Langsung ke konten utama

Foto Pesta Makan Kucing Kembali Hebohkan Sosial Media

Foto Pesta Makan Kucing Kembali Hebohkan Sosial Media



            Foto sadis pembunuhan macan atau kucing hutan kembali beredar di dunia maya. Foto yang diunggah di akun facebook milik Pendri Satria mengundang banyak perhatian. Akun tersebut mengunggah 4 foto dengan 1 foto yang memegang kucing hutan hidup, dua foto laki-laki yang menyembelih kucing hutan, dan satu foto screenshoot laman facebook. Foto-foto tersebut diunggah pada tanggal 18 Oktober 2015 dengan note “biar kapok”.

            Setelah dikonfirmasi oleh petugas ternyata bukan Pendri Satria pelaku pembunuhan kucing hutan ini. Pendri Satria (30), pria asal Batusangkar Sumatera Barat ini mengatakan bahwa dirinya hanya ingin membagikan info mengenai orang yang ada di foto tersebut. “Itu photo saya ambil dari akun orang, dan ada saya lampiran akunnya, gak paham juga kenapa bisa ada yang gagal paham”, tulis Pendri dalam wawancara online. Pendri juga menyatakan bahwa pelaku pemburu kucing hutan tersebut adalah pemilik akun “Aghaa Kareeba sandal jepidswaloo” seperti yang ia lampirkan dalam kirimannya tersebut.
            Akun Aghaa Kareeba sandal jepidswaloo sudah dinonaktifkan saat ini, tetapi sudah banyak orang yang mengeshare hasil sceenshoot foto yang diunggah pria asal Makassar tersebut. Akibatnya masih banyak netizen yang menghujat pemilik akun Aghaa Kareeba sandal jepidswaloo dengan berbagai macam bentuk. “kejam bangatt”, komentar akun Miar Rahim. “Manusia biadab kau mas aga muda2 km ditangkap slx itu binatang dilindungi dasar manusia rakus (manusia biadab kau Mas Aga, semoga kamu ditangkap karena itu binatang dilindungi. Dasar manusia rakus. (red.))”, tulis akun Hadi Rusmiadi.
            Maraknya aksi makan kucing akhir-akhir ini memang banyak membuat masyarakat resah. Kucing hutan atau macan alas (Felis Bengalensis, bahasa latin) merupakan salah satu hewan yang dilindungi undang-undang, seperti tertuang dalam lampiran PP No. 7 Tahun 1999 dan UU No. 5 Tahun 1990. Masyarakat tentunya mengharapkan tindak lanjut dari pihak kepolisian dan lembaga perlindungan alam yang bersangkutan. “Prihatin aja, Cuma berharap ada respon dari pihak terkait!”, tulis Pendri Satria.
Tidak hanya akun facebook Pendri Satria yang menghebohkan sosial media. Kasus serupa juga terjadi di Jember. Alih-alih mengunggah foto di media sosial, berbagai kecaman keras diterima Ida (20). Mahasiswi semester 5 jurusan Matematika Universitas Jember ini mengunggah foto bersama kucing hutan yang diikat tali rafia dengan note “Hasil berburu hari ini..nyam..nyam” di akun facebooknya. Foto yang diunggah pada tanggal 12 September 2015 itu menuai beragam komentar dari netizen.  Salah satunya adalah Protection of Forest and Fauna (Pro Fauna) yang berkomentar melalui akun resminya bahwa kucing hutan tersebut dilindungi oleh Undang-Undang dan apabila diburu atau diperdagangkan maka pelakunya bisa dijerat ancaman hukuman 5 tahun penjara.
            Ida sempat dikabarkan menghilang, namun pada tanggal 18 Oktober 2015 dikabarkan telah dibawa oleh pihak kepolisian ke kantor Polres Jember untuk dimintai keterangan. Ida dijemput ke kampus FMIPA Unej dan diamankan saat berada di indekosnya, Jl. Manggar 60, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. “Ada laporan dari Resmob, yang jelas ada 4 orang datang kesini”, ungkap Pembantu Dekan III FMIPA, Nurul Priyantari kepada salah satu media online. Malam harinya Ida sudah bisa pulang dan statusnya bukan tersangka, melainkan terperiksa.
Ida mengaku kucing-kucing tersebut bukan hasil buruannya melainkan hasil pemberian saudaranya. “Sebenarnya itu ada 3 ekor (kucing hutan), tapi bukan hasil buruan. Saya hanya dikasih saudara saya namanya Mas Dwi. Tapi Mas Dwi sendiri mengaku itu beli dari temannya,” ungkap Ida (dikutip dari newsdetik.com). Dari hasil ini, pihak kepolisian mengambil langkah melakukan pencarian bukti tambahan di Lumajang (tempat kejadian).

Sampai berita ini diturunkan, belum ada titik terang mengenai kejelasan kasus Ida. Pihak kepolisian masih mencari bukti tambahan melalui koordianasi dengan pihak BKSDA dan Polres Lumajang.  Sementara status Ida masih sebagai terperiksa. []
Report by: Zainul Anwar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia