskog..”
Seminar Era berjalan, dia mennyampaikan dengan baik meski terlihat agak sedikit gugup. Suasana seminar tertib dan berjalan seperti yang dia harapkan kecualisatu. Malaikat penjaganya, pembuat coretan emas itu, belum datang dan tidak menyaksikan presentasi Era.
“Sekian, penjabaran dari saya. Selebihnya saya kembalikan pada moderator”.
“Yak, terima kasih saudara Era. Pemaparannya cukup jelas dan rinci, semoga semua teman-teman dapat memahami. Untuk selanjutnya adalah sesi tanya jawab, akan saya bagi menjadi dua. Pertama, untuk mahasiswa dan kedua untuk dosen. Bagi para mahasiswa akan saya batasi tiga pertanyaan terlebih dulu, silahkan.”
Tepat setelah Gio membuka sesi tanya jawab, Pak Jun memasuki ruangan. Era merasa senang melihat papanya, namun dia juga kecewa papanya tidak melihat bagaimana Era mempresentasikan hasil skripsinya termasuk coretan yang papanya buat. Era tersenyum menatap papanya yang duduk di bangku dosen penguji.
“Saya mau bertanya”, Gimo mengacungkan tangan pertama kali.
“Yah, silahkan Saudara Gimo –maaf, maksudnya saya Andreas”, kata-kata Gio terpeleset dan membuat seisi ruangan tertawa termasuk Gio dan Era.
“Namanya ganteng gitu kok dipanggil Gimo”, celetuk Pak Kris, salah satu dosen penguji Era, yang lagi-lagi membuat seisi ruangan kembali tertawa.
“Silahkan pertanyaannya”, Gio mempersilahkan Gimo.
“Saya mau tanya, dalam model Anda tiap variabel laten itu memiliki dua variabel teramati, sedangkan pada teori dibutuhkan minimal tiga indicator untuk mengukur sebuah variabel laten, bagaimana penjelasan Anda mengenai hal ini?”.
“Sudah Saudara Andre?”
“Cukup.”
“Silahkan Saudara Era menjawab pertanyaan dari Saudara Andre”
Era menjawab pertanyaan Gimo dengan lancar, kebetulan dia mempelajari hal itu dan di catatn papanya juga terdapat penjelasan mengenai hal itu. Sesi pertanyaan mahasiswa berakhir dan dilanjutkan dengan pertanyaan dosen. Pak Arjuna –papa Era- mendapat kesempatan pertama. Tibak-tiba jantung Era berdetak lebih cepat, dia benar-benar gugup. Dia berharap mendapat tusukan pertanyaan yang sadis dari papanya dan ketika dia berhasil menjawab pertanyaan itu, dia akan sangat merasa bahagia. Namun harapan mereka tidak sama.
“Menurut saya sudah baik, hanya kamu melewatkan cukup banyak penulisan yang salah. Saya sudah tandai itu dan tolong diperbaiki. Silahkan Pak Kris”. Era tertegun, setelah ia mati-matian belajar mana mungkin dia hanya mendapat jawaban seperti itu dari dosen pengujinya, telebih dari papanya.
“Mohan maaf Pak, apa benar-benar tidak ada pertanyaan untuk saya, setidaknya mengenai isi dari analisis yang saya lakukan?”, pertanyaan Era sepertinya juga pertanyaan bagi seluruh penghuni ruangan itu. Ruangan hening, sangat hening dan beberapa menatap ke Era dan Pak Jun bergantian.
“Baiklah saya akan bertanya”, Pak Jun membolak-balik lembaran skripsi Era kemudian menutupnya. Semua pandangan tertuju pada beliau sekarang. “SEM diterapkan dalam bidang sosial dan perilaku, mengkaji faktor-faktor atau hal-hal yang abstrak, seperti loyalitas seorang
nasabah, loyalitas seorang pembeli pada suatu produk, dan sebagainya”, Era mengangguk. “Bagaimana Anda menerapkan analisis ini dalam diri anda sendiri? Misalnya, menguji mengapa anda baru bisa menyelesaikan kuliah dan seminar di semester 14 Anda? Itu abstrak kan?”.
Tidak ada yang menyangka pertanyaan itu muncul, apalagi dari dosen penguji yang sekaligus menjabat sebagai ayah kandung mahasiswa terdakwa –Era. Era hampir mengeluarkan air matanya, sepertinya ini bukan pertanyaan tapi ungkapan kekecewaan ayahnya. Era memang menjadi aib tersendiri bagi papanya. Papanya adalah dosen, bahkan profesor, sialnya lagi mereka satu jurusan. Era membuat jabatan papanya luntur seketika, dan ia menyiksa papanya selama enam semester setelah semesternya yang ke-8.
“Maaf Prof, saya tidak menerapkan analisis ini dalam kehidupan saya. Tapi saya sudah berani menerapkan ini dengan masalah orang lain. Untuk permasalahan yang saya analisis, loyalitas nasabah sangat bergantung pada perhatian dan kinerja dari karyawan bank tersebut. Sehingga nasabah tersebut betah dan tidak mau pindah ke bank yang lain. Apabila itu diterapkan pada saya, saya rasa karena saya begitu mencintai almamater ini, saya tidak juga beranjak pindah meskipun teman-teman saya sudah.” Era memperburuk keadaan dengan sedikit leluconnya yang mengundang sedikit pula tawa.
“Sudah Era?”, Gio menanyakan pada Era yang dijawab dengan anggukan. “Bagaimana Prof?”.
“Silahkan, Pak Kris.”
Semua pertanyaan dosen terjawab dengan baik oleh Era lagipula pertanyaan tersebut tidak terlalu sulit bahkan lebih mudah dari pertanyaan Gimo. Era berpikir mungkin para dosen tersebut merasa tidak enak pada papanya, mereka melontarkan pertanyaan yang mudah agar Era bisa menjawab, dan agar tidak membuat malu papanya –Prof. Arjuna. Era sudah menyiapkan hari ini dengan sangat baik, namun dia mendapat sambutan singkat. Era menghitung berapa kali dia gagal, tapi ini kegagalan terburuk. Menjadi mahasiswa tingkat akut dengan 14 semester mendapat pandangan buruk, aib, bagi orang lain, tapi setidaknya Era berharap orang tuanya tidak berpikiran seperti itu. Era berharap orang tuanya mengerti dan menganggapnya kemoloran Era sebagai kesempatan buat Era agar dia bisa belajar lebih baik dan berorganisasi dengan baik. Era terlalu sibuk mengurus organisasi yang ia geluti sehingga ia menjadi wisudawati terakhir dari teman seangkatannya. Tapi dia yakin itu memberinya banyak softskill yang tidak bisa ia dapatkan di kuliah. Selain itu, jurusan ini bukanlah pilihannya, melainkan pilihan papanya.
Tapi Era tetap berterima kasih pada papanya yang menyelipkan coretan, baginya coretan itu tetap coretan emas. Ayahnya mungkin cemas Era tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik, sehingga beliau menyisipkan coretan itu. Tapi bagi Era coretan ini anugrah dan tanda perhatians erta kasih sayang papanya. Apabila dia hanya memikirkan sisi gelap, dia tidak akan bisa melihat sisi putih namun sebaliknya apabila dia melihat sisi putih terlebih dahulu dia pasti bisa menemukan sisi gelap.
Maaf papa memberi kamu pelajaran dengan cara seperti ini. Kamu akan mengalami yang lebih ketika kamu bekerja dan melibihi deadlinemu. Sebentar lagi kamu memasuki dunia yang lebih kejam, papa takut kamu akan mendapat banyak masalah. Terima kasih nak, sudah menyelesaikan kuliah dengan baik.
Pesan singkat dari papanya, membuat Era tidak bisa menahan lagi air matanya. Era menangis dan Gio coba menenangkannya. Sesuatu yang lebih buruk terjadi, tiba-tiba papa Era mengalami kejang.
“Oh, Prof Jun..Prof Jun..”, teriak Pak Kris dengan histeris. Semua yang ada disana kaget dan mencoba menolong Prof. Jun. Era segera berlari. Dia takut kehilangan papanya padahal dia belum mengucapkan terima kasih. Kejang papa Era berhenti demikian pula detak jantungnya. Era kehilangan malaikat penjaganya. Papanya sekarang bagaikan akar dari negatif satu yaitu, bilangan imajiner.

About the author

Admin
Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar:

Copyright © 2013 LPMM ALPHA and Blogger Themes.