Langsung ke konten utama

KPUM FMIPA Adakan Pemilu Raya


Oleh : Jihan Febryan D



Pemilihan umum (Pemilu) ketua dan wakil ketua BEM FMIPA dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2019 yang bertempat di gazebo matematika. Pemilu dilaksanakan oleh panitia Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM). Pemilihan umum (Pemilu) merupakan salah satu wujud demokrasi di wilayah kampus. Pemilu ini dilaksanakan setiap tahun untuk memilih ketua dan wakil ketua BEM FMIPA periode selanjutnya. Terdapat dua pasangan calon (paslon) yang mencalonkan diri sebagai ketua dan wakil ketua BEM FMIPA, paslon nomor urut 1 yaitu Riyan Hidayat (Fisika) dan Rio Pradani Putra (Matematika) dan paslon nomor urut 2 yaitu Ryan Andersen Jaya Sentosa (Fisika ) dan Beny Andika (Biologi). Pemungutan suara dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB – 15.00 WIB.
Antusiasme warga FMIPA untuk memilih ketua umum dan wakil ketua umum BEM FMIPA terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang datang dan ikut berpartisipasi menyumbangkan hak suaranya untuk FMIPA yang lebih baik kedepannya. Pada pukul 1 siang sudah lebih dari 60 persen surat suara yang terpakai.
Muhammad Luqmanul Hakim ketua panitia KPUM menuturkan bahwa persiapan untuk pemilu hanya berlangsung selama satu minggu. Publikasi lewat pamflet hanya di share via media sosial, selain itu publikasi dilakukan terlalu mepet dengan pelaksanaan kegiatan. Untungnya dengan kekurangan publikasi, mahasiswa FMIPA tetap antuias mengikuti pemilu. Lutfiah salah satu mahasiswa FMIPA mengatakan “menurut saya persiapannya sudah cukup bagus,saya juga tau jadwal kegiatan pemilu ini dari media sosial. Menurut saya juga antusiasme warga FMIPA juga sudah lumayan, namun tetap saja ada mahasiswa yang tidak mau ikut menyumbangkan suaranya padahal memilih tidak butuh waktu yang lama”.
Perhitungan jumlah suara dilakukan pukul 15.30 WIB. Hasil perhitungan suara menunjukkan pasangan calon ke 2  Ryan Andersen J.s dan Beny Andika yang memperoleh suara terbanyak dan terpilih menjadi ketua dan wakil ketua BEM FMIPA periode 2020 dengan perolehan suara 304, sedangakan pasangan calon pertama mendapatkan jumlah suara 225 dari total jumlah suara 544 dengan 15 suara tidak sah. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

BUTA AKSARA di JEMBER

Ada tiga hal yang selalu didegungkan pemerintah terkait pembangunan pendidikan di Indonesia, yakni wajib belajar pendidikan dasar, rehabilitasi sekolah dan pemberantasan buta aksara. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil  mengatasinya ketiganya, termasuk salah satunya Buta Aksara. Penyadang buta aksara di Indonesia  masih tergolong besar. Kriteria penyandang buta aksara yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia. Menurut pemerintah  kesuliatan terbesar dalam pemberantasan buta aksara adalah karena tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. a.    Buta aksara di jember Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai adalah urutan peringkat dari provinsi yang memiliki penyadang buta akasara terbesar di Indone

LEMAHNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Jihan Febryan Damayanti Generasi muda merupakan harapan negara. Namun, di era globalisasi saat ini masyarakat telah menggunakan cara berfikir yang cenderung meninggalakan budaya ketimuran dan lebih mengacu dengan budadaya barat yang cenderung bebas. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara. Dengan mutu pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten di bidangnya. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki ilmu sosial yang tinggi.      Pendidikan di indonesia kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru menteri pendidikan dan kebudayaan mengenai sistem pendidikan dan kebudayaan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan di indonesia sangatlah buruk. The learning gurve pearson 2014, sebuah lembaga peningkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa indonesia