Langsung ke konten utama

Mari Kita Balas Menggempur Negeri Panda

Siang itu begitu terik, entah mengapa hari yang panas itu terasa semakin gerah, karena gempuran pohon-pohon beton barangkali. Memang begitulah suasana siang hari di kota Surabaya, panas menyengat. Namun, tak lama hati saya yang menjadi jauh lebih panas, minuman yang saya teguk pun terasa panas. Betapa tidak, ternyata semua barang-barang di sekitar yang terpajang adalah produk China, tak ada produk dalam negeri, bahkan kemoceng sekalipun. Lalu kemanakah bangsa ini?
Indonesia sudah tak pernah aman lagi dari produk asing, apalagi China yang kini menjadi naga Asia. Sejauh mata memandang, entah di mana kita berada, pasti berbagai produk Negeri Panda terjaja di sana. Itu yang saya rasakan beberapa minggu belakangan ini, mulai dari berbagai pasar tradisonal sampai berbagai supermarket di berbagai kota seperti Gresik, Surabaya, dan Jember, produk China terus merajai. Setiap jengkal langkah kita pasti dihiasi oleh beragam produk China dari yang paling sederhana sampai barang mewah dan canggih sekalipun.
Pemandangan tersebut harus kita paksa untuk menjadi semakin familiar di mata kita bila tetap tak ada tindakan nyata. China yang telah sejak lama menguasai sebagian besar pasar impor Indonesia kini dapat semakin merajalela untuk menjajah pasar kita sejak diberlakukannya ASEAN-China Free Trade Area (AC-FTA) terhitung awal Januari lalu. Seperti yang diungkapkan Suparto salah seorang pedagang di Terminal Surabaya, ”Sudah gak ada lagi produk dalam negeri mas, banyaknya yang made in China, lha wong harganya murah. Kalo masyarakat mana tau, yang penting murah itu yang dibeli”
Bombardir produk China tak terelakkan lagi akan melumpuhkan berbagai Usaha Kecil Menengah (selanjutnya disingkat UKM) di berbagai daerah, terutama industri manufaktur. Industri ini meliputi industri tekstil, garmen, dan alas kaki yang dikenal sebagai sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak. Dengan gempuran produk China yang cenderung lebih murah, hal itu dikhawatirkan justru mematikan produk lokal. Biaya produksi di Indonesia juga tergolong tinggi, sehingga harga pasar menjadi lebih tinggi dibandingkan harga produk China.
Namun masalah utama yang harus segera kita sikapi sekarang, adalah bagaimana kita dapat bersaing dengan negara-negara lain agar tidak tertindas dan mati. Kita sebaiknya bisa belajar dari kesuksesan China mengembangkan dunia usaha dan industrinya. Hal ini jauh lebih baik ketimbang hanya menggerutu melihat produk-produk China yang membanjiri pasar dalam negeri. Salah satu caranya adalah pemberdayaan UKM seperti yang pemerintah China lakukan dalam bisnis swasta daerah yang disebut sebagai Township and Village Enterprises (TVEs) dalam menopang kekuatan ekspornya.
Jumlah UKM mencakup 99% dari total seluruh industri di Indonesia dan menyerap sekitar 56% dari jumlah total seluruh pekerja Indonesia (Rochman, 2005). Untuk itu sangat perlu kita lihat upaya apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah China untuk memajukan industri swasta khususnya UKM, mengingat UKM kita juga sebenarnya punya kemampuan. Hal ini terbukti pada saat krisis moneter justru sektor UKM yang mampu bertahan. Namun sayangnya keberadaan UKM seringkali masih dipandang sebelah mata.
Selain itu, Indonesia mengalami masalah dalam budaya berwirausaha. Kita seringkali malas dan takut mengambil resiko untuk berjuang dari nol apabila menjadi pengusaha. Masyarakat kita juga pada umumnya menaruh simpati yang lebih besar pada profesi-profesi yang secara praktis terlihat ekslusif, seperti dokter, akuntan, dan pengacara dibanding dengan wirausaha. Keadaan ini lebih diperburuk dengan sistem pendidikan kita yang cenderung mengabaikan pelajaran tentang kewirausahaan dan kepemimpinan. Hal ini sangat berkebalikan dengan budaya wirausaha yang sangat kental dari penduduk China.
Yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan rasa cinta Indonesia. Program cinta produk dalam negeri yang pernah digalakkan pemerintah beberapa tahun belakangan kerap terasa mati suri, sebuah program yang hanya ada di atas kertas tanpa adanya penerapan nyata yang berkesinambungan. Masyarakat Indonesia yang kerap merasa bahwa produk asing jauh lebih mewah tentunya akan me-nomor sekiankan produk lokal. Selain rasa mewah yang ditawarkan, produk asing, terutama produk China jauh lebih beragam daripada produk sendiri, bahkan dengan kualitas yang bersaing dan harga yang sangat ringan. Karena itulah diperlukan suatu usaha agar kecintaan dan kebanggaan terhadap produk dalam negeri semakin meningkat.
Tentunya berawal dari semangat nasionalisme yang tinggi dari kita untuk mendukung UKM dan tetap membeli produk dalam negeri, serta diamini oleh pemerintah, diantaranya dengan penerapan berbagai kebijakan dan bantuan terhadap UKM. Mulai dengan realisasi program “Aku Cinta Produk dalam Negeri” sampai bantuan di bidang teknologi dan metode yang efisien, mengingat UKM kita jauh tertinggal dari pesaingnya di luar negeri. Untuk itu kiranya para peneliti mau turun dari menara gading untuk mau membantu penelitian industri-industri di Indonesia. Sudah saatnya penelitian yang dilakukan bisa lebih membumi sehingga dapat juga dinikmati oleh industri-industri kecil dan menengah.
Sudah tidak saatnya kita hanya berpangku tangan dan bangga menjadi konsumen. Kita tak boleh hanya membeli dan menjadi budak yang bahkan tak kita sadari. Bukankah menjadi produsen jauh lebih membanggakan dan bernilai daripada hanya menjadi penonton. Bersama kita hadapi jaman dan tinju kesombongsan dalam diri kita. Mari berbenah dan balas hantam Negara pengekspor dengan produk-produk kita yang berkualitas. [Hendra Setiawan]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan

Jawaban Rektor UNEJ Terkait Pelantikan Dekan Oleh: Nurul Mahmuda K egaduhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F MIPA ) terkait pelantikan dekan baru periode 2016-2020 sudah tercium sejak akhir 2015. Isu mengenai Rektor Universitas Jember (UNEJ) yang tidak melantik dekan dengan perolehan suara tertinggi menjadi fakta yang harus diterima oleh warga FMIPA. Kamis (14/01) bertempat di Gedung Rektorat Universitas Jember, pelantikan Dekan baru FMIPA telah dilangsungkan. Berdasarkan hasil pemberian pertimbangan oleh senat fakultas yang berupa pemungutan suara menyebutkan bahwa perolehan suara tertinggi adalah Dr. Kahar Muzakhar, S.Si., namun dekan FMIPA yang dilantik yaitu Drs . Sujito , Ph.D . yang memiliki selisih tiga suara. Hal ini menuai protes dari beberapa lini di FMIPA. Beberapa Senat fakultas, dosen, mahasiswa maupun karyawan memprotes dan menyayangkan mengenai kejadian ini. Seperti halnya Itok Dwi, mahasiswa kimia 2012, menganggap bahwa pemu

Fakultas MIPA selalu sediakan buka Puasa gratis dalam setiap tahunnya

Oleh : Vina Soraya               Marhaban ya Ramadhan, Umat muslim di seluruh dunia tentunya telah menanti datangnya bulan suci ini. Bulan Ramadhan bulan penuh rahmat dan ampunan Allah SWT. Selama bulan suci Ramadhan seluruh umat islam diwajibkan berpuasa penuh selama satu bulan. Tentunya seluruh orang muslim akan berlomba – lomba untuk berbuat kebaikan dalam bulan suci ini. Banyak kegiatan yang bernilai pahala pada saat bulan ini. Salah satu bentuk berbuat kebaikan dalam bulan puasa ini yaitu memberi makan orang yang berpuasa. Memberi makan orang yang berpuasa maka mendapat ganjaran pahala yang setara dengan orang yang sedang berpuasa.             Agenda buka puasa gratis tentunya selalu menjadi agenda tahunan pada setiap masjid – masjid pada saat bulan Ramadhan tak terkecuali Masjid Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember. Agenda buka puasa gratis ini telah dilaksanakan rutin setiap tahunnya. Pada Ramadhan tahun ini buka puasa gratis dilaksanakan sejak tanggal 8-17

Manajemen Redaksi

Salam Persma..... Perlu diketahui bahwa....berjalannya suatu lembaga pers ternyata tak hanya menga cu pada proses redaksi , yang dim ulai dari proses hunting sampai printing saja. Sebagai sebuah organisasi, lembaga pers juga mem erlukan pe n gaturan manajemen secara umum. Manajemen redaksi pers mahasiswa sendiri adalah : keseluruhan dari proses pengaturan sumber daya dalam melakukan kinerja penerbitan (menyangkut  bidang tulis-menulis) ataupun pola pengaturan  dari kinerja redaksi  yang terdapat dalam lingkup aktivitas pers mahasiswa. Lembaga pers biasanya di pimpin oleh pimpinan umum ( General Manager ). Dibawahnya terdapat pemimpin redaksi (manajer  redaksi ) dan pemimpin usaha atau koordinator dana usaha ( marketing manajer ).  Kedua bidang ini, memiliki job descriptions yang berbeda dan terpisah. Tapi keduanya saling mempengaruhi  dan saling mengisi. Redaksi dapat dianggap sebagai ”jantung” dari lembaga pers manapun, s edangkan dana usaha atau marketing ,   seba