Langsung ke konten utama

Pembatasan waktu, Panitia aksioma bekerja keras


Chek in peserta aksioma (doc.ririn alpha)
Minggu (30/8) BEM Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam mengadakan kegiatan Orientasi mahasiswa. Orientasi mahasiswa  Yang biasanya lebih dikenal dengan sebutan Aksioma (Aktualisasi Visi Misi dan Orientasi Mahasiswa MIPA) ini merupakan agenda rutin tahunan. Aksioma bertujuan sebagai salah satu upaya dari para senior untuk memperkenalkan lebih jauh tentang Fakultas  Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam beserta dengan kehidupan di dalamnya,  salah satunya Unit Kegiatan Mahasiswa.
Menurut M. Zulfi selaku perwakilan DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), Aksioma ini sangat penting bagi mahasiswa baru. Dengan  adanya aksioma mental mahasiswa baru dapat terlatih, karena perlu adanya transisi  dari Siswa menjadi Mahasiswa.  Aksioma juga dapat melatih ketahanan fisik para peserta.  Pendapat yang serupa juga disampaikan oleh M. Basofi selaku wakil ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)yang menyatakan dengan adanya aksioma diharapkan mampu memperkenalkan mahasiswa tentang organisasi kemahasiswaan yang ada di lingungan fakultas. Selain itu melatih mentalnya serta pendidikan karakter mahasiswa baru.
Terdapat perbedaan aksioma tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aksioma dimulai jam 06.00 namun tahun ini dimulai jam 06.45 WIB. Pergeseran waktu ini dilakukan karena pihak dekanat mendapat  SK (Surat Keputusan) dari Rektorat. SK berisi tentang larangan memulai kegiatan di kampus jam 06.00 pagi melainkan paling pagi jam 06.45 WIB. “Sejauh ini alasan dari dekanat adalah karena adanya SK dari dikti itu” tutur M. Zulfi. Selain itu karena adanya pembatasan waktu ini, juga berpengaruh terhadap konsep acara. Konsep acara menitik beratkan pada pengenalan UKM sehingga  peminat  Ukm lebih banyak. Sehingga panitia dan UKM  lebih bekerja keras untuk mengemas UKM menjadi lebih menarik.  Selain itu, diharapakan esesensi dari  adanya aksioma ini tetap sampai kepada  para peserta. []

 Report by : Indarti, Devita, Imroatus



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia